Tanpa Pancasila, negara akan bubar. Pancasila adalah seperangkat asas dan ia akan ada selamanya. Ia adalah gagasan tentang negara yang harus kita miliki dan kita perjuangkan. Dan Pancasila ini akan saya perjuangkan dengan nyawa saya (Gus Dur)
Tampilkan postingan dengan label celoteh ringan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label celoteh ringan. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Mei 2012

Pemimpin belajar memimpin

Memimpin adalah seni, seni dalam mempengaruhi orang lain dan ini adalah proses. Dikata seperti itu (proses) sebab yang terutama sekali disini dan menjadi sangat penting adalah kemampuan untuk memimpin diri sendiri, selagi seseorang tidak mampu memimpin diri sendiri, tidak perlu kiranya berharap untuk memimpin orang lain.

Kecenderungan yang terjadi adalah pengabaian kepemimpinan diri sendiri dan berusaha memimpin dan mempengaruhi orang lain, hasilnya bukan memimpin tetapi memerintah  bahkan memaksa orang lain (dengan beragam cara dan sifat orang lain untuk mengikuti kehendak).

Pada dasarnya setiap orang adalah pemimpin, namun tiap orang tidak akan lepas dari orang lain, maka tiap orang juga membutuhkan kepemimpinan orang lain. Dari sini terdapat juga proses belajar, secara sederhana proses belajar adalah juga suatu proses berubah; dari tidak tahu menjadi tahu, atau dari tidak mengerti menjadi mengerti, berubah bukan? Terutama dalam hal perilaku, belajar tanpa ada perubahan tingkah laku ibarat pohon yang tiada berbuah. Percuma.

Dalam belajar seseorang juga turut mempelajari aturan, misalnya ketika belajar mengendarai sepeda motor yang tidak hanya mempelajari cara mengendalikan mesin yang mengefektifkan transportasi kita tersebut, tapi aturan berkendaranya juga. Kalau hanya sekedar mempelajari cara mengendalikan mesinnya saja, hasilnya ya babak belur di jalan raya.

Mempelajari lalu mengetahui aturan adalah kewajiban, sebagaimana yang pernah ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer "Semakin tinggi sekolah bukan berarti semakin menghabiskan makanan orang lain. Harus semakin mengenal batas" yang dapat dipahami dalam hal ini adalah semakin dalam pengetahuan seseorang maka semakin banyak pula aturan yang dia pahami, kecenderungan dalam realitas memang sering terbalik dimana semakin tinggi pendidikan seseorang malah semakin tidak mengenal batas, sebaliknya malah tambah rakus.

Demikian pentingnya proses belajar, tentunya sangat penting bagi seorang pemimpin yang sekaligus berperan sebagai panutan (teladan), akan jadi pertanyaan ketika seorang pemimpin tidak mau belajar, apa yang dapat di'panut' dari seorang pemimpin yang enggan belajar? Sebagaimana juga guru, yang katanya 'digugu dan ditiru' yang harus memiliki semangat belajar tinggi yang tidak kalah dengan anak didiknya, apa yang dapat dipelajari dari guru yang enggan belajar, bukan?

Perlu mendapat perhatian disini adalah juga tentang tiga kecerdasan yang harus dimiliki seorang pemimpin, antara lain:
Kecerdasan spiritual/ spiritual quotient (SQ), terkait kesadaran akan siapa diri. Menurut Nabi Muhammad, siapa yang mengenali dirinya maka ia pun mengenal Tuhannya. Lebih dari itu, pengetahuan keagamaan adalah sangat penting terkait pemimpin juga adalah seorang teladan bagi yang dipimpin.

kedua adalah emosional/Emotional quotient (EQ), terkait dengan perasaan memang dan penataan emosi yang nantinya diharapkan juga terdapat penguasaan dan pengendalian diri, secara sederhananya adalah kedisiplinan yang terkait dengan penempatan segala sesuatu dengan tepat dan benar, termasuk menempatkan diri dengan tepat dan benar. Benar harus digaris bawahi sebab menyangkut perilaku yang sesuai dengan aturan. Bagaimana jadinya jika kita dipimpin oleh seorang yang tidak terkendali?

Selanjutnya adalah kecerdasan intelektual (IQ), seseorang yang terasah kecerdasan intelektualnya adalah seseorang yang mampu membedakan antara yang salah dan yang benar. sekali lagi'yang benar'. Kecerdasan intelektual akan memberikan banyak pilihan bagi seseorang untuk merumuskan kebijakan (keputusan). Dan yang patut diingat, dalam kecerdasan ini, peran hati nurani sungguh cukup besar. Seorang pemimpin yang terasah kecerdasan intelektualnya juga merupakan seorang kreator bagi yang dipimpinnya, dengan begitu ia tidak akan mudah dihasut dan dijilat.

Memang tidak terdapat ciri-ciri yang dapat menunjukkan sosok pemimpin yang ideal, kembali lagi, proses belajar menjadi hal utama disini, pemimpin yang memiliki semangat belajar yang tinggi bisa jadi merupakan sosok ideal sebab pemimpin yang seperti ini akan senantiasa berbenah. Pemimpin yang senantiasa berbenah tentunya adalah sosok yang lebih mengutamakan orang-orang yang dipimpinnya; terbuka dan tidak segan mengajak orang lain untuk selalu bersiap dengan perubahan. Lebih dari itu, dalam hal pembangunan bangsa hingga saat ini adalah munculnya sosok-sosok yang mampu menjadi teladan, tentunya untuk membentuk suatu tatanan masyarakat yang baik, bukankah dari masyarakat yang baik akan muncul pemimpin yang baik? Tentu pula pembangunan semacam ini berangkat dari lingkup terkecil dalam masyarakat: keluarga, dan belajar adalah proses tanpa akhir sebagaimana sering kita dengar "menuntut ilmu adalah jihad." Salam.

Minggu, 11 Maret 2012

The passion

Entah apa yang sebenarnya terlintas dalam benak saya , namun yang pasti ada sebuah asa untuk kita semua bangkit dari keterpurukan. Berawal dari menonton suatu peristiwa atau kejadian dari televisi maupun pengamatan langsung di lapangan. Tentang suatu gairah yang timbul ketika saya menyaksikan liga Inggris ,fil Hollywood maupun film India. Disana telah direproduksi secara massal suatu budaya populer dan masyarakatnya bernikmat diri dengannya bahkan tercipta simbiosis mutualisme. Ada kehausan tersendiri terhadap budaya tontonan massa . Mungkin kita di indonesia jaman orang tua kita dulu jaman baheula adalah kegemaran menonton wayang atau kesenian ludruk maupun ketoprak.

Secara pastinya kapan budaya tontonan menjadi santapan wajib dan bersifat masal saya kurang mengetahui. Namun kegairahan itu sendiri adalah suatu panggilan , semacam kutukan agar budaya tontonan masal terus direproduksi tanpa henti. Akhirnya semua tergantung juga dengan semangat jaman juga semacam seleksi alam. Terjadi pertukaran di ruang-ruang publik , kita bangsa asia yang makanan pokok beras ternyata juga doyan menyantap hamburger pizza dan juga makanan impor lainnya. Sementara kita juga tahu bahwa sebagian dari kita juga kesulitan untuk sekedar mengganjal perut.

Mungkin juga karena dari kegairahan itu sendiri terdapat sistem otomatis untuk memproduksi suatu budaya tontonan masal. Mungkin jika sehari saja tidak diproduksi maka akan timbul gudik. Semacam penyakit yang bisa menular dan memalukan. Maka bisa siapa saja terkena semacam virus yang dinamakan kegairahan ini. Bisa juga dimaknai lain bahwa karena gairah manusia bertahan untuk terus hidup dan berkarya.

Tony Herdianto

Rabu, 07 Maret 2012

Mewah belum tentu istimewa

Memang bukan semangat saya untuk selalu berfoya-foya, tapi terkadang ada juga keinginan untuk mencoba, minimal menikmati beberapa hal mewah, semisal rokok Dji Sam Soe premium yang lebih dikenal dengan istilah 'reffil' atau 'nyruput' kopi luwak yang konon katanya punya kelas tersendiri di Eropa sana~jangankan di Eropa, di tanah air saja seakan jadi minuman khas para raja dengan harga yang seperti itu.

Meskipun pikiran saya memberontak dengan gagasan "tidak hanya para raja saja yang dapat menikmati keistimewaan dalam alam demokrasi" tapi kenyataan toh punya cerita lain, dan saya harus bersepakat dengan kenyataan. Jelata dalam sejarahnya selalu saja berada dalam bentuknya yang susah tanpa keistimewaan.

Kopi luwak per 100 gramnya bisa didapat dengan ongkos dua ratus ribu, sedang untuk Dji Sam Soe 'reffil' dengan harga sekitaran tiga belas ribu perbungkus, hal semacam ini sudah terlanjur mewah buat orang seperti saya yang biasanya juga menikmati segalanya dengan 'ala kadarnya'. Toh saya pun harus selalu berusaha menjadi orang yang beriman, saya dapati dari buku "Ikhlas Tanpa Batas" terbitan Zaman bahwasannya iman itu terdiri dari "separonya itu sabar dan separo yang lain adalah syukur".

Beruntung atau mungkin kebetulan saya dapat menikmati keduanya secara bersamaan, jadi semacam obat rindu untuk menikmati kemewahan ditengah kesempatan yang semakin sempit ini. Bahagia juga rasanya, sembari berharap dalam hati semoga kelak dapat terulang kembali hal yang sedemikian.

Ceritanya begini, karena kadung pinginnya menikmati hidup saya beli saja rokok Dji Sam Soe premium dengan sedikit uang honor bulan ketiga ditahun 2012 ini, ya sepulang kerja saya langsung menuju kios rokok dengan harapan yang berlebih untuk segera menikmati, setelah itu saya langsung pulang, waktu itu lagi "nggak pingin yang lain" hanya ingin bersantai di rumah dengan menghisap 'reffil'.

Belum sempat membuka bungkusnya sudah ditawari satu sasetan kopi bubuk oleh adik saya, bungkusnya dari kertas karton bergambar biji kopi dan seekor "luwak!", terkejut juga hati ini mendapatinya, terbayang pula sedap aromanya.

Sambil nunggu air mendidih saya sulut sebatang sam soe reffil, khas sensasinya meruang dalam sanubari para penikmat kretek seperti saya. Berselang kemudian setelah saya racik kopi luwak, saya duduk menyendiri di kamar, sedikit mencicipi kopi luwak yang sebelumnya 'menggeber' aroma khas dari cangkir saya. Nikmat, serasa menghadirkan surga kedalam kamar saya, inilah raja sehari pikir saya.

Ada keinginan untuk coba menikmati secara bersamaan, tidak akan saya sia-siakan hak istimewa yang kali ini saya dapatkan, hisap sam soe reffilnya bersambung dengan 'nyruput' kopi luwak. Rusak, sensasi kretek sekaligus aroma kopi hilang, tidak ada yang istimewa jadinya. Lewat begitu saja.

Saya coba lagi, tetap saja tidak ada yang istimewa. Selanjutnya saya pikir lebih baik dilakukan dengan cara bergantian, sensasi kenikmatan juga belum kembali, tetap sama, tidak ada yang istimewa.

Sadar saya seketika, percobaan pesta demokrasi telah menemui kegagalan dalam diri saya, sensasi kenikmatan kretek yang diwakili sam soe reffil dengan sensasi kenikmatan kopi luwak saling bertabrakan, tidak ada kesepakatan, masing-masing pihak berusaha untuk mendominasi tanpa ada rasa gotong royong dan asas musyawarah mufakat. Pun saya pikir memang~jika kembali pada keseharusan, demokrasi itu dibangun dengan kegotong royongan, bukan dengan upaya saling mendominasi dan saling jegal, jika itu terjadi maka rusaklah bangunan demokrasi itu.

Demikian dari pengalaman menikmati sensasi rokok kretek dan kopi luwak saya temukan bahwasannya segala yang mewah itu belum tentu istimewa, bisa jadi malah merusak nikmat keistimewaan itu sendiri. Salam.

Selasa, 06 Maret 2012

Refleksi pendidikan dari film Jepang

Sekali waktu saya pernah nonton film Jepang berjudul Crow Zero, saya tidak begitu paham dan hafal betul dengan aktor-aktor nya, disamping tidak pernah mengikuti perkembangan dunia perfilman, juga lantaran bukan hobi saya untuk nonton film, jadi wajar saja jika saya kurang mengerti tentang artis-artisnya, toh artis dan selebritis tanah air pun saya juga kurang mengenal.

Yang menarik dalam film ini adalah gambaran fantasi dari pemilik ide cerita~yang entah siapa, kabarnya dari sebuah komik seri, digambarkan suatu lingkup pergaulan pelajar yang serba bebas. Absurd memang (namanya juga film), sekolah yang prestasi siswanya ditentukan oleh kuatnya pukulan untuk usahanya masing-masing dalam menguasai lingkungan pergaulannya. Maka sering terjadi perkelahian dalam lingkungan sekolah tersebut.

Cerita berawal dari kehadiran seorang pelajar bernama Takiya Genji di sekolah Suzuran, anak seorang yakuza yang tertantang untuk menggantikan posisi ayahnya dalam organisasi dengan menaklukkan Suzuran sebagai sekolah 'keras'. Untuk melakukan penaklukkan tersebut, pelajar inipun harus menghadapi tantangan yang cukup berat, yaitu mengalahkan satu persatu penguasa di Suzuran dan yang pertama harus ia kuasai adalah kelasnya yang baru.

Berhasil dengan penguasaan kelasnya dengan mengalahkan pemimpin kelas yang dalam film ini adalah bernama Chuta, pelajar Genji pun mulai melakukan intrik dan diplomasi terhadap kelas yang lain, termasuk mencoba merekrut adik-adik kelasnya baik yang kelas satu maupun kelas dua.

Diplomasi awal berhasil dengan memulai persahabatan dengan pemimpin kelas 'C' yaitu Makise, tapi dengan kelas berikutnya, kelas 'D' pelajar Genji menemui kesulitan yang cukup berarti, pelajar Genji harus mati-matian dikroyok anak kelas 'D' hingga babak belur dan pingsan. Oleh kejadian ini, Izaki sebagai pemimpin kelas 'D' mulai menaruh simpati terhadap kegigihan Genji yang pada akhirnya mereka berdamai dan membentuk suatu koalisi berandal sekolahan yang mereka sebut "GPS".

Kehadiran kelompok "GPS" yang dimotori tiga raja kecil: Izaki, Makise dan Chuta yang berada dibawah kepemimpinan Genji cukup menarik perhatian 'sang raja sekolah' Serizawa bersama rekan-rekannya, Serizawa sendiri diceritakan memimpin kelas 'A' bersama Tokio, Tokaji dan Tsutsumoto, semuanya jago kelahi. Sedang kelas 'B' yang dikuasai Mikami bersaudara berhasil takluk dengan satu pukulan oleh Serizawa diawal cerita.

Terjadilah persaingan antar kedua kelompok ini, saling serang, berintrik dan mendominasi lingkungan Suzuran. Ya, hegemoni untuk merekrut pengikut dari kelas lain juga merupakan medan tempur yang hebat. Dan akhir dari persaingan ini adalah sebuah pertarungan yang dimenangkan oleh kelompok Genji.

Pada bagian kedua film ini tantangan lebih berat lagi, meskipun pada akhirnya kelompok Genji dan Serizawa berdamai tapi mereka harus menghadapi kekuatan dari luar lingkungan mereka. Tersebutlah Housen, sekolah yang juga diisi oleh berandalan yang suka berkelahi, bedanya jika di Suzuran adalah perkelahian jalanan sedangkan di Housen berisi pelajar yang gemar olah raga beladiri yang juga identik dengan kepala 'plontos' semacam kelompok 'skin-head' di Inggris tahun 70-an. 'Skin head' inipun sering dikabarkan suka berkelahi meskipun tidak terdapat dalam film ini.

Sesaat saya berpikir "apa ada sekolah macam itu di Jepang sana?" dan langsung saja saya jawab sendiri "bagaimana mungkin ada yang seperti itu?!", meskipun Jepang yang terkenal kejamnya saat datang ke tanah air, toh mereka juga masih punya 'unggah-ungguh' dan sangat disiplin dalam membangun pendidikan. Tidak akan mungkin ada sekolah semacam itu, saya yakin pemerintahan disana akan cepat tanggap hingga tidak muncul gejala-gejala yang mengarah kesana.

Sedang di tanah air, saya pikir mungkin saja. "Bagaimana bisa?", tentunya dengan terus memisahkan pelajar dari kesadarannya sebagai manusia, mengasingkan pelajar dari dirinya sebagai seorang manusia. Maka terbentuklah mental individualis pelajar hingga kesadarannya jatuh pada titik terendah yang menyamakan dirinya dengan hewan, bersaing dengan kekuatan otot tanpa kreatifitas untuk membangun lingkungannya secara sehat.

Tentang keadaan sekolah yang digambarkan dalam film inipun bisa saja muncul di tanah air, ketika guru membatasi perannya hanya sebagai seorang pengajar tidak lagi sekaligus sebagai seorang pendidik, sedangkan pendidikan berkarakter yang sedang gencar didengungkan hingga sampai saat ini hanya menjadi semacam 'kandang singa'~garang di dalam tapi tidak bertaji di luar. Dalam keadaan seperti ini sangat memungkinkan pelajar-pelajar Genji terlahir di Indonesia.



Awalnya mereka takut karena ada ancaman peraturan-peraturan yang terbatas, selanjutnya mereka sudah tidak lagi peduli dengan peraturan tersebut sebab merasa tidak ada pengaruh sama sekali terhadap dirinya. Sama halnya dengan pengendara kendaraan bermotor (yang nakal) dijalanan yang hanya mau tertib jika ada yang mengawasi: polisi. Hal demikian memungkinkan juga untuk memunculkan mentalitas penjilat bukan?.



Tidak ada salahnya Indonesia bercermin dari film negeri seberang ini, meskipun kirannya tidak akan lulus sensor jika ingin ditayangkan. Dan mendidik untuk membentuk karakter adalah sepenuhnya dengan membangun kesadaran, bukan semata dengan ancaman~telah kita sepakati dengan 'diam' bahwa ancaman adalah salah satu bentuk kekerasan dan mendidik dengan 'kekerasan' tidak akan berbuah apa kecuali 'kekerasan' pula.

Minggu, 11 Desember 2011

Celoteh ringan II (Pandawa-Pancasila)

Dalam saya mengikuti-membaca kisah Mahabarata saya mencoba merangkum perwatakan/sifat yang dimiliki oleh tokoh-tokoh yang terlibat didalamnya. Dan memang akan terkesan mengherankan jika membaca judul tulisan ini, tentunya bagi para pecinta 'wayang' yang sangat mungkin didalamnya adalah para dalang, tapi inilah yang jadi pertanyaan bagi saya sendiri: dalam perkara apa sifat/watak para Pandawa dikaitkan dengan sila-sila Pancasila? Mungkin pula hal ini akan memunculkan protes, inilah tulisan yang sekiranya hanya mengajak berdialog mencari lagi setapak budaya sekedar berpartisipasi dalam 'nation character building'.

Kita mengenal tokoh-tokoh Pandawa dalam kisah Mahabarata, Pandawa lima, diceritakan sebagai lima bersaudara putra Pandu yang memiliki sifat dan kelebihan masing-masing disamping kehadiran mereka sebagai ksatria, lalu apa hubungannya dengan sila-sila Pancasila? Bukan lantaran konsep 'tuk gala gathuk' saya kemukakan padangan ini, tapi pada dasarnya saya menangkap keunikan (atau mungkin karena ketidak tahuan?). Untuk kurang dan lebihnya saya mohon maaf.
Pandawa dalam versi India diceritakan memiliki istri tunggal, Dewi Drupadi, dan dalam versi Jawa tidak dikisahkan demikian, dalam versi Jawa para Pandawa memiliki istri (garwa) masing-masing, misalnya tokoh Bima yang beristri Dewi Arimbi, ketertarikan Bima pada Dewi Arimbi semata pada keluhuran dan keagungan Sang Dyah Ayu. Demikianlah sedikit simbolisasi perwatakan dalam kisah pewayangan yang memang penuh dengan simbolisasi karakteristik manusia.

Yudistira, tokoh protagonis yang digambarkan sebagai sosok yang bijaksana, merupakan saudara pandawa yang tertua. Dibandingkan dengan keempat saudaranya yang lain, Yudistira tampak paling lemah, dengan 'kanuragan' yang biasa-biasa saja, suatu hal yang memunculkan pendapat bahwa kepemimpinan yang dipegangnya juga akan lemah, lebih banyak berpikir daripada bertindak; lambat mengambil keputusan dan tidak tegas. Sebaliknya, diceritakan bahwa dibawah kepemimpinan Yudistira inilah pihak Pandawa dapat mengatasi segala permasalahan yang dihadapi, termasuk dalam perseteruan dengan Kurawa.
Sifat Yudistira tercermin dalam julukannya seperti 'Ajatasatru' yang berarti tidak memiliki musuh; 'Gunatalikrama' pandai bertutur bahasa; 'Samiaji' atau menghormati orang lain seperti diri sendiri dan Yudistira sendiri berarti pandai memerangi nafsu pribadi. Yudistira banyak meluangkan waktu untuk 'semedi', berkontemplasi dan berkomunikasi dengan Sang Hyang Tunggal. Kesederhanaan adalah gambaran khasnya.
Sebagaimana kebiasaan tokoh pewayangan, Yudistira juga memiliki 'gegaman' atau senjata khusus yaitu 'kyai tunggul naga'~mendengar nama ini penulis jadi ingat nama tombak yang menjadi pusaka milik Raden Batara Katong pada masa kesultanan Demak Bintoro, terlepas benar atau tidak, juga mengenani filosofi payung bisa kita bicarakan lain waktu dan lain tempat.
Selain 'gegaman' terdapat juga 'jimat jamus kalimasada' yang terkenal, sepanjang sepengetahuan saya, jamus kalimasada sendiri merupakan akronim dari 'kalimat syahadat' dari kata 'syahida' yang berarti "ia telah menyaksikan" yang merupakan kalimat pernyataan keesaan Allah dan nabi Muhammad sebagai utusanNya. Merupakan pernyataan ketertundukkan terhadap Tuhan, tauhid, konsep radikal yang mampu menghantam konsep ketertundukkan manusia terhadap selain Tuhan yang pada kenyataannya (sepanjang sejarahnya) selalu saja menindas manusia itu sendiri.
KeTuhanan Yang Maha Esa, merupakan pernyataan bahwa Tuhan itu benar-benar ada, tidak tunduk pada sesuatu apapun kecuali pada Tuhan. Sederhananya bahwa seluruh agama akan selalu membawa kebaikan dan negara tidak terbentuk atas dasar kepentingan kelompok atau orang seorang, negara ada karena musyawarah, kepentingan bersama dan inilah amanat Tuhan.
Sesuai dengan watak tokoh Yudistira, jujur dan sabar yang tak mungkin dapat diwujudkan dalam perilaku tanpa ada dasar keyakinan kepada Tuhan dan ketertundukkan kepada Tuhan. Kepemimpinan yang digambarkan lewat tokoh Yudistira adalah kepemimpinan yang diharapkan, mengerti kapan berkata 'ya' dan 'tidak', dengan wawasan yang luas dan kepasrahan terhadap keputusan Sang Hyang Tunggal sepertinya memberi jalan untuk mengantisipasi segala permasalahan dengan tepat dan bijaksana.
Werkudara, lebih dikenal dengan nama Bima atau Bimasena, anak kedua Pandu yang paling kuat, dalam setiap kisahnya selalu digambarkan heroik. Dari namanya sudah dapat digambarkan watak/sifat, seperti Bima yang dalam bahasa sansekerta berarti 'mengerikan', Werkudara dalam bahasa Sanskerta dieja vṛ(ri)kodara yang berarti 'perut serigala' dan Bimasena yang berarti 'panglima perang'. Sifat yang melekat dalam tokoh ini adalah kejujuran, keluguan dan kebersahajaan, seperti seorang yang menyadari sepenuhnya kemanusiaannya.
Ir. Soekarno sangat mengagumi tokoh Bima dan sempat mengidentifikasi dirinya mirip dengan tokoh Bima. Bima memiliki sifat gagah berani, teguh, kuat, tabah, patuh dan jujur, serta menganggap semua orang sama derajatnya, sehingga dia digambarkan tidak pernah menggunakan bahasa halus (krama inggil) atau pun duduk di depan lawan bicaranya.
Kemanusiaan yang adil dan beradab, menyadari diri sebagai manusia ciptaan Tuhan, dengan menyadari diri sebagai manusia maka harus mampu pula memanusiakan manusia. Menjadi manusia yang adil yang tentunya harus sadar bahwa diri sebagai manusia, lalu adil terhadap diri, misalnya manusia itu pasti akan merasa lapar, kalau lapar harus  makan, lalu adil terhadap manusia yang lain, memanusiakan manusia, berlaku sebagaimana 'tat twam asi' kemudian adil terhadap Tuhan, menjalankan perintahNya menjauhi laranganNya. Mencapai manusia yang beradab. Hanya dengan menyadari diri sebagai manusia lah hal itu dapat terjadi.
Moral memiliki dasar kemanusiaan, kemanusiaan akan tetap sama dimanapun dan kapanpun, bergerak lurus, kejahatan terhadap kemanusiaan disuatu wilayah akan menjadi kejahatan terhadap kemanusiaan diseluruh belahan bumi manapun.
Disetiap pertunjukkan wayang kulit, dalang akan selalu mengatakan“Jalan Raden Bratasena (salah satu nama dari Werkudara) lurus dan mengikuti apa kehendaknya. Lompat Raden Bratasena sejauh penglihatan gajah. Cepat sebagai kilat.”  Lalu gunungan dilewatkan berulang-ulang, diiringi 'suluk' atau lagu yang membangkitkan kegeraman pendengarnya. Hal ini menggambarkan lurusnya hati si tokoh dalam dunia wayang, tidak gentar menggenggam kebenaran, amarah yang sangat manusiawi terhadap segala yang rapuh dan goyah sebagaimana perlambangan munculnya Bratasena yang diiringi angin ribut, pohon yang akarnya dalam, patah, dan yang tak dalam tumbang. Demikianlah kemanusiaan, akan selalu bergerak lurus dimanapun dan sampai kapanpun.
Sebagai panglima perang, Bimasena adalah yang terdepan (selalu tampil digaris depan)~dalam perang Baratayuda, Bimasena memimpin pasukan garis depan (bahkan benar-benar didepan pasukannya) berjalan tanpa tunggangan, sekaligus memungkasi perang tersebut dengan menepati janjinya untuk meremukkan paha Duryudana.
Arjuna, tokoh ketiga dalam pandawa yang akhir-akhir ini cukup populer, lebih dikenal dengan ketrampilan memanah, lebih dari itu dalam wayang kulit kehadiran Arjuna selalu dengan kepala merunduk, seperti halnya padi 'semakin berisi semakin merunduk.'
Dalam wiracarita Mahabarata Arjuna digambarkan sebagai sosok yang rupawan dan lemah lembut, memiliki sepuluh nama yang masing-masing nama selain menggambarkan sifat/watak juga merupakan janji sang Arjuna. Arjuna sendiri dalam bahasa sansekerta berarti "bersinar terang", "putih", "bersih". Dilihat dari maknanya, kata Arjuna bisa berarti "jujur di dalam wajah dan pikiran". Memiliki beragam 'gegaman' dan 'kanuragan'.
Persatuan Indonesia, tentunya dapat dirajut dengan kerukunan antar kelompok-kelompok masyarakat yang beragam, keadaan yang mana semua pihak mulai membuka diri satu sama lain, mau menerima dan saling mengisi, tidak sebaliknya dimana masing-masing pihak mulai menonjolkan diri dengan ego ke'aku'annya. lebih dari itu, keadaan bersatu merupakan senjata yang ampuh bagi Indonesia untuk menjawab tantangan jaman. Tidak hanya mengandalkan keris, rencong ataupun kujang. Bukan hanya Jawa, Aceh, Kalimantan ataupun Papua yang berada di garis depan, tapi keseluruhan yang saling mengisi dalam persatuan.
Nakula, merupakan putera Dewi Madri, dalam pewayangan Jawa Nakula memiliki nama Pinten (tanaman yang daunnya dapat digunakan sebagai obat) dan merupakan titisan Batara Aswin, dewa tabib.
Nakula mempunyai watak jujur, setia, taat, belas kasih, tahu membalas guna dan dapat menyimpan rahasia. Mempunyai Aji Pranawajati pemberian Ditya Sapujagad, dimana Nakula tidak akan pernah lupa tentang segala hal.
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, merupakan hakikat dari demokrasinya Indonesia, rakyat yang berdaulat mendelegasikan atau mempercayakan kekuasaannya untuk dijalankan oleh wakil-wakilnya atas dasar musyawarah mufakat.
Sebagaimana penggambaran watak tokoh Nakula, wakil rakyat sudah seharusnya jujur, setia dan tahu membalas guna. Lebih lanjut, tidak mudah lupa kalaupun tidak mampu untuk selalu ingat tentang segala hal.
Tokoh berikutnya adalah Sadewa yang merupakan saudara kembar Nakula, tapi memiliki kelebihan dibanding saudara kembarnya yaitu pandai dalam segala ilmu pengetahuan, terutama disini tentang astronomi, peternakan dan pertanian, mampu memprediksi (untuk tidak mengatakan meramal) kejadian yang akan datang.
Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, inilah yang menjadi cita-citanya bangsa Indonesia ketika membangun sebuah negara yang bernama Republik Indonesia, cita-cita dimana masyarakatnya hidup tidak dalam penghisapan oleh yang lain, atau tidak dalam keadaan dibodohi oleh sebagian yang lain, oleh karenanya ilmu pengetahuan adalah sangat penting dalam membangun kesadaran berdaulat rakyat Indonesia.
Disamping itu, tokoh Nakula dan Sadewa juga diceritakan memiliki loyalitas yang tinggi terhadap Pandawa, tentu, rakyat akan semakin loyal terhadap negara andaikata sila keempat terlaksana dengan baik bahkan sila kelima dapat tercapai.
Demikian sedikit usaha saya dalam menggambarkan sila-sila Pancasila lewat perwatakan tokoh wayang sekiranya memang untuk kembali mengkampanyekan Pancasila, dan Pancasila sebagai gagasan yang sekaligus cita-cita besar ini dapat terus dikaji dan senantiasa diperkenalkan kepada tiap-tiap generasi.
Akhirnya dapat pula kita renungi makna semboyan "Bhineka tunggal ika, tan hanna dharma mangrwa": berbeda-beda tetapi tetap satu jua, tidak ada kebenaran yang mendua dan semoga kebenaran datang dari segala arah. Merdeka.
Yoehan Rianto Prasetyo

Rabu, 07 Desember 2011

Celoteh ringan I (dari catur paramita hingga 'ngemong roso')

Mau diakui atau tidak, pada dasarnya moral yang memiliki dasar kemanusiaan selalu mengalami dialektika, sebab bertemunya budaya-budaya yang juga membawa nilai-nilai moralnya. Sedangkan kemanusiaan yang menjadi dasarnya moral adalah sama dimanapun dan kapanpun.
Dengan begitu moral pada dasarnya akan selalu dipelajari, tiap generasi mempelajari segala yang ditemukan oleh generasi sebelumnya, dan dalam tiap proses belajar itu terjadi pula dialektika 'perulangan'. Berikut merupakan ajaran-ajaran yang sarat akan nilai moral yang ada dalam kebudayaan yang kiranya cukup patut menjadi bahan diskusi dalam menyimak kembali nilai-nilai moral yang telah ada dalam budaya Nusantara demi proses 'nation character building'.
Catur Paramita, berasal dari bahasa Sansekerta. Dari kata ”catur” yang berarti empat dan ”paramita” berarti sifat dan sikap utama. Catur Paramita berarti empat macam sifat dan sikap utama yan patut dijadikan landasan bersusila. Catur Paramita merupakan salah satu dari landasan atau pedoman untuk melaksanakan ajaran susila atau ethika dalam ajaran agama Hindu.
Adapun bagian-bagian catur paramita antara lain :
Maitri artinya semangat mencari kawan dan bergaul, yakni tahu menempatkan diri dalam masyarakat, ramah-tamah, serta menarik hati segala perilakunya sehingga menyenangkan orang lain dalam diri pribadinya. Untuk berbuat Maitri, maka kita jangan melakukan / berbuat bencana yang bersifat maut (Anta Kabhaya) atau jangan membenci.
Karuna artinya belas kasih, maksudnya adalah selalu memupuk rasa kasih sayang terhadap semua makhluk. Untuk berbuat karuna, maka pantang melakukan perbuatan yang menyebabkan terjadinya penderitaan, tersiksa, kesengsaraan, atau jangan bengis.
Mudita artinya selalu memperlihatkan wajah yang riang gembira, yakni penuh simpatisan terhadap yang baik serta sopan santun. Untuk dapat berbuat mudita, maka jangan melakukan perbuatan yang dapat menyebabkan orang lain susah, atau jangan memiliki rasa iri hati kepada orang lain.
Upeksa artinya senantiasa mengalah demi kebaikan, walaupun tersinggung perasaan oleh orang lain, ia tetap tenang dan selalu berusaha membalas kejahatan dengan kebaikan bisa juga dimaksud dengan tahu diri (mawas diri). Untuk berbuat upeksa maka pantang menghina orang lain, memandang rendah orang lain, menindas orang lain, atau selalu dapat berusaha mengendalikan dorongan hawa nafsu jahat.

Ajaran Catur Paramita merupakan realisasi dari ajaran Tat Twam Asi yang merupakan bentuk penyempurnaan etika-perbuatan bagi masyarakat Hindu. Tat twam asi sendiri merupakan suatu ungkapan yang berarti, kurang lebih adalah kau adalah aku, lebih dari itu tat twam asi merupakan filosofi yang mengajarkan bahwa apa yang dirasakan oleh manusia adalah sama. Tiap-tiap orang memiliki rasa sakit yang sama dan sama-sama tidak ingin mengalaminya, jika kena pukul itu sakit maka janganlah memukul orang lain, jika dibenci atau dikucilkan itu tidak menyenangkan maka jangan membenci atau mengucilkan orang lain.
Mengejek, fitnah atau hal-hal lain yang tidak manusiawi memang sudah selayaknya dihindari, sebaliknya hal-hal/perbuatan yang dapat bermanfaat bagi orang lain atau minimal berdampak pada kebahagiaan-kenyamanan bagi orang lain adalah yang diharapkan.
Selaras dalam hal ini ada ungkapan dalam masyarakat Jawa "mikul duwur mendem jero" yang berarti akan lebih baik jika menjunjung kebaikan dan melupakan segala yang buruk dalam hal ini lebih pada prinsip hidup tidak menyimpan dendam yang pada kenyataannya malah sering dimanfaatkan secara pragmatis.
Adapula dalam filosofi Jawa yaitu 'ngedu roso' yang berarti mengadu rasa atau bisa juga dikatakan 'ngemong roso' atau menjaga rasa, hal ini lebih sulit dilakukan sebab menyangkut 'perasaan'. Apalagi dalam era liberal saat ini yang lebih mengedepankan hak asasi secara individual, jangankan untuk menjaga rasa, perhatian terhadap kepedulian sosial sangat minim. Sepertinya kita sebagai generasi bangsa yang mewarisi budaya luhur ini lebih suka melihat kehancuran seseorang daripada turut berpartisipasi membangun dan memperkuat sesama. Meskipun demikian dapatlah selalu kita harapkan, kita cita-citakan suatu tatanan kemasyarakatan yang penuh dengan kepedulian, kalau tidak dengan generasi kita, boleh dengan generasi mendatang, kalau tidak sanggup untuk peduli bolehlah hanya sekedar menjaga perasaan.
Sebagai tambahan, sebagaimana komentar seorang teman lewat jejaring sosial 'face book' yang mempertanyakan kecenderungan mengalah dalam konsep catur paramita dan ada tidaknya manusia yang sebagaimana dimaksudkan dalam catur paramita, yang memang faktanya hanya ada kepentingan dan pembenaran/pewajaran, tapi bukannya tidak ada manusia semacam itu, dari Abdullah bin Mas'ud: seolah-olah aku masih teringat (melihat) Rasulullah Saw. melukiskan nabi terdahulu ketika dipukuli oleh kaumnya hingga berlumuran darah, sambil mengusap darah dari wajahnya sang nabi berdoa "Allahummaghfir liqaumi fainnahum laa ya'lamuun (Ya Allah ampunilah kaumku, sesungguhnya mereka tidak tahu).


Pada akhirnya dapat saya gunakan pula istilah manusia dalam bahasa Jawa yaitu 'Manungso' yang diartikan 'manunggale roso' atau menyatunya rasa, dan kehadiran manusia dalam hidup ini memanglah akibat dari menyatunya rasa. Tentunya rasa yang dikatakan baik, bukan lantaran dengki, iri, dendam, atau bahkan karena intrik.

Yoehan Rianto Prasetyo