Pada dasarnya perdebatan antara materialisme dan idealisme telah
berakhir beberapa abad yang lalu dengan runtuhnya kekuatan komunis
soviet, ditandai dengan runtuhnya tembok Berlin yang juga merupakan
tanda satu episode sejarah. Perang dingin.
Komunisme memiliki
dasar materialisme, ia merupakan bentuk revisi terhadap
sosialisme-ilmiah (Marxisme), sosialisme sendiri pada dasarnya adalah
bentuk idealis atau oleh Karl Marx disebut sebagai 'sosialisme utopis'.
Sosialisme merupakan reaksi dari ketimpangan yang dihasilkan oleh sistem
kapitalisme, kapitalisme juga memiliki dasar materialisme yang muncul
dari kalangan liberal untuk mendobrak kakunya sistem feodalism. Inilah
episode sejarah perdebatan antara materialisme dengan idealisme. Sekedar
intermezzo, kurang atau lebihnya saya mohon maaf.
Tulisan
(kali) ini tidak sedang mempertentangkan kembali antara Idealisme
dengan materialisme, tapi mencoba mencari perbandingan antara Idealisme
dengan pragmatisme dan idealisme dengan profesionalisme. Selalu saja
menjadi warna yang dramatis dalam realitas tentang
pertentangan-pertentangan, yang utama dan sering terlihat lugas adalah
antara idealisme dengan pragmatisme, tidak hanya dalam urusan partai
politik, tapi dalam dunia kerja, bahkan sangat mungkin diruang keluarga.
Saya mulai dengan idealisme, Idealisme
adalah sebuah istilah yang digunakan pertama kali dalam dunia filsafat
oleh Leibniz pada awal abad 18. Ia menerapkan istilah ini pada pemikiran
Plato, seraya memperlawankan dengan materialisme Epikuros, memandang
yang mental dan ideasional sebagai kunci ke hakikat realitas.
Sederhanya: "pikiran mempengaruhi keadaan". Secara etimologis, Idealisme
berasal dari kata 'ide' yang artinya adalah dunia di dalam jiwa
(Plato), jadi pandangan ini lebih menekankan hal-hal bersifat ide, dan
merendahkan hal-hal yang materi dan fisik.
Idealisme memiliki dua
bentuk, yaitu idealisme aktif, yaitu idealisme yang melahirkan
insipirasi-inspirasi baru yang bisa dilakukan dalam realitas, sedangkan
idealisme pasif adalah idealisme yang hanya semu, tidak pernah bisa
diwujudkan, bersifat utopis saja.
Dalam realitas kehidupan, orang
yang-katakanlah: idealis, memilih sikap-sikap yang berusaha melawan
dominasi, sikap-sikap ini dapat dikelompokkan dalam dua type: frontal
dan moderat. Type frontal yaitu tetap keras pada pendirian dan
idealismenya dengan memperjuangkan nilai-nilai dan cita-citanya secara
konsisten. Kecenderungan yang dilakukan adalah bersikap keras terhadap
penyelewengan yang ada disekitarnya. Resiko yang dihadapinya adalah
adanya upaya-upaya orang lain untuk mendiskriditkanya, memojokannya
bahkan dikucilkan dari lingkungannya. Jika yang bersangkutan memiliki
gerbong, maka gerbongnyapun tak akan luput dari upaya-upaya untuk
dihancurkan arus utama.
type moderat yaitu berupaya tetap
mengikuti budaya yang ada dengan benteng moralitas dan idealisme yang
menjadi cita-citanya. Type seperti ini menghendaki adanya perbaikan
terus menerus dengan cara-cara yang elegan tanpa ada benturan yang keras
disana-sini. Berupaya tetap solid bersama orang-orang yang ingin
perbaikan melalui proses yang dapat diterima kalangan baik yang
pragmatis maupun frontal.
Pragmatisme,
adalah aliran filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar adalah segala
sesuatu yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan melihat kepada
akibat-akibat atau hasilnya yang bermanfaat secara praktis. Dengan
demikian, bukan kebenaran objektif dari pengetahuan yang penting
melainkan bagaimana kegunaan praktis dari pengetahuan kepada
individu-individu. Tidak ingin muncul atau terdapat perdebatan
demokratis yang berkepanjangan.
Dasar dari pragmatisme adalah
logika pengamatan, atau sederhananya, keadaan mempengaruhi pikiran,
tentu sangat materialistis. Dengan begitu filsafat pragmatis tidak mau
direpotkan dengan pertanyaan-pertanyaan seputar kebenaran, terlebih
hal-hal yang bersifat metafisik. Teori pragmatis menyatakan bahwa 'apa
yang benar adalah apa yang berfungsi'.
Dalam realitas, orang
pragmatis selalu digambarkan dengan salah kaprah, sering digambarkan
dengan sosok yang simple, yang (padahal) sebenarnya penuh dengan
skenario dan intrik. Type pragmatis memiliki kecenderungan untuk
berperan dominan dan berlindung dibalik layar, katakanlah 'dalang'.
type
pragmatis setelah mengetahui bahwa realitas pekerjaan dapat
dipermainkan dengan aman demikepentingan pribadi maupun golongan. Type
seperti ini mengikuti arus utama dalam perhelatan yang terjadi dalam
institusi birokrasi, perusahaan, legislatif maupun yudikatif. Aksi
tipu-tipu, manipulasi, menerima suap maupun upeti merupakan budaya yang
biasa dalam kamus hidupnya.
Dan sampailah pada
profesionalisme, yang secara serampangan selalu saja diidentikkan dengan
pragmatisme, dan secara serampangan pula dipertentangkan dengan
idealisme.
Profesionalisme ialah sifat-sifat
(kemampuan, kemahiran, cara pelaksanaan sesuatu dan lain-lain)
sebagaimana yang sewajarnya terdapat pada atau dilakukan oleh seorang profesional.
Profesionalisme berasal daripada profesion yang bermakna berhubungan
dengan profesion dan memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya,
(KBBI, 1994). Jadi, profesionalisme adalah tingkah laku, kepakaran
atau kualiti dari seseorang yang profesional (Longman, 1987).
pemahamannya:
Profesional, ialah seseorang yang melakukan suatu (kegiatan, aktivitas,
usaha, pekerjaan) yang dilakukan untuk mendapatkan (nafkah,
kesenangan) atau memberi (konstribusi) dengan mengandalkan (keahlian,
keterampilan, kemahiran) yang tinggi dengan melibatkan komitmen pribadi
(moral) yang mendalam. Profesionalisme Lebih mengarah pada (spirit,
jiwa, sikap, karakter, semangat, nilai) yang dimiliki dari seorang yang
profesional.
Tanpa profesionalisme sebuah institusi, sebuah organisasi,
sebuah perusahaan tidak akan bertahan lama dan langgeng, karena jiwa
profesionalisme inilah yang menghidupkan setiap aktivitas-aktivitas yang
ada didalamnya.
Julukan profesional sebenarnya bukan label yang kita berikan untuk diri
sendiri melainkan penilaian orang lain atas kinerja dan peforma yang
kita tampilkan.
Profesional tanpa idealisme adalah tidak mungkin,
sebab profesionalisme butuh etika untuk melaksanakannya, dan etika hanya
akan didapat dari idealisme. Simpel saja, dengan menaati aturan,
nilai-nilai moral dan memegang teguh hal hal tersebut maka kinerja
seseorang dapat dikatakan profesional, sesuai dengan profesinya. Salam
berdaulat.
Oleh: Yoehan Rianto Prasetyo
Penulis mengharap kritik, saran dan masukkan untuk kesempurnaan tulisan ini.
Warung kopi, tempat paling nyaman untuk berekspresi, wilayah kedaulatan dari bangsa yang bermartabat dalam alam demokrasi
Sabtu, 26 November 2011
Minggu, 16 Oktober 2011
Revolusi Indonesia Merdeka
... selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah...
tidak akan kita menyerah kepada siapapun juga...
lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka...
... mulailah kita sekarang ini, majulah kita sekarang ini... Insyaallah kemenangan akhir kita akan mencapainya... Allahuakbar... merdeka (Bung Tomo)
... kita ingin menjadi bangsa yang digembleng oleh keadaan, digembleng hampir hancur lebur bangun kembali, hampir hancur lebur bangun kembali, hanya dengan jalan demikianlah kita menjadi bangsa yang berotot kawat balung besi... (Soekarno, pidato maulid Nabi 1963)
...engkau pemuda-pemudi yang berkumpul disini, sekarang mengerjakan investmen, kerjakanlah pekerjaanmu itu sebaik-baiknya, kerjakanlah sebaik-baiknya oleh karena apa yang kau kerjakan itu adalah ilmu, dan ilmu itu bukan untukmu sendiri tapi ialah untuk anak-cucumu, untuk bangsa Indonesia, untuk rakyat Indonesia, untuk tanah air Indonesia, untuk negara Republik Indonesia... (Soekarno, Pidato didepan mahasiswa AS 1956)
watak budaya bangsa telah dicita-citakan dalam Pancasila: Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Revolusi Indonesia bukanlah hanya untuk mengusir imperialisme dan kolonialisme, revolusi Indonesia lebih jauh dari itu, bagaimana mungkin membangun bangsa tanpa revolusi? Bagaimana mungkin menjalankan revolusi dengan mengatakan bahwa revolusi telah selesai? Tidak akan mungkin menjadi bangsa yang kuat, tiada akan pernah gagasan besar: Pancasila dapat tercapai tanpa adanya dinamika, tanpa adanya dialektik, tanpa romatik. Revolusi Indonesia menuju pada kerangka: sosialisme, dunia baru tanpa eksploitasi manusia oleh manusia, bukan pada liberalisme-kapitalistik.
Kenyataannya saat ini, bangsa Indonesia digiring pada liberalisme (individualism, pragmatisme), pilar-pilar dari liberalisme kian kuat sementara ketimpangan sosial semakin tajam dan gamblang. Sekulerisasi lewat pemisahan antara agama dan pendidikan yang nyata sekali 'ingkar' terhadap Pancasila yang menyatakan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang beragama, individualisme dan pragmatisme yang mengingkari Pancasila yang jelas jelas mengedepankan kegotong royongan. Tokoh-tokoh politik juga memberi keteladanan yang menjauh dari Pancasila; koalisi-koalisian, oposisi-oposisian.
... kemerdekaan rakyat Indonesia baru tercapai bila kemerdekaan politik 100% berada di tangan rakyat Indonesia (Tan Malaka, GERPOLEK)
Bagaimana mungkin membangun kemerdekaan 100% jika ketimpangan sosial masih dipertahankan (masing-masing bikin kerajaan, sedangkan Punakawan masih juga ditelantarkan) dan kewibawaan negara benar-benar sedang dihabisi oleh mafia-mafia, oleh bandit-bandit oleh borjuasi yang mengedepankan ideologi perut,
Kembali mengoreksi diri untuk kembali mengobarkan revolusi, Indonesia tidak akan mati.
ayo bangsa Indonesia, dengan jiwa yang berseri-seri, mari berjalan terus, jangan berhenti revolusimu belum selesai, jangan berhenti sebab siapa yang berhenti akan diseret oleh sejarah... ini tujuan kita ini maksud kita, ini tekad kita dengan mengadakan negara ini yang kita proklamirkan 17 Agustus 45, nation character building! (Soekarno)
Oleh: Yoehan Rianto Prasetyo
tidak akan kita menyerah kepada siapapun juga...
lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka...
... mulailah kita sekarang ini, majulah kita sekarang ini... Insyaallah kemenangan akhir kita akan mencapainya... Allahuakbar... merdeka (Bung Tomo)
... kita ingin menjadi bangsa yang digembleng oleh keadaan, digembleng hampir hancur lebur bangun kembali, hampir hancur lebur bangun kembali, hanya dengan jalan demikianlah kita menjadi bangsa yang berotot kawat balung besi... (Soekarno, pidato maulid Nabi 1963)
...engkau pemuda-pemudi yang berkumpul disini, sekarang mengerjakan investmen, kerjakanlah pekerjaanmu itu sebaik-baiknya, kerjakanlah sebaik-baiknya oleh karena apa yang kau kerjakan itu adalah ilmu, dan ilmu itu bukan untukmu sendiri tapi ialah untuk anak-cucumu, untuk bangsa Indonesia, untuk rakyat Indonesia, untuk tanah air Indonesia, untuk negara Republik Indonesia... (Soekarno, Pidato didepan mahasiswa AS 1956)
watak budaya bangsa telah dicita-citakan dalam Pancasila: Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Revolusi Indonesia bukanlah hanya untuk mengusir imperialisme dan kolonialisme, revolusi Indonesia lebih jauh dari itu, bagaimana mungkin membangun bangsa tanpa revolusi? Bagaimana mungkin menjalankan revolusi dengan mengatakan bahwa revolusi telah selesai? Tidak akan mungkin menjadi bangsa yang kuat, tiada akan pernah gagasan besar: Pancasila dapat tercapai tanpa adanya dinamika, tanpa adanya dialektik, tanpa romatik. Revolusi Indonesia menuju pada kerangka: sosialisme, dunia baru tanpa eksploitasi manusia oleh manusia, bukan pada liberalisme-kapitalistik.
Kenyataannya saat ini, bangsa Indonesia digiring pada liberalisme (individualism, pragmatisme), pilar-pilar dari liberalisme kian kuat sementara ketimpangan sosial semakin tajam dan gamblang. Sekulerisasi lewat pemisahan antara agama dan pendidikan yang nyata sekali 'ingkar' terhadap Pancasila yang menyatakan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang beragama, individualisme dan pragmatisme yang mengingkari Pancasila yang jelas jelas mengedepankan kegotong royongan. Tokoh-tokoh politik juga memberi keteladanan yang menjauh dari Pancasila; koalisi-koalisian, oposisi-oposisian.
... kemerdekaan rakyat Indonesia baru tercapai bila kemerdekaan politik 100% berada di tangan rakyat Indonesia (Tan Malaka, GERPOLEK)
Bagaimana mungkin membangun kemerdekaan 100% jika ketimpangan sosial masih dipertahankan (masing-masing bikin kerajaan, sedangkan Punakawan masih juga ditelantarkan) dan kewibawaan negara benar-benar sedang dihabisi oleh mafia-mafia, oleh bandit-bandit oleh borjuasi yang mengedepankan ideologi perut,
Kembali mengoreksi diri untuk kembali mengobarkan revolusi, Indonesia tidak akan mati.
ayo bangsa Indonesia, dengan jiwa yang berseri-seri, mari berjalan terus, jangan berhenti revolusimu belum selesai, jangan berhenti sebab siapa yang berhenti akan diseret oleh sejarah... ini tujuan kita ini maksud kita, ini tekad kita dengan mengadakan negara ini yang kita proklamirkan 17 Agustus 45, nation character building! (Soekarno)
Oleh: Yoehan Rianto Prasetyo
Kamis, 02 Juni 2011
Membangun karakter kebangsaan
Membangun karakter kebangsaan tidak akan jauh dari konsep-konsep dalam ajaran agama, tentunya bagi suatu bangsa yang mengakui eksistensi Tuhan sebagaimana bangsa Indonesia yang sudah cukup jelas menempatkan ‘ketuhanan yang maha esa’ sebagai pedoman hidup sekaligus cita-citanya.
Keberagaman bukanlah sebuah penghalang dalam membangun karakter kebangsaan yang menjadikan agama sebagai~ kalau boleh dikatakan “kawah Candradimuka” yang senantiasa menempa mentalitas tiap-tiap individu untuk mencapai terwujudnya bangsa yang berkepribadian, tentu juga didalamnya adalah individu-individu dengan idealism, bukan sekumpulan manusia yang terasing dari kemanusiaannya.
Idealisme dalam diri individu akan terbentuk jika individu mulai perduli dengan lingkungan sekitarnya, bagaimana mungkin ada idealism dalam diri individu yang acuh atau bahkan anti sosial? Pembangunan akhlaq jadi unsur utama disini, Allah Ta'ala telah menegaskan prinsip akhlaq dalam kerangka hablum minallah dan hablum minan nas dalam firman-Nya sebagai berikut:
“Mereka telah ditimpa kehinaan di mana pun mereka berada, kecuali bila mereka menyambung hubungan dengan Allah ( hablum minallah ) dan dengan sesama manusia ( hablum minannas ). Dan mereka juga ditimpa dengan kemurkaan dari Allah dan ditimpa pula oleh kemiskinan. Yang demikian itu karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi-nabi dengan tidak benar. Yang demikian itu karena akibat dari kedurhakaan yang mereka lakukan dan mereka adalah orang yang melampaui batas.” ( Ali Imran : 112)
Tidak perlu disangsikan lagi, bangsa Indonesia adalah bangsa yang mengakui eksistensi Tuhan, dan moral keagamaan jadi sangat penting dalam membangun karakter kebangsaan sampai kapanpun. Sebagaimana ~ dan penulis juga bersepakat dengan warga Nahdliyin yang berpandangan: menjadi Islam 100% di negeri ini adalah juga menjadi nasionalis 100%.
Adapun konsep kosmologi masyarakat Jawa dan Bali melalui Tri Hita Karana yang juga menyampaikan pola hubungan manusia demi mencapai sebuah tatanan masyarakat yang beradab. Tri Hita Karana, secara sederhana dapat dijelaskan: hubungan manusia dengan alam, hubungan manusia dengan sesamanya dan hubungan manusia dengan Tuhannya. Tri Hita Karana ,berasal dari bahasa sansekerta. Dari kata Tri yang berarti tiga, Hita berarti sejahtera dan Karana berarti penyebab. Pengertian Tri Hita Karana adalah tiga hal pokok yang menyebabkan kesejahteraan dan kemakmuran hidup manusia.
Konsep ini menekankan pada tiga hubungan manusia yang saling terkait satu sama lain dan saling mengimbangi. Tidak dapat dibayangkan, bagaimana bila seorang individu mulai terasing dari kemanusiaanya sendiri, hanya hidup sebagai makhluk individu tanpa mengenali dirinya sebagai makhluk sosial, atau bahkan tidak dua-duanya karena tidak lagi mengenal Tuhannya.
Menjaga hubungan dengan Tuhan sangat penting sebab akan dapat menjaga hubungan manusia dengan sesamanya dan dengan alamnya, jadi, menjadikan agama sebagai pedoman dalam membangun karakter kebangsaan sangatlah penting.
Minggu, 27 Februari 2011
idealisme, materialisme dan Pancasila
Plato berkata "realitas sejati adalah idea yang terdapat di dunia idea. Di alam yang kita jalani ini, semuanya hanya tiruan dari idea" yang baginya jiwa manusia itu abadi, sedangkan badan manusia yang bersifat fana tidak.
lalu Karl Marx pun berkata "kesadaran hasil pikiran itu merupakan kesadaran palsu karena tidak sesuai dengan realitas. Kesadaran palsu ini bukan karena ketidaksadaran atau ketidakmampuan pikiran manusia untuk mengolah informasi, tapi terbentuk karena realitas yang ditangkap individu dipalsukan oleh mekanisme tertentu, pemalsuan ini terjadi pada tataran masyarakat, bukan pada tataran individu."
kaum idealis yakin, bahwa pikiran itu mempengaruhi keadaan, sebaliknya kaum materialism meyakini keadaan itulah yang mempengaruhi pikiran. Seperti hegel yang mewakili kaum idealis: keadaan itu berawal dari idea yang bernegasi dengan realitas, kesadaran membentuk keadaan, lalu Marx mencoba mewakili kaum materialis lewat dialektika materialisme dan materialisme historinya: keadaan mempengaruhi kesadaran; masa lalu mempengaruhi sekarang dan sekaran mempengaruhi masa depan. Lalu Pancasilais mencoba mencari jalan tengahnya, tapi mereka malah mempraktekkan keduanya secara bersamaan, sebab para pejuang Pancasila yakin: kesadaran dan realitas itu berjalan bersamaan.
Sabtu, 27 Maret 2010
Demokrasi dalam khasanah Bhineka Tunggal Ika
Demokrasi merupakan sistem pemerintahan terbaik saat ini, ia mampu menyediakan ruang yang lebih luas untuk masyarakat dalam pemerintahan, pada suatu kesempatan pula kita mengatakan demokrasi merupakan sistem yang rapuh dan bahkan ‘utopis’.
Demokrasi menjadi ‘utopis’ ketika dalam kenyataan selalu saja dijumpai dalam sebuah regim yang mengedepankan demokrasi dalam pemerintahannya masih saja bersikap tertutup pada masalah-masalah yang seharusnya di dengar publik. Terlebih lagi, ketika kita mulai menyadari bahwa dalam sistem demokrasi yang terlalu terbuka memberikan kesempatan bagi masuknya paham-paham yang saling bertentangan untuk ikut tumbuh dalam masyarakat, bahkan paham yang anti terhadap demokrasi sekalipun, komunis misalnya.
Dibaca dari pengertiannya, demokrasi adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warga negara) atas negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara tersebut.
Demokrasi Indonesia merupakan demokrasi Pancasila, demokrasi yang dijalankan berdasarkan nilai-nilai Pancasila yang merupakan pandangan hidup bangsa Indonesia, dan identitas bangsa Indonesia dalam masyarakat internasional.
Secara ringkas, demokrasi Pancasila berprinsip kekeluargaan dan kegotong royongan, dimana segala permasalahan diselesaikan bersama, setiap masalah baik politik, sosial budaya bahkan ekonomi. Masalah kemiskinan suatu daerah adalah masalah bersama yang harus diselesaikan secara bersama.
Selain kelima sila dalam sila Pancasila, terdapat juga istilah ‘Bhineka Tunggal Ika’ yang bermakna berbeda tetapi satu jua, Dari istilah ini bisa dipahami keragaman itulah yang menjadi faktor kekuatan dan sekaligus kelemahan bangsa ini.
Dengan perbedaan maka suatu masalah dapat dilihat, dibaca dari beragam sisi, tidak hanya didominasi dan dimonopoli oleh salah satu pihak, inilah simpul kekuatan masyarakat ber’bhineka tunggal ika’. Keberagaman inipun dapat menjadi senjata yang mematikan bagi bangsa Indonesia yang dapat melukai dirinya sendiri jika tidak dikelola dengan baik, dalam masyarakat yang serba plural sudah pasti memiliki kepentingan-kepentingan yang prural pula, dan yang lebih ekstrim dengan munculnya fanatisme sempit ataupun semangat kedaerahan yang kerap kali muncul dalam masyarakat Indonesia.
Sebagai ‘keseharusan’, masyarakat ber‘bhineka tunggal ika’ sudah seharusnya mampu menerjemahkan istlah ‘Bhineka Tunggal Ika’ ini sebagai prinsip kekeluargaan dalam keberagaman mengingat istilah ini merupakan sebuah peringatan bagi Gajah Mada oleh Mpu Tantular, agar tidak mempersatukan Nusantara dengan perang, represif dan cara-cara kekerasan. Sebaliknya, mempersatukannya dengan cara damai, menyebarkan cinta kasih, dan kerja kemanusiaan pada sesama.
Lebih jauh, Bhineka Tunggal Ika sebenarnya harus dilengkapi dengan semboyan ‘Tan Hana Dharma Mangrwa’ yang akan lebih memberi makna lugas tentang pengabdian kepada kemanusiaan.
Bhineka tunggal ika, tan hana dharma mangrwa begitu semboyan yang digali dari Kitab Sotasoma, karangan Mpu, Maha Guru, Tantular. yang kurang lebih bermakna "Beraneka ragam itu satu, tiada kebenaran ganda" yang pada dasarnya merupakan seruan untuk memelihara persatuan dalam keragaman, bukan penyeragaman, dan pengabdian terhadap kemanusiaan.
Jangan pernah berpikir, semua orang berpikir sama denganmu, setiap orang tidak berpikiran sama, bahkan dapat menentangmu, tapi semua orang melangkah bersamamu menuju gerbang yang sama denganmu.28.03.2010
Yoehan Rianto Prasetyo
Langganan:
Postingan (Atom)