Tanpa Pancasila, negara akan bubar. Pancasila adalah seperangkat asas dan ia akan ada selamanya. Ia adalah gagasan tentang negara yang harus kita miliki dan kita perjuangkan. Dan Pancasila ini akan saya perjuangkan dengan nyawa saya (Gus Dur)
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Januari 2013

Membebaskan pendidikan untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang cerdas

Tanpa sengaja saya pernah nulis judul pada blog pribadi saya Mencari Indonesia, misi saya dalam blog ini adalah mengalahkan pamor Gus Dur dan Franz Magnis-Suseno yang menurut saya sudah keterlaluan pandainya dalam menulis, minimal bisa mengimbangi mereka dan blog ini jadi ajang latihan dengan target sehari satu judul tulisan. Semoga.

Salah satu judul dalam blog tersebut adalah "Membangun kembali peran negara melalui pendidikan" saya tulis juga sebagai bentuk dukungan terhadap keputusan MK membubarkan RSBI/SBI. Tanpa sengaja memang saya tulis judulnya, maksudnya tanpa saya berpikir dulu sebelumnya. Barusan saja saya berpikir tentang judul tersebut "membangun kembali peran negara melalui pendidikan".

Membangun kembali peran negara, kembali, berarti sekali lagi, yaitu membenahi kembali peran negara yang pernah ada. Peran negara adalah keharusan untuk menciptakan keamanan dan ketertiban masyarakat. Dikatakan "kembali" dalam "membangun kembali" yang sepertinya (dan memang) peran negara yang pernah ada ini hilang atau hancur.

Bagaimana bisa? Tentu, meninjau kembali pelaksanaan liberalisme-kapitalist yang mempersyaratkan kecilnya peran negara dan sebesar-besarnya peran pasar. Kapitalisme menganggap peran negara sebagai rintangan bagi kelanggengan sistem, maka peran negara harus dihabisi, dimana negara melaksanakan demokrasinya hanya sebatas pada kehidupan politik, diluar politik adalah kehidupan yang menjadi hak dan tanggung jawab masing-masing individu. Terdapat ciri dan peluang individualist disini.

Peran negara habis, pun juga kewibawaan negara tergerus oleh pasar dimana masyarakat menggantungkan hidupnya pada pasar dengan kata lain ada atau tidak negara bukanlah suatu persoalan, tidak berpengaruh apapun terhadap masyarakat.

Kehadiran investor asing sangat diharapkan ketika negara hendak menyelenggarakan pembangunan, pembangunan disegala bidang yang sebenarnya diharapkan tidak berjalan, orientasinya hanya pada pembangunan fisik, non mental. Yang terjadi kemudian adalah untuk menarik investor asing diupayakan penyediaan tenaga kerja murah, memang sangat sulit untuk menyediakan tenaga kerja murah dan tentunya tenaga kerja yang tidak banyak memiliki tuntutan.

Tenaga kerja murah tadi dapat dibentuk dari penumpukkan tenaga kerja yang tidak tertampung di dunia kerja, pengangguran, munculnya pengangguran ini sendiri adalah dari kejadian "over load" yang pada akhirnya mematikan potensi masyarakat untuk mengisi kebutuhan penyediaan tenaga kerja murah tadi.

Pengangguran meningkat bisa terjadi dengan beberapa sebab, disini saya kemukakan dua sebab, yang pertama adalah sebagaimana telah dijelaskan diatas yaitu menciptakan tenaga ahli dengan jumlah besar sedang kesempatan kerja sangat sempit. Bisa juga dengan penciptaan tenaga tanpa keahlian, misalnya saja hanya modal ijazah tanpa keterampilan. Dan tentunya semua itu harus membidik sektor pendidikan.

Pendidikan memiliki peran cukup penting dalam pembangunan, sekolah adalah wadah perubahan. Bagaimanapun sekolah adalah tempatnya manusia untuk berubah, dari tidak bisa menjadi bisa dan dari tidak tahu menjadi tahu. Berubah.

Nah, dari pentingnya pendidikan inilah yang sebenarnya juga menempatkan sekolah maupun perguruan tinggi sebagai benteng dari proses dehumanisasi, sepanjang pelaksanaannya malah sering menciptakan robot-robot yang harus siap dioperasikan. Saya kata robot sebagai gambaran keterasingan manusia.

Tidak cukup hanya sampai disitu, dengan diperkecilnya peran negara dan peran pasar yang semakin besar, pun ternyata juga telah menjebak pendidikan kedalam pasar. Dimana warga negara hanya dipandang sekedar sebagai konsumen, bahkan kalaupun MK tidak segera membubarkan RSBI/SBI yang nyata-nyata hanya sekedar sebagai "brand image" untuk menambah nilai jual yang pada akhirnya juga tidak terbeli oleh masyarakat yang sampai kini masih dianggap sekedar sebagai konsumen.

Berlakunya hal-hal sedemikian itu pada dasarnya juga turut menghabisi peran negara dengan keikut sertaan pendidikan dalam membentuk suatu masyarakat yang berdasarkan kelas. Padahal berdirinya negara ini adalah tindak lanjut dari kesepakatan masyarakat untuk hidup menjadi satu bangsa. Negara bangsa.

Negara bangsa tentunya bukan suatu masyarakat yang terdiri atas kelas sosial, tapi mewujud pada kesederajatan. Ya semoga saja tulisan saya ini hanyalah suatu prasangka yang berlebihan, semoga, kalaupun bukan, ya semoga pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat dapat segera membenahinya. Kita membutuhkan pendidikan yang memanusiakan manusia dimana pendidikan mampu menyadarkan-memperkenalkan kemanusiaan kepada manusia untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang cerdas dan bermartabat. Semoga.

Jumat, 29 Juni 2012

motivasi dari tembang "lir-ilir"

Sambil ngopi menikmati damainya pagi saya nyetel lagu "lir-ilir" versinya Cak Ainun Nadjib yang dicampur aduk sama shalawat badar, tentu banyak yang telah mendengar lagu ini dan tidak sedikit yang hafal dengan lirik lagu yang konon diciptakan oleh Sunan Kalijogo, salah satu dari Wali Songo-penyebar agama Islam di Pulau Jawa.

Dapatlah saya bayangkan bagaimana situasi saat pertama sekali lagu ini diperkenalkan kepada masyarakat yang masih memegang teguh adat-tradisinya. Sejenak memang seperti sebuah ajakan untuk berkumpul dalam suatu pertemuan-lebih dari itu saya membayangkan adanya sekumpulan masyarakat dengan diskusi-diskusi yang tidak dibatasi oleh status sosial (bolehlah saya mereka-reka gambaran sejarahnya). Seperti dialog punakawan dalam memecahkan persoalan yang dihadapi oleh petinggi-petinggi wayang. Sangat proletar kalau boleh saya bilang meskipun saya tidak pernah tahu menahu soal seni dan sejarah.

Tentu sebagai orang yang awam saya juga mengerti tentang adanya "isi sampaian" dalam suatu karya, termasuk juga dalam lagu "Lir-ilir" ini. Selain gambaran yang tiba-tiba memenuhi isi kepala, juga tentang misi motivasi yang saya tangkap dalam lagu tersebut. Berikut syair lagunya:

Lir ilir lir ilir tandure wis sumilir
Tak ijo royo royo
Tak sengguh panganten anyar
Cah angon cah angon penekna blimbing kuwi
Lunyu lunyu penekna kanggo mbasuh dodotira
Dodotira dodotira kumintir bedah ing pinggir
Dondomana jrumatana kanggo seba mengko sore
Mumpung padang rembulane
Mumpung jembar kalangane
Sun suraka surak hiyo

Berikut (kurang-lebih) dalam bahasa Indonesia:
Sayup-sayup bangun (dari tidur)
Pohon sudah mulai bersemi,
Demikian menghijau bagaikan gairah pengantin baru
Anak penggembala, tolong panjatkan pohon blimbing itu
walaupun licin(susah) tetap panjatlah untuk mencuci pakaian
Pakaian-pakaian yang koyak(buruk) disisihkan
Jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti sore
Mumpung terang rembulannya
Mumpung banyak waktu luang
Mari bersorak-sorak ayo…

"Lir-ilir" memberi motivasi untuk segera bangkit, yang berilmu jangan hanya jadi "petapa", jadilah teladan bagi yang lain. Yang muda bangkit mencari ilmu, kebodohan tidak akan dapat lenyap tanpa adanya aksi. Bangkit membangun diri, bangkit membenahi diri untuk membenahi bangsa. bangkit bekerja, mengabdi di jalan Allah."Lir-ilir, tandure wis sumilir" yang berarti bangkitlah, waktunya telah tiba, inilah, kinilah saatnya bangkit dan berbenah. "Tak ijo royo royo", segar menghijau seperti tanaman muda yang bersemi, diliputi semangat untuk bekerja-membangun dan berbenah. "Tak sengguh panganten anyar" seperti menyambut kehadiran pengatin baru, membangun satu keluarga/kekeluargaan (gotong royong).

"Cah angon cah angon penekno blimbing kuwi, Lunyu lunyu penekna kanggo mbasuh dodotira." Dimaksud disini adalah pemimpin. Orang yang mampu menjadi imam yang baik yang mengajarkan syari’at Islam. Dan belimbing adalah buah bersegi lima, yang merupakan simbol dari lima rukun Islam. Disamping itu, tiap-tiap orang adalah pemimpin, pemimpin bagi diri sendiri dan pemimpin bagi yang lain (terkait dengan keteladanan). "lunyu-lunyu penekna, kanggo mbasuh dodotiro", susah-sulit tuntunlah, beri keteladanan untuk senantiasa berbenah.

"Dodotira dodotira kumintir bedah ing pinggir", sisihkan sifat / tradisi / kebiasaan yang sudah tidak lagi bermanfaat, yang buruk, yang merugikan hendaklah dihilangkan, jangan terus dipelihara dan bahkan dilestarikan. "Dondomana jrumatana kanggo seba mengko sore" benahi yang sudah ada, lengkapi yang kurang, sepertinya berkaitan dengan pembenahan/pembangunan akhlak-moralitas dari tiap-tiap generasi, yang sudah ada (ditemukan) dan dianggap baik dan bermanfaat dipertahankan dan lengkapi lagi ilmu agar sempurna yang telah ada.

"Mumpung padang rembulane, Mumpung jembar kalangane, Sun suraka surak hiyo" mumpung masih ada kesempatan untuk berbenah, setiap waktu adalah saat untuk berbenah dengan senantiasa menyambut pengetahuan dengan bersuka/ hati terbuka.

Demikian yang ada dalam otak saya ketika mendengar lagu "lir-ilir", yang mungkin belum sepenuhnya sempurna, saya anggap "belum sempurna" sebab apa yang saya pikirkan ini masih juga perlu dibenahi (dilengkapi) dengan sudut pandang lain. Semoga bermanfaat. salam.

Senin, 07 Mei 2012

Islam dan Demokrasi (1)

Tulisan ini tidak mempunyai kehendak semacam gendang yang dipukul bertalu-talu. Juga tidak membuat suasana hingar bingar yang sudah diwakili masyarakat Indonesia kontemporer. Juga tidak hendak memprovokasi agar perjuangan haruslah melalui jalan kekerasan melainkan mari kita saling lempar wacana , bukan lempar handuk sembunyi badan .Hanya saja kemudian mencoba menyambung sebuah diskusi informal dengan seorang kawan tentang relevansi demokrasi dan Islam. Pertanyaan mendasar adalah kompatibelkah antara dua arus besar untuk bersatu jika keduanya mengusung kecurigaan. Bahwa dibutuhkan penerimaan yang tulus dan sungguh sungguh para pihak agar terbangun jembatan penghubung antar peradaban.
Jika peradaban dinasti yang berkuasa pasca khalifah disebut model ideal tentang negara. Maka kita akan mundur ke belakang sejak sebelum Islam diajarkan Oleh nabi Muhammad. Bahwa budaya patriarki adalah sebelum kedatangan nabi sudah ada maka peradaban yang hendak dibangun oleh kalangan pengusung daulah kedinastian bisa saja mendekati abad kegelapan. Maka ada namanya jalan tengah, mungkin model ini diterapkan oleh negara Turki saat sekarang. Sekalipun ide tentang sekularisasi meluluhlantakkan peradaban Turki pasca perang dunia kedua , saat sekarang pelan tapi pasti meminjam istilah Peter L Berger bahwa peran agama diterima selaku benar adanya.
Maka runtuhlah ide sekularisasi yang diusung oleh peradaban Eropa berikut sistem jelmaan manusia yang rakus. Imperialisme,kapitalisme,liberalisme dan matinya komunis seiring dengan semakin seksinya sosialis bertabur kue kapitalisme model Cina. Maka demokrasi tidak menyingkirkan peranan agama sama sekali bahkan berkolaborasi membangun sebuah negara bangsa semacam Indonesia. Kita temukan dalam mukadimah undang undang dasar  1945. Ideologi bangsa juga bersumber atas kehendak atau campur tangan Tuhan yang maha esa.
Dari sini kita akan temukan bahwa model negara bangsa menemukan jalannya ketika kita melihat diri sendiri sebagai sebuah bangsa Indonesia yang utuh. Kita berdiri di atas berbagai kemajemukan , bhineka tungga ika. Dan para pendiri bangsa paham betul bahwa peranan agama sangat relevan dan kompatibel dengan negara bangsa. Maka demokrasi Pancasila mengelaborasi peranan agama dalam sebuah negara bangsa Indonesia.
Tony Herdianto

Minggu, 11 Maret 2012

Sebuah Gagasan Tentang Kuasa

Kelak pada saatnya kita dihadapkan pada sebuah pilihan dikuasai atau menguasai. Kedua term sebenarnya saling bergantung dan saling berinteraksi. Keduanya bermain dalam oposisi biner, yang mana saling mempengaruhi dan dipengaruhi. Dalam kehidupan ini kita mengenal ilmu dan teknologi, keduanya ternyata sangat berguna sekali. Hebatnya lagi sejak menjadi bahan kajian maka tumbuh seiring pula sebuah institusi untuk mencetak kelas penguasa.

Maka terciptalah sekolah , apapun namanya kurikulum dan sistemnya sama. Program pendisiplinan individu dengan sistem sel. Dari sini pengetahuan tentang kuasa diproduksi,direpetisi dan digunakan sebagai alat dan komoditas oleh kelas penguasa. Maka barang siapa ingin lebur dalam kelas penguasa maka haruslah masuk sekolah.

Dalam alam pengetahuan orang awam,bahwa gagasan sekolah adalah sebagai pengentas kebodohan kemiskinan keterbelakangan keterisolasian dan ketertindasan. Maka muncul  kalimat "ora tau mangan sekolah", menunjukkan bahwa sekolah adalah sesuatu yang ajaib yang bisa mengubah nasib manusia. Bagi yang pernah mengalami masa sekolah mungkin juga berkata lain, bahwa selain mendidik maka sekolah juga gemar menghukum. Setidaknya menawarkan hal yang demikian bagi pelaku keonaran atau tidak patuh pada sistem.

Dari sini pengetahuan diolah dan dijadikan baku,bahwa di sekolah antara kelas penguasa dan yang dikuasai terjadi interaksi atau spionase. Masing-masing pihak belajar dengan strategi dan pendekatan yang berbeda guna mencapai tujuan. Terjadi sistem kompromi, maka para pihak di sekolah kemungkinan akan saling melengkapi atau menutupi suatu realita bahwa sekolah bukan lembaga yang semata memberikan pengajaran dan pendidikan melainkan juga ajang mencari bakat untuk regenerasi kelas penguasa baru.

Transformasi pengetahuan bisa berjalan searah juga spiral mengingat pengetahuan tidak hanya diolah di sekolah melainkan juga dari jejaring, baik di dunia nyata maupun maya (internet). Maka kuasa pengetahuan nampak bersifat demokratis dipermukaan. Namun apakah benar hal tersebut? apa tidak ada hidden agenda dari kelas penguasa? Jika tujuan mulia pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan masyarakat dan bangsa lantas mengapa secara global yang marak tampil adalah wajah garang korupsi dan kolusi.

Bisa jadi anggapan masyarakat selain beroleh pengetahuan maka sekolah juga menawarkan kecurangan. Manipulasi besaran angka dan nilai dianggap wajar agar tetap dalam lingkaran sistem yang sesat. Inilah yang kemudian menjadikan pengetahuan tentang kuasa hanya dimaknai sebatas manipulasi kolusi kecurangan dan korupsi. Sebab pengetahuan awal diproduksi di sebuah lembaga bernama sekolah.
Perlu dikaji ulang tentang gerakan wajib belajar 12 tahun yang sampai hari ini hanya dimaknai sebatas sekolah dari jenjang SD-SMA. Mengingat kuasa pengetahuan juga berlaku diluar tembok sekolah yang angkuh dan angker dengan segala dominasi kelas penguasa.

Tony Herdianto