Seabad yang lampau berkumpulah para pemuda senusantara membahas
arti penting kebersamaan dalam perjuangan. Mengingat perjuangan
bersifat kedaerahan dengan mudah dipatahkan dan dininabobokan oleh
penguasa kolonial Belanda. Kesadaran sebagai sebuah bangsa yang satu
adalah modal yang penting menuju cita cita Indonesia merdeka. Para
pemuda sepakat untuk saling menegasikan segala perbedaan demi cita cita
yang mulia menuju sebuah bangsa yang bermartabat, berdaulat dan
berkeadilan sosial bagi warga negara kelak .
Gagasan yang kemudian dikenal sebagai sumpah pemuda menjadi tonggak
perjuangan bahgsa. Kesadaran neuron dalam berjejaring tumbuh seiring
kesadaran kolektifisme. Mengingat kaum menengah terpelajar yang dikirim
ke Eropa juga misi haji yang muatannya berdimensi sosial politik,
pentingnya negara merdeka dan berdaulat. Diikuti pendirian organisasi
kepemudaan dan partai politik baik moderat maupun garis keras. Momentum
kesadaran sebagai sebuah bangsa yang senasib sepenanggungan melahirkan
perasaan dan pendirian arti penting persamaan. Terlibatlah di dalamnya
ahli hukum, anggota volksraad, para dokter pribumi dan sekiranya para
pemuda yang memandang penting sebuah persatuan menuju negara merdeka.
(5 Sept 2012)
Ternyata nasionalisme kita jauh melampaui seperti yang tertulis
dalam sejarah resmi sekolahan. Nasionalisme kita berkumandang sejak
Sriwijaya dan semakin gilang gemilang ketika Majapahit berhasil dengan
ekspedisi nusantara. Sebagian besar wilayah asia tenggara saat sekarang
takluk dibawah panji Majapahit. Artinya sebagai bawahan maka kerajaan
se nusantara wajib membayar upeti sebagai bentuk kesetiaan kepada
Majapahit. Begitu juga para wanita cantik sebagai persembahan kepada
raja-raja Majapahit. Lantas apa yang tertinggal tidak lain dan tidak
bukan cerita panji dan keris.
Lho kok cerita panji dan keris so what
gitu loh "apa kaitan antara hal tersebut di atas dengan nasionalisme?"
Penulis terkesan seolah-olah mencari alasan pembenaran atau sedang
berdemagogy, Padahal sebagai bagian budaya nusantara kita wajib dan
berusaha sungguh-sungguh melestarikan warisan tradisi leluhur budaya
bangsa. Ini seolah-olah reasonable dan acceptable, silahkan bagi yang
bergeming dan menolak mentah-mentah. Tengoklah jiran kita sebelah,
sebagai negara yang gemah ripah loh jinawi okelah kita angkat
topi.
Namun untuk menjadi sebuah bangsa yang besar seperti Indonesia,
eiiiitssss tunggu dulu masbro, mbaksis dan saudara sebangsa setanah air.
Ini bukan sulap bukan sihir, ini bukan simsalabim abrakadabra, ini
bukan hasil peradaban bangsa yang haram jadah. Ini peradaban adalah
hasil proses berbangsa yang berbudaya luhur sejak berabad-abad silam
lamanya. Cobalah tengok warisan tradisi nusantara mulai dari tarian,
puisi dan karya satra lain, waow kita akan menemukan berjuta tradisi
nusantara yang kaya raya.
Ini pula yang menjadi landasan bangsa kita
indonesia merdeka dan berdaulat berbudaya adiluhung, krisis identitas
itulah the symbol of excelent jiran kita yang tercinta (maaf saudaraku
di Malaysia). Sebagai sebuah bangsa yang besar maka nasionalisme kita
adalah upaya yang sungguh-sungguh dan berkelanjutan melestarikan
tradisi. Maka nasionalisme tidak selalu identik dengan angkat senjata,
ganyang Malaysia, atau wajib militer. Nasionalisme Indonesia adalah
pengayom bagi segala peradaban umat manusia. Inilah mengapa kiranya
semboyan Bhineka Tunggal Ika kita pertahankan mati-matian lantaran
menjadi bangsa majemuk bukanlah aib atau kutukan. Melainkan kita saling
belajar dan saling, memperkaya satu sama lain.
Kiranya demikian adanya
bahwa nasionalisme adalah penghargaan yang setulusnya kepada
kemanusiaan yang adil beradab dan berketuhanan. Semoga kita tidak bosan
bosan menitipkan pesan bahwa nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme
berbudaya. Didalamnya mengandung penghargaan martabat, harga diri
sebagai sebuah bangsa. Lantas apa implementasi atau wujud nyata
nasionalisme kita. Kiranya perlu kita bangun lagi kita pupuk lagi
kesadaran dan kedaulatan sebagai sebuah bangsa, bukan dengan revolusi
fisik namun penataan ulang sendi-sendi fundamental dalam berbangsa.
Marilah kita satukan tekad kita bulatkan niat, berbaris beriring
menuju Indonesia yang lebih baik. Seruan-seruan moral haruslah terus
diteriakkan sekalipun serak dan bernada sumbang.
(19 Sept 2012)
Tony Herdianto
Warung kopi, tempat paling nyaman untuk berekspresi, wilayah kedaulatan dari bangsa yang bermartabat dalam alam demokrasi
Rabu, 19 September 2012
Minggu, 02 September 2012
Pancasila sebagai wajah 'nasionalisme' Indonesia
|
|
||
Jadi Pertanyaan, apa sebenarnya
"nasionalisme" yang sering kita dengar atau mungkin sering kita
bicarakan dan bahkan sama sekali kita lupakan? Memang sudah kebiasaan
masyarakat kita untuk mengambil yang mudah-mudah: nasionalisme adalah rasa cinta
tanah air, atau sebentuk kebanggaan dengan menampilkan warna 'merah-putih' dan
lambang garuda di jaket. Bolehlah seperti itu, tapi apa harus berhenti disitu?
Apa makna 'nasionalisme' sesungguhnya? Tentunya harus melihat perwujudan dari
nasionalisme itu sendiri.
Perwujudan nasionalisme tidak harus
dengan "anti-antian' terhadap produk budaya asing, toh istilah
'nasionalisme' sendiri juga merupakan produk budaya asing. Nasionalisme: dari
kata 'nation' yang berarti bangsa/kebangsaan dan 'isme' yang selalu dipakai
untuk menunjuk paham/ajaran/aliran. Berarti nasionalisme disini adalah paham
kebangsaan atau ajaran kebangsaan.
Wujud nasionalisme Indonesia adalah
pancasila, falsafah atau ajaran bangsa yang tidak sedang dimonopoli oleh partai
politik yang sepertinya juga sedang lupa untuk terus mengkampanyekan
"ajaran bangsa" ini. Pun bukan warisan dari salah satu ajaran agama
yang ada, salah besar kalau ada anggapan seperti itu, pancasilanya Majapahit
dan pancasilanya Indonesia sudah berbeda. Tentang ini nanti kalau ada
kesempatan bisa kita bicarakan lebih lanjut, yang pasti sementara yang saya
ketahui ajaran pancasila yang masih digunakan dalam agama Budha adalah
pancasila yang berisi anjuran dalam 'samadiy'-sementara belum saya
mengerti tentang istilah 'samadiy' ini, apakah sama dengan 'semedi' atau
mengheningkan cipta dalam bahasa Indonesia. Cukuplah dulu diketahui bahwa
istilah pancasila adalah istilah yang diperkenalkan oleh Ir. Soekarno dalam
pidatonya tertanggal 1 Juni 1945 dan digunakan untuk menyebut lima dasar negara
Indonesia merdeka, yang pasti tidaklah sama antara keduanya yaitu antara
pancasilanya Indonesia
Kenapa harus pancasila? Sebab inilah
kesepakatannya, kesepakatan bahwa kita adalah bangsa yang berketuhanan Yang
Maha Esa, berperikemanusiaan, bersatu atas dasar musyawarah dan berkeadilan.
Lalu bagaimana 'nasionalisme ala pancasila' ini? Tentunya dapat kita kaji
intisari dari pancasila yang lima sila ini.
Berangkat dari pendapat Soekarno
tentang pancasila, bagi soekarno pancasila yang lima sila ini dapat diperas
menjadi trisila yaitu sosionasionalisme, sosiodemokrasi dan ketuhanan Yang Maha
Esa. Sosionasionalisme adalaha gagasan yang dirumuskan Soekarno tentang
nasionalisme yang layak diterapkan di Indonesia.
Dalam artikel yang ia tulis tahun 1932,
Demokrasi-Politik dan Demokrasi Ekonomi, Soekarno menyinggung inti dari
sosio-nasionalisme yang ia rumuskan;
“Nasionalisme kita haruslah
nasionalisme yang tidak mencari gebyarnya atau kilaunya negeri keluar saja,
tetapi haruslah mencari selamatnya manusia.. Nasionalisme kita haruslah lahir
daripada ‘menselijkheid’. Nasionalismeku adalah nasionalisme kemanusiaan,
begitulah Gandhi berkata,
Nasionalisme kita, oleh karenanya,
haruslah nasionalisme yang dengan perkataan baru yang kami sebut: sosio-nasionalisme.
Dan demokrasi yang harus kita cita-citakan haruslah demokrasi yang kami
sebutkan: sosio-demokrasi”.
Jelas sudah bahwa nasionalisme
Indonesia haruslah nasionalisme yang bertujuan mencapai kebahagiaan umat
manusia dan bukannya nasionalisme yang mengagung-agungkan negeri ini di kancah
internasional saja. Maka dari itu, Soekarno menginginkan yang menjadi landasan
nasionalisme Indonesia adalah kemanusiaan. Bukan pula nasionalisme yang
mengisolasi dirinya terhadap dunia luar. Sosionasionalisme secara singkat
adalah nasionalisme yang tidak hanya mencintai tanah airnya semata tapi lebih
mendasarkan diri pada kecintaan terhadap rakyat jelata dan nasionalisme yang
memperjuangkan nasib rakyat jelata, yang dengan demikian adalah nasionalisme
yang memperjuangkan perbaikan hidup sesama.
Sosiodemokrasi adalah demokrasi yang
tidak sama dengan demokrasinya liberal yang hanya mengurusi kehidupan politik,
tapi demokrasi yang mengurusi juga kehidupan ekonomi dan sosial budaya, yang
berarti segala urusan kemasyarakatan, bangsa dan negara adalah diatur secara
gotong royong baik kehidupan ekonominya, politiknya dan sosial budayanya, jadi
pada dasarnya tidak berlaku apa yang disebut individualistis di
Indonesia.
Ketuhanan Yang Maha Esa, sekiranya
sudah cukup jelas hal ini, bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang bertuhan,
bangsa yang beragama meskipun bukan merupakan negara agama. Sekiranya cukup
pulalah dengan bertuhan, tetap mengakui eksistensi Tuhan maka segala
masalah-persoalan terselesaikan, tapi sering kita temui masyarakat kita sering
lupa akan Tuhan, bahkan kita sendiri juga seringnya lupa kalau bertuhan,
banyaknya kasus korupsi yang terungkap bukannya mengeliminir tindakan korupsi
tersebut, yang terjadi adalah malah menghebatnya kasus-kasus korupsi yang
menunjukkan bahwa Tuhan serasa hilang dibenak kita. Saya katakan kita, sebab
diam-diam terkadang kita pun turut bermental maling, "mumpung ngg'ada yang
lihat nyuri dulu ah..." atau "... maksiat dulu lah..."
Lebih lanjut dari trisila ini menurut Soekarno juga
masih dapat diperas menjadi eka sila: gotong royong, inilah inti dari pancasila
yang telah disepakati lahir pada tanggal 1 Juni 1945. Sebagaimana semboyan yang
melekat pada lambang Negara garuda pancasila yaitu “bhineka tunggal ika” yang
lengkapnya “bhineka tunggal ika, tan hanna dharma mangrwa” yang berarti
“berbeda-beda tetapi tetap satu jua, tidak ada kebenaran yang mendua” atau
berbeda tapi tetap satu, gotong royong yang utama.
Demikian nasionalisme Indonesia yang seharusnya
berbeda dengan nasionalisme Eropa, nasionalime yang tidak hanya sekedar
kebanggan dan rasa cinta tanah air semata, tapi nasionalisme yang atas dasar
kegotong royongan, yaitu nasionalisme yang memperjuangkan perbaikan hidup sesama.
Jumat, 20 Juli 2012
Kiri Islam, Islam dan sosialisme
Sosialisme, muncul sebagai reaksi terhadap kondisi buruk yang dialami rakyat di bawah sistem kapitalisme-liberal yang tamak dan murtad. Kondisi buruk terutama dialami kaum pekerja atau buruh yang bekerja di pabrik-pabrik dan pusat-pusat sarana produksi dan transportasi. Sejumlah kaum cendekiawan muncul untuk membela hak-hak kaum buruh dan menyerukan persamaan hak bagi semua lapisan, golongan dan kelas masyarakat dalam menikmati kesejahteraan, kekayaan dan kemakmuran. Mereka menginginkan pembagian keadilan dalam ekonomi Di antara tokoh-tokoh awal penganjur sosialisme dapat disebut antara lain: St. Simon (1769-1873), Fourisee (1770-1837), Robert Owen (1771-1858) dan Louise Blane (1813-1882). Setelah itu baru muncul tokoh-tokoh seperti Proudhon, Marx, Engels, Bakunin dan lain sebagainya.
Pada akhir abad ke-19 sosialisme dan berbagai alirannya mulai mendapat penerimaan luas di Eropa. Ini disebabkan karena mereka tidak hanya melontarkan ide-ide dan mengembangkan wacana di kalangan intelektual dan kelas menengah, tetapi juga terutama karena mengorganisir gerakan-gerakan bawah tanah yang radikal dan bahkan revolusioner.
Walaupun faham sosialisme atheis ditolak oleh para cendikiawan dan ulama, sejumlah cendekiawan Muslim sendiri memandang bahwa dalam Islam sebenarnya terkandung ajaran ‘semacam sosialisme’. Ajaran ini tidak hanya terpendam sebagai cita-cita, tetapi malah telah dipraktekkan pada masa hidup Nabi dan khalifah al-rasyidin. Di antara cendikiawan Muslim abad ke-20 yang mengemukakan hal ini ialah Mohamad Hatta dan Muhammad Husein Heikal.
Bung Hatta menyatakan “Jiwa Islam berontak terhadap kapitalisme yang menghisap dan menindas, yang menurunkan derajat manusia, yang membawa sistem yang lebih jahat daripada perbudakan, daripada feodalisme. Dunia ini kepunyaan Allah semata-mata yang disediakan untuk tempat kediaman manusia sementara, dalam perjalanannya menuju dunia baka. Kewajiban manusia tidaklah memiliki dunia, yang kepunyaan Allah, melainkan memeliharanya sebaik-baiknya dan meninggalkannya (mewariskan) kepada angkatan kemudian dalam keadaan yang lebih baik dari yang diterimanya dari angkatan terdahulu.”
Sebelumnya dalam risalahnya “Persoalan Ekonomi Sosialis Indonesia” (1963) Bung Hatta menulis: “Sekarang, bagaimana duduknya sosialisme Indonesia? Cita-cita sosialisme lahir dalam pangkuan pergerakan kebangsaan Indonesia. Dalam pergerakan yang menuju kebebasan dari penghinaan diri dan penjajahan, dengan sendirinya orang terpikat oleh tuntutan sosial dan humanisme – perikemanusiaan – yang disebarkan oleh pergerakan sosialisme di benua Barat… Tuntutan sosial dan humanisme itu tertangkap pula oleh jiwa Islam, yang memang menghendaki pelaksanaan … perintah Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang serta Adil, supaya manusia hidup dalam sayang menyayangi dan dalam suasana persaudaraan dengan tolong-menolong”.
Adapun Kiri Islam dari Hassan hanafi yang pada dasarnya merupakan kritik terhadap borjuasi yang diterapkan pangeran-pangeran Arab. Hassan Hanafi meluncurkan jurnal berkalanya: Al-Yasar al Islami: Kitabat fi an Nahdhah al Islamiyyah (Kiri Islam: Beberapa esai tentang kebangkitan Islam) pada tahun 1981 setelah kemenangan revolusi Islam di Iran. Hassan Hanafi menggambarkan adanya kecenderungan kooptasi agama oleh kekuasaan, dan praktik keagamaan diubah menjadi semata-mata ritus. Hassan Hanafi melihat kecenderungan ini terjadi hanyalah sebagai topeng untuk menyembunyikan feodalisme kesukuan dan kapitalisme kesukuan. Liberalisme pun tidak luput dari sasaran kritik kiri Islam, meskipun secara teori, liberalisme adalah anti kolonial, tapi liberalisme sendiri merupakan produk kolonialisme Barat. Faktanya liberalisme sendiri hingga kini didukung oleh suatu kelas yang mengendalikan kesejahteraan nasional.
Kiri Islam bukanlah muslim berbaju marxis, sebab ia juga hadir sebagai kritik terhadap marxisme, dalam pembelaannya yang memperjelas kehadiran kiri Islam adalah sebagai bentuk perjuangan yang mengusik kemapanan politik dan agama. Isu utamanya adalah kolonialisme, kapitalisme dan zionisme yang telah mengkotakkan Islam dalam permasalahan-permasalahan akut seperti kemiskinan, penindasan dan keterbelakangan. Jadi jelas bahwa Kiri Islam tidak memncapur adukkan perjuangannya dengan pandangan sosialis meskipun dapat dikatakan memiliki permasalahan yang sama.
Memang kecenderungan atheisme yang terdapat dalam faham sosialisme modern dengan sendirinya akan ditolak oleh masyarakat beragama. Akan tetapi beberapa aspek dari pemikiran kaum sosialis seperti keadilan sosial itu tidak ditolak. Di kalangan cendekiawan Muslim tidak sedikit pula yang berpendapat bahwa dalam Islam sebenarnya terdapat pula ajaran yang sejalan dengan pokok-pokok pemikiran yang dikemukakan oleh sosialisme modern. Di antara tokoh-tokoh Islam yang berpendapat demikian antara lain ialah Muhammad Iqbal dan Muhammad Husein Heikal. Di Indonesia, sosialisme religius telah dianjurkan sejak awal abad ke-20 oleh tokoh-tokoh seperti Cokroaminoto pada tahun 1905 (bukunya Islam dan Sosialisme) dan K. H. Agus Salim. Cokroaminoto memandang sistem kapitalisme yang dibawa oleh pemerintah Hindia Belanda di Indonesia merupakan bentuk dari “Kapitalisme Murtad”. Adapun Haji Misbach yang sering disebut Haji Merah lebih memilih komunisme dalam perjuangannya, disamping ia juga berpendapat bahwa slam dan komunisme tidak selalu harus dipertentangkan, Islam seharusnya menjadi agama yang bergerak untuk melawan penindasan dan ketidakadilan.
Kiri Islam dan Sosialisme dalam kehadirannya menyerukan tentang keadilan sosial, ia tidak muncul dari keadaan hampa yang mengada-ada, ia mencoba menjawab setiap ketimpangan hasil kapitalisme-liberalistis lewat kritik sekaligus menyerang praktek borjuasi. Borjuasi meskipun memberi kesan tudingan terhadap suatu kelas tertentu dalam masyarakat, tapi juga adalah gaya hidup yang pada dasarnya dalam ajaran Islam mendapat tentangan dan merupakan hal yang patut dijauhi, sebagaimana yang disebutkan dalam Surat At Takatsur (saya tidak memiliki kewenangan dalam membahas terjemahannya) yang kurang lebih memuat larangan untuk hidup bermegah-megahan.
Begitupun dengan jargon "rahmatan lil'alamin" yang menyatakan kehadiran Islam sebagai "rahmat sekalian alam" yang bagi saya sendiri juga membawa semangat egalitarian yang menentang bentuk kelas sosial, dimana tidak terdapat penghisapan manusia oleh manusia. Hanyalah fatamorgana duniawi yang menghasut orang untuk terlena dalam kekuasaan dan kemegahan. Tentang agama sebagai ujung tombak politik, bolehlah kita buka suatu diskusi untuk mencari jalan kesepakatan menuju suatu tatanan kemasyarakatan yang adil dan sejahtera yang benar-benar mempraktekkan jargon "rahmatan lil'alamin" bukan "kapitalisme lil'alamin" apalagi "syahwatan lil'alamin". salam.
Jumat, 29 Juni 2012
motivasi dari tembang "lir-ilir"
Dapatlah saya bayangkan bagaimana situasi saat pertama sekali lagu ini diperkenalkan kepada masyarakat yang masih memegang teguh adat-tradisinya. Sejenak memang seperti sebuah ajakan untuk berkumpul dalam suatu pertemuan-lebih dari itu saya membayangkan adanya sekumpulan masyarakat dengan diskusi-diskusi yang tidak dibatasi oleh status sosial (bolehlah saya mereka-reka gambaran sejarahnya). Seperti dialog punakawan dalam memecahkan persoalan yang dihadapi oleh petinggi-petinggi wayang. Sangat proletar kalau boleh saya bilang meskipun saya tidak pernah tahu menahu soal seni dan sejarah.
Tentu sebagai orang yang awam saya juga mengerti tentang adanya "isi sampaian" dalam suatu karya, termasuk juga dalam lagu "Lir-ilir" ini. Selain gambaran yang tiba-tiba memenuhi isi kepala, juga tentang misi motivasi yang saya tangkap dalam lagu tersebut. Berikut syair lagunya:
Lir ilir lir ilir tandure wis sumilir
Tak ijo royo royo
Tak sengguh panganten anyar
Cah angon cah angon penekna blimbing kuwi
Lunyu lunyu penekna kanggo mbasuh dodotira
Dodotira dodotira kumintir bedah ing pinggir
Dondomana jrumatana kanggo seba mengko sore
Mumpung padang rembulane
Mumpung jembar kalangane
Sun suraka surak hiyo
Berikut (kurang-lebih) dalam bahasa Indonesia:
Sayup-sayup bangun (dari tidur)
Pohon sudah mulai bersemi,
Demikian menghijau bagaikan gairah pengantin baru
Anak penggembala, tolong panjatkan pohon blimbing itu
walaupun licin(susah) tetap panjatlah untuk mencuci pakaian
Pakaian-pakaian yang koyak(buruk) disisihkan
Jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti sore
Mumpung terang rembulannya
Mumpung banyak waktu luang
Mari bersorak-sorak ayo…
"Lir-ilir" memberi motivasi untuk segera bangkit, yang berilmu jangan hanya jadi "petapa", jadilah teladan bagi yang lain. Yang muda bangkit mencari ilmu, kebodohan tidak akan dapat lenyap tanpa adanya aksi. Bangkit membangun diri, bangkit membenahi diri untuk membenahi bangsa. bangkit bekerja, mengabdi di jalan Allah."Lir-ilir, tandure wis sumilir" yang berarti bangkitlah, waktunya telah tiba, inilah, kinilah saatnya bangkit dan berbenah. "Tak ijo royo royo", segar menghijau seperti tanaman muda yang bersemi, diliputi semangat untuk bekerja-membangun dan berbenah. "Tak sengguh panganten anyar" seperti menyambut kehadiran pengatin baru, membangun satu keluarga/kekeluargaan (gotong royong).
"Cah angon cah angon penekno blimbing kuwi, Lunyu lunyu penekna kanggo mbasuh dodotira." Dimaksud disini adalah pemimpin. Orang yang mampu menjadi imam yang baik yang mengajarkan syari’at Islam. Dan belimbing adalah buah bersegi lima, yang merupakan simbol dari lima rukun Islam. Disamping itu, tiap-tiap orang adalah pemimpin, pemimpin bagi diri sendiri dan pemimpin bagi yang lain (terkait dengan keteladanan). "lunyu-lunyu penekna, kanggo mbasuh dodotiro", susah-sulit tuntunlah, beri keteladanan untuk senantiasa berbenah.
"Dodotira dodotira kumintir bedah ing pinggir", sisihkan sifat / tradisi / kebiasaan yang sudah tidak lagi bermanfaat, yang buruk, yang merugikan hendaklah dihilangkan, jangan terus dipelihara dan bahkan dilestarikan. "Dondomana jrumatana kanggo seba mengko sore" benahi yang sudah ada, lengkapi yang kurang, sepertinya berkaitan dengan pembenahan/pembangunan akhlak-moralitas dari tiap-tiap generasi, yang sudah ada (ditemukan) dan dianggap baik dan bermanfaat dipertahankan dan lengkapi lagi ilmu agar sempurna yang telah ada.
"Mumpung padang rembulane, Mumpung jembar kalangane, Sun suraka surak hiyo" mumpung masih ada kesempatan untuk berbenah, setiap waktu adalah saat untuk berbenah dengan senantiasa menyambut pengetahuan dengan bersuka/ hati terbuka.
Demikian yang ada dalam otak saya ketika mendengar lagu "lir-ilir", yang mungkin belum sepenuhnya sempurna, saya anggap "belum sempurna" sebab apa yang saya pikirkan ini masih juga perlu dibenahi (dilengkapi) dengan sudut pandang lain. Semoga bermanfaat. salam.
Senin, 07 Mei 2012
Islam dan Demokrasi (1)
Tulisan ini tidak mempunyai kehendak semacam gendang yang dipukul
bertalu-talu. Juga tidak membuat suasana hingar bingar yang sudah
diwakili masyarakat Indonesia kontemporer. Juga tidak hendak
memprovokasi agar perjuangan haruslah melalui jalan kekerasan melainkan
mari kita saling lempar wacana , bukan lempar handuk sembunyi badan
.Hanya saja kemudian mencoba menyambung sebuah diskusi informal dengan
seorang kawan tentang relevansi demokrasi dan Islam. Pertanyaan mendasar
adalah kompatibelkah antara dua arus besar untuk bersatu jika keduanya
mengusung kecurigaan. Bahwa dibutuhkan penerimaan yang tulus dan sungguh
sungguh para pihak agar terbangun jembatan penghubung antar peradaban.
Jika peradaban dinasti yang berkuasa pasca khalifah disebut model ideal tentang negara. Maka kita akan mundur ke belakang sejak sebelum Islam diajarkan Oleh nabi Muhammad. Bahwa budaya patriarki adalah sebelum kedatangan nabi sudah ada maka peradaban yang hendak dibangun oleh kalangan pengusung daulah kedinastian bisa saja mendekati abad kegelapan. Maka ada namanya jalan tengah, mungkin model ini diterapkan oleh negara Turki saat sekarang. Sekalipun ide tentang sekularisasi meluluhlantakkan peradaban Turki pasca perang dunia kedua , saat sekarang pelan tapi pasti meminjam istilah Peter L Berger bahwa peran agama diterima selaku benar adanya.
Maka runtuhlah ide sekularisasi yang diusung oleh peradaban Eropa berikut sistem jelmaan manusia yang rakus. Imperialisme,kapitalisme,liberalisme dan matinya komunis seiring dengan semakin seksinya sosialis bertabur kue kapitalisme model Cina. Maka demokrasi tidak menyingkirkan peranan agama sama sekali bahkan berkolaborasi membangun sebuah negara bangsa semacam Indonesia. Kita temukan dalam mukadimah undang undang dasar 1945. Ideologi bangsa juga bersumber atas kehendak atau campur tangan Tuhan yang maha esa.
Dari sini kita akan temukan bahwa model negara bangsa menemukan jalannya ketika kita melihat diri sendiri sebagai sebuah bangsa Indonesia yang utuh. Kita berdiri di atas berbagai kemajemukan , bhineka tungga ika. Dan para pendiri bangsa paham betul bahwa peranan agama sangat relevan dan kompatibel dengan negara bangsa. Maka demokrasi Pancasila mengelaborasi peranan agama dalam sebuah negara bangsa Indonesia.
Tony Herdianto
Jika peradaban dinasti yang berkuasa pasca khalifah disebut model ideal tentang negara. Maka kita akan mundur ke belakang sejak sebelum Islam diajarkan Oleh nabi Muhammad. Bahwa budaya patriarki adalah sebelum kedatangan nabi sudah ada maka peradaban yang hendak dibangun oleh kalangan pengusung daulah kedinastian bisa saja mendekati abad kegelapan. Maka ada namanya jalan tengah, mungkin model ini diterapkan oleh negara Turki saat sekarang. Sekalipun ide tentang sekularisasi meluluhlantakkan peradaban Turki pasca perang dunia kedua , saat sekarang pelan tapi pasti meminjam istilah Peter L Berger bahwa peran agama diterima selaku benar adanya.
Maka runtuhlah ide sekularisasi yang diusung oleh peradaban Eropa berikut sistem jelmaan manusia yang rakus. Imperialisme,kapitalisme,liberalisme dan matinya komunis seiring dengan semakin seksinya sosialis bertabur kue kapitalisme model Cina. Maka demokrasi tidak menyingkirkan peranan agama sama sekali bahkan berkolaborasi membangun sebuah negara bangsa semacam Indonesia. Kita temukan dalam mukadimah undang undang dasar 1945. Ideologi bangsa juga bersumber atas kehendak atau campur tangan Tuhan yang maha esa.
Dari sini kita akan temukan bahwa model negara bangsa menemukan jalannya ketika kita melihat diri sendiri sebagai sebuah bangsa Indonesia yang utuh. Kita berdiri di atas berbagai kemajemukan , bhineka tungga ika. Dan para pendiri bangsa paham betul bahwa peranan agama sangat relevan dan kompatibel dengan negara bangsa. Maka demokrasi Pancasila mengelaborasi peranan agama dalam sebuah negara bangsa Indonesia.
Tony Herdianto
Pemimpin belajar memimpin
Kecenderungan yang terjadi adalah pengabaian kepemimpinan diri sendiri dan berusaha memimpin dan mempengaruhi orang lain, hasilnya bukan memimpin tetapi memerintah bahkan memaksa orang lain (dengan beragam cara dan sifat orang lain untuk mengikuti kehendak).
Pada dasarnya setiap orang adalah pemimpin, namun tiap orang tidak akan lepas dari orang lain, maka tiap orang juga membutuhkan kepemimpinan orang lain. Dari sini terdapat juga proses belajar, secara sederhana proses belajar adalah juga suatu proses berubah; dari tidak tahu menjadi tahu, atau dari tidak mengerti menjadi mengerti, berubah bukan? Terutama dalam hal perilaku, belajar tanpa ada perubahan tingkah laku ibarat pohon yang tiada berbuah. Percuma.
Dalam belajar seseorang juga turut mempelajari aturan, misalnya ketika belajar mengendarai sepeda motor yang tidak hanya mempelajari cara mengendalikan mesin yang mengefektifkan transportasi kita tersebut, tapi aturan berkendaranya juga. Kalau hanya sekedar mempelajari cara mengendalikan mesinnya saja, hasilnya ya babak belur di jalan raya.
Mempelajari lalu mengetahui aturan adalah kewajiban, sebagaimana yang pernah ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer "Semakin tinggi sekolah bukan berarti semakin menghabiskan makanan orang lain. Harus semakin mengenal batas" yang dapat dipahami dalam hal ini adalah semakin dalam pengetahuan seseorang maka semakin banyak pula aturan yang dia pahami, kecenderungan dalam realitas memang sering terbalik dimana semakin tinggi pendidikan seseorang malah semakin tidak mengenal batas, sebaliknya malah tambah rakus.
Demikian pentingnya proses belajar, tentunya sangat penting bagi seorang pemimpin yang sekaligus berperan sebagai panutan (teladan), akan jadi pertanyaan ketika seorang pemimpin tidak mau belajar, apa yang dapat di'panut' dari seorang pemimpin yang enggan belajar? Sebagaimana juga guru, yang katanya 'digugu dan ditiru' yang harus memiliki semangat belajar tinggi yang tidak kalah dengan anak didiknya, apa yang dapat dipelajari dari guru yang enggan belajar, bukan?
Perlu mendapat perhatian disini adalah juga tentang tiga kecerdasan yang harus dimiliki seorang pemimpin, antara lain:
Kecerdasan spiritual/ spiritual quotient (SQ), terkait kesadaran akan siapa diri. Menurut Nabi Muhammad, siapa yang mengenali dirinya maka ia pun mengenal Tuhannya. Lebih dari itu, pengetahuan keagamaan adalah sangat penting terkait pemimpin juga adalah seorang teladan bagi yang dipimpin.
kedua adalah emosional/Emotional quotient (EQ), terkait dengan perasaan memang dan penataan emosi yang nantinya diharapkan juga terdapat penguasaan dan pengendalian diri, secara sederhananya adalah kedisiplinan yang terkait dengan penempatan segala sesuatu dengan tepat dan benar, termasuk menempatkan diri dengan tepat dan benar. Benar harus digaris bawahi sebab menyangkut perilaku yang sesuai dengan aturan. Bagaimana jadinya jika kita dipimpin oleh seorang yang tidak terkendali?
Selanjutnya adalah kecerdasan intelektual (IQ), seseorang yang terasah kecerdasan intelektualnya adalah seseorang yang mampu membedakan antara yang salah dan yang benar. sekali lagi'yang benar'. Kecerdasan intelektual akan memberikan banyak pilihan bagi seseorang untuk merumuskan kebijakan (keputusan). Dan yang patut diingat, dalam kecerdasan ini, peran hati nurani sungguh cukup besar. Seorang pemimpin yang terasah kecerdasan intelektualnya juga merupakan seorang kreator bagi yang dipimpinnya, dengan begitu ia tidak akan mudah dihasut dan dijilat.
Memang tidak terdapat ciri-ciri yang dapat menunjukkan sosok pemimpin yang ideal, kembali lagi, proses belajar menjadi hal utama disini, pemimpin yang memiliki semangat belajar yang tinggi bisa jadi merupakan sosok ideal sebab pemimpin yang seperti ini akan senantiasa berbenah. Pemimpin yang senantiasa berbenah tentunya adalah sosok yang lebih mengutamakan orang-orang yang dipimpinnya; terbuka dan tidak segan mengajak orang lain untuk selalu bersiap dengan perubahan. Lebih dari itu, dalam hal pembangunan bangsa hingga saat ini adalah munculnya sosok-sosok yang mampu menjadi teladan, tentunya untuk membentuk suatu tatanan masyarakat yang baik, bukankah dari masyarakat yang baik akan muncul pemimpin yang baik? Tentu pula pembangunan semacam ini berangkat dari lingkup terkecil dalam masyarakat: keluarga, dan belajar adalah proses tanpa akhir sebagaimana sering kita dengar "menuntut ilmu adalah jihad." Salam.
Rabu, 18 April 2012
Nation Character Building
Di mata Sukarno, sebuah bangsa yang telah dijajah 3,5 abad lamanya, tentunya meninggalkan banyak sekali kerusakan, ubtuk itu (bagi Soekarno) perlu ditekankan pembangunan mental dan karakter kebangsaan untuk membenahi setiap sendi kehidupan bangsa~terutama sekali disini adalah mentalitasnya.
Selama berabad-abad bangsa ini menjadi budak bangsa lain, bahkan ada sebagian yang harus rela jadi pengkhianat semacam centeng ataupun mata-mata sekedar untuk bertahan hidup. Ketertundukkan, ketergantungan, ketakutan dan jilat-menjilat malah jadi tradisi hingga saat ini, bahkan memperbudak bangsa sendiri jika perlu, padahal perbudakan adalah hal yang tidak manusiawi dan sudah seharusnya kita memerangi segala yang tidak manusiawi.
Demikian, bagi Soekarno adalah sangat penting untuk membenahi mentalitas bangsa Indonesia.
Sedikitnya ada empat gagasan Soekarno dalam hal ini, yang pertama adalah kemandirian yang oleh Soekarno dikenalkan dengan istilah "Berdikari"- berdiri diatas kaki sendiri, logika sederhananya adalah ketika seseorang memiliki ketergantungan yang besar terhadap orang lain, maka ia semakin terasing dalam kehidupannya; tidak mengenal kehidupannya, begitupun suatu bangsa yang memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap bangsa lain, (dan) sedang Indonesia memiliki potensi alam yang melimpah.
Kedua, kedaulatan rakyat untuk mengganti sistem-sistem sebelumnya seperti feodalisme dan kolonialisme.Sampai ketika artikel ini ditulis, sistem-sistem tersebut masih juga berlaku-baik secara sadar maupun tidak sadar, dilakukan oleh pejabat; aparat maupun masyarakat. Kedaulatan rakyat, dimana rakyatlah yang memegang kekuasaan tertinggi, bukan para raja atau pemilik modal. Untuk itu, perlunya penegakkan hukum untuk menjamin keadilan sosial, bukan hukum atau peraturan yang memiliki 'standar ganda' dalam pelaksanaannya, tidak hanya efektif untuk rakyat kecil tapi bisa toleran bagi orang-orang dalam lingkar kekuasaan dan para pemodal.
Ketiga, persatuan, ini yang maha penting, terkait pula disini adalah nasionalisme yang ditekankan oleh Soekarno yaitu sosionasionalisme, dimana nasionalisme yang tidak hanya sekedar mencintai tanah air dan bangsanya saja, tapi lebih mendasarkan diri kepada kecintaannya untuk memperjuangkan rakyat kecil. Indonesia adalah negara kepulauan yang dihuni oleh beragam suku, ethnik yang harus dipersatukan dalam satu kesadaran berbangsa. Lebih lanjut, pernah juga Soekarno mengungkapkan "nasionalismeku adalah perikemanusiaanku" yang juga memberi perbedaan secara tegas antara nasionalisme yang harus ada di Indonesia dengan nasionalisme bangsa Eropa, menurut Soekarno nasionalisme Eropa telah memunculkan kolonialisme dan imperialisme yang menghisap, sedang nasionalisme Indonesia itu harus berdasarkan kegotong royongan dan kesetaraan (egalitarian).
Keempat bargaining position, katakan saja kewibawaan bangsa dan negara, terkait dengan alasan terbentuknya bangsa dan negara Indonesia sebagaimana terbentuknya negara pada umumnya negara-negara didunia yaitu mewujudkan keamanan dan ketertiban untuk mencapai kesejahteraan nasional. Hal ini tidak akan mungkin terjadi tanpa adanya kewibawaan negara, kewibawaan negara meredup tatkala hukum peraturan perundang-undangan mulai dapat dinegosiasi, yang terjadi adalah berlakunya hukum rimba: yang kuat yang menang. Sebagaimana juga semboyan sekaligus prasyarat kapitalisme-liberalistis "peran negara sekecil-kecilnya, pasar sebesar-besarnya." Dengan begitu, jangankan bangsa, negara saja akan kehilangan kewibawaannya bukan?.
Patut diingat pula, manusia memiliki kecenderungan untuk berubah, maka nation character building adalah suatu proses yang tidak berhenti, sebab karakter akan selalu mengikuti perubahan manusia itu sendiri, dan karakter adalah suatu moral atau akhlak yang berada diatas suatu bangunan watak, tabiat atau kepribadian yang juga menjaga sekaligus membentuk watak kepribadian tersebut.
Kecenderungan manusia untuk berubah adalah untuk menyempurnakan kepribadiannya- menyesuaikan dengan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Manusia dianugerahi dua jalan, manusia berjalan dalam hidupnya berbuat salah lalu bertobat dan berbenah agar tidak melakukan kesalahan yang sama. Begitupun moralitas selalu menuju universalitas sebab dia memiliki dasar adalah kemanusiaan, dan kemanusiaan adalah sama dimanapun dan kapanpun.
Dan dialog terbuka antar generasi adalah suatu harapan untuk mencapai kesempurnaan itu, disamping harus berpedoman dan kembali pada perintah Tuhan, sebagai seorang muslim saya katakan bahwa manusia itu harus selalu kembali kepada Al-Qur'an sebagai petunjuk dalam menjalani kehidupan, dan bukankah Islam adalah "rahmatan lil'alamin" bagaimana mungkin dapat mewujudkannya jika perilaku tidak "rahmatan"? Sebagaimana sering saya berdo'a "Robbana atinnafidunya khasanah, wa fil akhiroti khasanah..." yang berarti saya harus menjadi "khasan" itu dulu untuk mencapai "khasanah" dunia dan akhirat.
Selama berabad-abad bangsa ini menjadi budak bangsa lain, bahkan ada sebagian yang harus rela jadi pengkhianat semacam centeng ataupun mata-mata sekedar untuk bertahan hidup. Ketertundukkan, ketergantungan, ketakutan dan jilat-menjilat malah jadi tradisi hingga saat ini, bahkan memperbudak bangsa sendiri jika perlu, padahal perbudakan adalah hal yang tidak manusiawi dan sudah seharusnya kita memerangi segala yang tidak manusiawi.
Demikian, bagi Soekarno adalah sangat penting untuk membenahi mentalitas bangsa Indonesia.
Sedikitnya ada empat gagasan Soekarno dalam hal ini, yang pertama adalah kemandirian yang oleh Soekarno dikenalkan dengan istilah "Berdikari"- berdiri diatas kaki sendiri, logika sederhananya adalah ketika seseorang memiliki ketergantungan yang besar terhadap orang lain, maka ia semakin terasing dalam kehidupannya; tidak mengenal kehidupannya, begitupun suatu bangsa yang memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap bangsa lain, (dan) sedang Indonesia memiliki potensi alam yang melimpah.
Kedua, kedaulatan rakyat untuk mengganti sistem-sistem sebelumnya seperti feodalisme dan kolonialisme.Sampai ketika artikel ini ditulis, sistem-sistem tersebut masih juga berlaku-baik secara sadar maupun tidak sadar, dilakukan oleh pejabat; aparat maupun masyarakat. Kedaulatan rakyat, dimana rakyatlah yang memegang kekuasaan tertinggi, bukan para raja atau pemilik modal. Untuk itu, perlunya penegakkan hukum untuk menjamin keadilan sosial, bukan hukum atau peraturan yang memiliki 'standar ganda' dalam pelaksanaannya, tidak hanya efektif untuk rakyat kecil tapi bisa toleran bagi orang-orang dalam lingkar kekuasaan dan para pemodal.
Ketiga, persatuan, ini yang maha penting, terkait pula disini adalah nasionalisme yang ditekankan oleh Soekarno yaitu sosionasionalisme, dimana nasionalisme yang tidak hanya sekedar mencintai tanah air dan bangsanya saja, tapi lebih mendasarkan diri kepada kecintaannya untuk memperjuangkan rakyat kecil. Indonesia adalah negara kepulauan yang dihuni oleh beragam suku, ethnik yang harus dipersatukan dalam satu kesadaran berbangsa. Lebih lanjut, pernah juga Soekarno mengungkapkan "nasionalismeku adalah perikemanusiaanku" yang juga memberi perbedaan secara tegas antara nasionalisme yang harus ada di Indonesia dengan nasionalisme bangsa Eropa, menurut Soekarno nasionalisme Eropa telah memunculkan kolonialisme dan imperialisme yang menghisap, sedang nasionalisme Indonesia itu harus berdasarkan kegotong royongan dan kesetaraan (egalitarian).
Keempat bargaining position, katakan saja kewibawaan bangsa dan negara, terkait dengan alasan terbentuknya bangsa dan negara Indonesia sebagaimana terbentuknya negara pada umumnya negara-negara didunia yaitu mewujudkan keamanan dan ketertiban untuk mencapai kesejahteraan nasional. Hal ini tidak akan mungkin terjadi tanpa adanya kewibawaan negara, kewibawaan negara meredup tatkala hukum peraturan perundang-undangan mulai dapat dinegosiasi, yang terjadi adalah berlakunya hukum rimba: yang kuat yang menang. Sebagaimana juga semboyan sekaligus prasyarat kapitalisme-liberalistis "peran negara sekecil-kecilnya, pasar sebesar-besarnya." Dengan begitu, jangankan bangsa, negara saja akan kehilangan kewibawaannya bukan?.
Patut diingat pula, manusia memiliki kecenderungan untuk berubah, maka nation character building adalah suatu proses yang tidak berhenti, sebab karakter akan selalu mengikuti perubahan manusia itu sendiri, dan karakter adalah suatu moral atau akhlak yang berada diatas suatu bangunan watak, tabiat atau kepribadian yang juga menjaga sekaligus membentuk watak kepribadian tersebut.
Kecenderungan manusia untuk berubah adalah untuk menyempurnakan kepribadiannya- menyesuaikan dengan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Manusia dianugerahi dua jalan, manusia berjalan dalam hidupnya berbuat salah lalu bertobat dan berbenah agar tidak melakukan kesalahan yang sama. Begitupun moralitas selalu menuju universalitas sebab dia memiliki dasar adalah kemanusiaan, dan kemanusiaan adalah sama dimanapun dan kapanpun.
Dan dialog terbuka antar generasi adalah suatu harapan untuk mencapai kesempurnaan itu, disamping harus berpedoman dan kembali pada perintah Tuhan, sebagai seorang muslim saya katakan bahwa manusia itu harus selalu kembali kepada Al-Qur'an sebagai petunjuk dalam menjalani kehidupan, dan bukankah Islam adalah "rahmatan lil'alamin" bagaimana mungkin dapat mewujudkannya jika perilaku tidak "rahmatan"? Sebagaimana sering saya berdo'a "Robbana atinnafidunya khasanah, wa fil akhiroti khasanah..." yang berarti saya harus menjadi "khasan" itu dulu untuk mencapai "khasanah" dunia dan akhirat.
Label:
artikel
Lokasi:
Jalan Plaosan, Malang, Indonesia
Langganan:
Postingan (Atom)
