Tanpa Pancasila, negara akan bubar. Pancasila adalah seperangkat asas dan ia akan ada selamanya. Ia adalah gagasan tentang negara yang harus kita miliki dan kita perjuangkan. Dan Pancasila ini akan saya perjuangkan dengan nyawa saya (Gus Dur)

Kamis, 02 Juni 2011

Membangun karakter kebangsaan

Membangun karakter kebangsaan tidak akan jauh dari konsep-konsep dalam ajaran agama, tentunya bagi suatu bangsa yang mengakui eksistensi Tuhan sebagaimana bangsa Indonesia yang sudah cukup jelas menempatkan ‘ketuhanan yang maha esa’ sebagai pedoman hidup sekaligus cita-citanya.
Keberagaman bukanlah sebuah penghalang dalam membangun karakter kebangsaan yang menjadikan agama sebagai~ kalau boleh dikatakan “kawah Candradimuka” yang senantiasa menempa mentalitas tiap-tiap individu untuk mencapai terwujudnya bangsa yang berkepribadian, tentu juga didalamnya adalah individu-individu dengan idealism, bukan sekumpulan manusia yang terasing dari kemanusiaannya.
Idealisme dalam diri individu akan terbentuk jika individu mulai perduli dengan lingkungan sekitarnya, bagaimana mungkin ada idealism dalam diri individu yang acuh atau bahkan anti sosial? Pembangunan akhlaq jadi unsur utama disini, Allah Ta'ala telah menegaskan prinsip akhlaq dalam kerangka hablum minallah dan hablum minan nas dalam firman-Nya sebagai berikut:
“Mereka telah ditimpa kehinaan di mana pun mereka berada, kecuali bila mereka menyambung hubungan dengan Allah ( hablum minallah ) dan dengan sesama manusia ( hablum minannas ). Dan mereka juga ditimpa dengan kemurkaan dari Allah dan ditimpa pula oleh kemiskinan. Yang demikian itu karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi-nabi dengan tidak benar. Yang demikian itu karena akibat dari kedurhakaan yang mereka lakukan dan mereka adalah orang yang melampaui batas.” ( Ali Imran : 112)
Tidak perlu disangsikan lagi, bangsa Indonesia adalah bangsa yang mengakui eksistensi Tuhan, dan moral keagamaan jadi sangat penting dalam membangun karakter kebangsaan sampai kapanpun. Sebagaimana ~ dan penulis juga bersepakat dengan warga Nahdliyin yang berpandangan: menjadi Islam 100% di negeri ini adalah juga menjadi nasionalis 100%.
Adapun konsep kosmologi masyarakat Jawa dan Bali melalui Tri Hita Karana yang juga menyampaikan pola hubungan manusia demi mencapai sebuah tatanan masyarakat yang beradab. Tri Hita Karana, secara sederhana dapat dijelaskan: hubungan manusia dengan alam, hubungan manusia dengan sesamanya dan hubungan manusia dengan Tuhannya. Tri Hita Karana ,berasal dari bahasa sansekerta. Dari kata Tri yang berarti tiga, Hita berarti sejahtera dan Karana berarti penyebab. Pengertian Tri Hita Karana adalah tiga hal pokok yang menyebabkan kesejahteraan dan kemakmuran hidup manusia.
Konsep ini menekankan pada tiga hubungan manusia yang saling terkait satu sama lain dan saling mengimbangi. Tidak dapat dibayangkan, bagaimana bila seorang individu mulai terasing dari kemanusiaanya sendiri, hanya hidup sebagai makhluk individu tanpa mengenali dirinya sebagai makhluk sosial, atau bahkan tidak dua-duanya karena tidak lagi mengenal Tuhannya.
Menjaga hubungan dengan Tuhan sangat penting sebab akan dapat menjaga hubungan manusia dengan sesamanya dan dengan alamnya, jadi, menjadikan agama sebagai pedoman dalam membangun karakter kebangsaan sangatlah penting.

Minggu, 27 Februari 2011

idealisme, materialisme dan Pancasila


Plato berkata "realitas sejati adalah idea yang terdapat di dunia idea. Di alam yang kita jalani ini, semuanya hanya tiruan dari idea" yang baginya jiwa manusia itu abadi, sedangkan badan manusia yang bersifat fana tidak.
lalu Karl Marx pun berkata "kesadaran hasil pikiran itu merupakan kesadaran palsu karena tidak sesuai dengan realitas. Kesadaran palsu ini bukan karena ketidaksadaran atau ketidakmampuan pikiran manusia untuk mengolah informasi, tapi terbentuk karena realitas yang ditangkap individu dipalsukan oleh mekanisme tertentu, pemalsuan ini terjadi pada tataran masyarakat, bukan pada tataran individu."
kaum idealis yakin, bahwa pikiran itu mempengaruhi keadaan, sebaliknya kaum materialism meyakini keadaan itulah yang mempengaruhi pikiran. Seperti hegel yang mewakili kaum idealis: keadaan itu berawal dari idea yang bernegasi dengan realitas, kesadaran membentuk keadaan, lalu Marx mencoba mewakili kaum materialis lewat dialektika materialisme dan materialisme historinya: keadaan mempengaruhi kesadaran; masa lalu mempengaruhi sekarang dan sekaran mempengaruhi masa depan. Lalu Pancasilais mencoba mencari jalan tengahnya, tapi mereka malah mempraktekkan keduanya secara bersamaan, sebab para pejuang Pancasila yakin: kesadaran dan realitas itu berjalan bersamaan.

Sabtu, 27 Maret 2010

Demokrasi dalam khasanah Bhineka Tunggal Ika


Demokrasi merupakan sistem pemerintahan terbaik saat ini, ia mampu menyediakan ruang yang lebih luas untuk masyarakat dalam pemerintahan, pada suatu kesempatan pula kita mengatakan demokrasi merupakan sistem yang rapuh dan bahkan ‘utopis’.
Demokrasi menjadi ‘utopis’ ketika dalam kenyataan selalu saja dijumpai dalam sebuah regim yang mengedepankan demokrasi dalam pemerintahannya masih saja bersikap tertutup pada masalah-masalah yang seharusnya di dengar publik. Terlebih lagi, ketika kita mulai menyadari bahwa dalam sistem demokrasi yang terlalu terbuka memberikan kesempatan bagi masuknya paham-paham yang saling bertentangan untuk ikut tumbuh dalam masyarakat, bahkan paham yang anti terhadap demokrasi sekalipun, komunis misalnya.
Dibaca dari pengertiannya, demokrasi adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warga negara) atas negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara tersebut.
Demokrasi Indonesia merupakan demokrasi Pancasila, demokrasi yang dijalankan berdasarkan nilai-nilai Pancasila yang merupakan pandangan hidup bangsa Indonesia, dan identitas bangsa Indonesia dalam masyarakat internasional.
Secara ringkas, demokrasi Pancasila berprinsip kekeluargaan dan kegotong royongan, dimana segala permasalahan diselesaikan bersama, setiap masalah baik politik, sosial budaya bahkan ekonomi. Masalah kemiskinan suatu daerah adalah masalah bersama yang harus diselesaikan secara bersama.
Selain kelima sila dalam sila Pancasila, terdapat juga istilah ‘Bhineka Tunggal Ika’ yang bermakna berbeda tetapi satu jua, Dari istilah ini bisa dipahami keragaman itulah yang menjadi faktor kekuatan dan sekaligus kelemahan bangsa ini.
Dengan perbedaan maka suatu masalah dapat dilihat, dibaca dari beragam sisi, tidak hanya didominasi dan dimonopoli oleh salah satu pihak, inilah simpul kekuatan masyarakat ber’bhineka tunggal ika’. Keberagaman inipun dapat menjadi senjata yang mematikan bagi bangsa Indonesia yang dapat melukai dirinya sendiri jika tidak dikelola dengan baik, dalam masyarakat yang serba plural sudah pasti memiliki kepentingan-kepentingan yang prural pula, dan yang lebih ekstrim dengan munculnya fanatisme sempit ataupun semangat kedaerahan yang kerap kali muncul dalam masyarakat Indonesia.
Sebagai ‘keseharusan’, masyarakat ber‘bhineka tunggal ika’ sudah seharusnya mampu menerjemahkan istlah ‘Bhineka Tunggal Ika’ ini sebagai prinsip kekeluargaan dalam keberagaman mengingat istilah ini merupakan sebuah peringatan bagi Gajah Mada oleh Mpu Tantular, agar tidak mempersatukan Nusantara dengan perang, represif dan cara-cara kekerasan. Sebaliknya, mempersatukannya dengan cara damai, menyebarkan cinta kasih, dan kerja kemanusiaan pada sesama.
Lebih jauh, Bhineka Tunggal Ika sebenarnya harus dilengkapi dengan semboyan ‘Tan Hana Dharma Mangrwa’ yang akan lebih memberi makna lugas tentang pengabdian kepada kemanusiaan.
Bhineka tunggal ika, tan hana dharma mangrwa begitu semboyan yang digali dari Kitab Sotasoma, karangan Mpu, Maha Guru, Tantular. yang kurang lebih bermakna "Beraneka ragam itu satu, tiada kebenaran ganda" yang pada dasarnya merupakan seruan untuk memelihara persatuan dalam keragaman, bukan penyeragaman, dan pengabdian terhadap kemanusiaan.
Jangan pernah berpikir, semua orang berpikir sama denganmu, setiap orang tidak berpikiran sama, bahkan dapat menentangmu, tapi semua orang melangkah bersamamu menuju gerbang yang sama denganmu.

28.03.2010
Yoehan Rianto Prasetyo