Minggu yang lalu tepatnya tanggal 5 februari kami bersama rombongan
berangkat menuju kota gudeg, kami berangkat dalam satu rombongan bus
besar berkapasitas 60 penumpang, perjalanan awal berjalan sangat lancar
meskipun hujan rintik menyertai.
Jalanan dari Kota Jember tempat
kami start dalam kondisi baik, kami break di Tanggul untuk melaksanakan
shalat maghrib berjamaah, sepanjang jalan melalui kota mulai Lumajang
Probolinggo semua berjalan dengan baik dan kami berhenti sejenak di Kota
Nguling Kab. Pasuruan untuk mengangkut kawan kita asisten tour leader
kami. perjalanan terhambat di km 2 Jalan Raya Sedarum, setelah
sebelumnya bus berhenti di SPBU Sedarums perjalanan kembali tersendat di
jalan raya Ngopak karena dua hari sebelumnya banjir merendam kota kecil
Ngopak. Lanjut di jalan raya Pos Daendels wilayah Kota Pasuruan air
tampak menggenang disisi jalan akibat hujan deras intensitas tinggi.
Sampai Kota Bangil cuaca sedikit membaik ketika hujan reda namun hujan
turun lagi selepas km 5 dari Kota Bangil mengguyur seras sampai jalan
raya Kejapanan, hujan reda sampai Kota Mojosari lanjut ke Mojokerto.
Jombang diliputi awan kegelapan namun hujan tidak sampai turun. Berturut
Kertosono-Nganjuk-Caruban-Ngawi-Sragen-Solo dan berhenti sewaktu adzan
subuh berkumandang, kami istirahat shalat dan makan di rumah makan
Grafika Kalasan Jogyakarta. Setelah peserta rombongan dalam keadaan
segar bugar karena mandi dan perut terisi kami langsung menuju sasaran
utama P4TK matematika Jogyakarta, disini sebenarnya secara fisik peserta
pelatihan sudah teramat lelah, namun mereka memaksakan untuk terus ikut
pelatihan. appreciate to them.
Selama kurang lebih 8 jam
pelatihan plus satu jam istirahat shalat makan di tempat pelatihan. saya
pribadi mencari suasana lain, seperti biasa kopi pengganti susu kemasan
yang susah carinya disekitar lokasi pelatihan, setelah berputar putar
mampirlah saya di warung pojok penjual mie rebus dan mie goreng, dari
logatnya baru saya ketahui bahwa mereka berasal dari Jawa Barat yang
khas logat Sundanya. Saya kemudian menikmati suguhan susu coklat dan
secara tiba-tiba dihampiri seorang pemuda dengan logat khas Madura
bertanya saya dari mana.
Terjalin komunikasi yang akrab antara
saya pemuda yang menghampiri saya dan pemilik warung, sekalipun baru
ketemu dan tidak saling mengenal. Sejurus kemudian datang tour leader berdasar informasi yang saya berikan dan nimbrung ikut bercengkrama juga secara hangat, mungkin inilah dimensi yang subtil dan hangat bahwa warung adalah tempat mengekpresikan diri yang demokratis dan berdaulat.
Setelah
puas maka saya meneruskan keluar dari sekat-sekat kegiatan peserta
rombongan, saya berjalan kaki kurang lebih satu kilo untuk sekedar
mencari obat di apotik untuk tour leader yang sedang cantengen
jempol kaki kanannya. Saya nikmati betul suasana itu meskipun matahari
bersinar terang dan tak kalah teriknya, hingga tiba jadwal makan siang
kami kembali lagi ke warung pojok dan lagi komunikasi terjalin akrab
meskipun menu yang tersedia adalah sangat sederhana namun pengunjung bejibun, mungkin hemat penulis bahwa penjualnya sedikit bisa dipandang atau manis pisan euy,
tapi itu motif pengunjung pada umumnya sedang penulis hanya mencoba
menikmati apa yang ada. kembali ke peserta tour yang ternyata dengan
wajah sumringah keluar dari kelas pelatihan.
Nampak wajah
bahagia mereka merayakan dengan berfoto di lokasi sembari senyam senyum
dengan simpul yang penulis sebenarnya meraba-raba ini sedang stres atau entah apa yang terpikirkan oleh peserta.
Perjalanan
selanjutnya menuju Hotel Prayogo lama di Prawiorotaman yang menurut
juru tulisnya hanya berjarak 1 kilometer dari ikon Jogja Malioboro, yang
bermasalah adalah parkir bus dilahan yang sempit, keputusannya adalah
jalan kaki secara bersama dari hotel ke Malioboro yang jaraknya sekitar 3
kilometer wouw keren. Penulis sekali lagi mencoba menikmati tiduran di hotel sekedar meluruskan badan karena selama perjalanan tidak tidur.
Prawirotaman identik dengan turis berkantung cekak alias backpacker hotel bertarif murah tersedia sepanjang Jalan Prawirotaman, selanjutnya penulis kelenger dan tertidur pulas di kasur hotel yang empuk. keesokan hari setelah breakfast nasi goreng telur plus sambal dan juga krupuk, kami check out dan lanjut menuju the biggest budhist temple near from Jogja. Candi Borobudur semakin baik saja pelayanannya. Toiletnya bersih dan ada juga pengeringnya seperti hair dryer
otomatis menyala, tiket untuk kami yang dalam rangka studi wisata
berbeda dengan pengunjung biasa secara signifikan. Para pedagang
menghampiri kami dengan semangat juang agar laku dagangannya. Demikian
juga para pemilik warung mirip bakul pasar menawarkan makanan dan minuman.
Kami
berada di Borobudur selama kuarang lebih dua setengah jam, lanjut makan
siang di sebuah restoran dekat Borobudur dengan menu utama ayam bakar.
Perjalanan lanjut ke pusat oleh-oleh dekat Bandara Adi Sucipto, peserta
rombongan antusias sekali memborong oleh-oleh. ada bakpia geplak dan
aneka makanan ringan lainnya, 30 menit alokasi waktu.
Perjalanan lanjut ke Pusat Grosir Solo yang mana peserta mbecak secara kolektif menuju pasar Klewer, mereka getol memborong batik dan jajan khas Solo karena jatah makan sudah habis maka peserta dihimbau oleh tour leader agar makan di parkiran depan pusat grosir. Berbagai panganan
dijajakan mulai dari sate, bakso, pangsit mie, es degan, es dawet dan
aneka makanan lainnya. selanjutnya kami pulang menuju Jember setelah
kumandang adzan maghrib namun ada episode mencengangkan ketika melintas
antara Ngawi-Caruban, salah seorang peserta mengalami gangguan sesak
napas. penulis kebetulan berada di dekat peserta yang sesak napas
kemudian mengarahkan agar panitia perempuan segera memberikan bantuan .
keadaan semakin tegang karena peserta yang sesak nafas meminta agar bus
berhenti beruntung tempat pemberhentian adalah SPBU yang berdekatan
dengan apotik. Terjadi debat kusir selama proses pertolongan korban
antara kami peserta rombongan panitia sopir bus dan hampir melibatkan
amuk masa seandainya para pihak berdiri pada argumen masing masing,
namun badai pasti berlalu peserta yang mengalami sesak nafas pulih
setelah membuat tensi tinggi diantara kami dan diakhiri kata maaf karena
membuat panik suasana.
Akhirnya sayonara perjalanan
semakin singkat, sampai berjumpa pula di lain kesempatan, kami senang
bertemu dengan anda. Belanjalah dan kuras kantongmu sampai habis.
Warung kopi, tempat paling nyaman untuk berekspresi, wilayah kedaulatan dari bangsa yang bermartabat dalam alam demokrasi
Minggu, 11 Maret 2012
Rabu, 07 Maret 2012
Mewah belum tentu istimewa
Memang bukan semangat saya untuk selalu berfoya-foya, tapi terkadang
ada juga keinginan untuk mencoba, minimal menikmati beberapa hal mewah,
semisal rokok Dji Sam Soe premium yang lebih dikenal dengan istilah
'reffil' atau 'nyruput' kopi luwak yang konon katanya punya kelas
tersendiri di Eropa sana~jangankan di Eropa, di tanah air saja seakan
jadi minuman khas para raja dengan harga yang seperti itu.
Meskipun pikiran saya memberontak dengan gagasan "tidak hanya para raja saja yang dapat menikmati keistimewaan dalam alam demokrasi" tapi kenyataan toh punya cerita lain, dan saya harus bersepakat dengan kenyataan. Jelata dalam sejarahnya selalu saja berada dalam bentuknya yang susah tanpa keistimewaan.
Kopi luwak per 100 gramnya bisa didapat dengan ongkos dua ratus ribu, sedang untuk Dji Sam Soe 'reffil' dengan harga sekitaran tiga belas ribu perbungkus, hal semacam ini sudah terlanjur mewah buat orang seperti saya yang biasanya juga menikmati segalanya dengan 'ala kadarnya'. Toh saya pun harus selalu berusaha menjadi orang yang beriman, saya dapati dari buku "Ikhlas Tanpa Batas" terbitan Zaman bahwasannya iman itu terdiri dari "separonya itu sabar dan separo yang lain adalah syukur".
Beruntung atau mungkin kebetulan saya dapat menikmati keduanya secara bersamaan, jadi semacam obat rindu untuk menikmati kemewahan ditengah kesempatan yang semakin sempit ini. Bahagia juga rasanya, sembari berharap dalam hati semoga kelak dapat terulang kembali hal yang sedemikian.
Ceritanya begini, karena kadung pinginnya menikmati hidup saya beli saja rokok Dji Sam Soe premium dengan sedikit uang honor bulan ketiga ditahun 2012 ini, ya sepulang kerja saya langsung menuju kios rokok dengan harapan yang berlebih untuk segera menikmati, setelah itu saya langsung pulang, waktu itu lagi "nggak pingin yang lain" hanya ingin bersantai di rumah dengan menghisap 'reffil'.
Belum sempat membuka bungkusnya sudah ditawari satu sasetan kopi bubuk oleh adik saya, bungkusnya dari kertas karton bergambar biji kopi dan seekor "luwak!", terkejut juga hati ini mendapatinya, terbayang pula sedap aromanya.
Sambil nunggu air mendidih saya sulut sebatang sam soe reffil, khas sensasinya meruang dalam sanubari para penikmat kretek seperti saya. Berselang kemudian setelah saya racik kopi luwak, saya duduk menyendiri di kamar, sedikit mencicipi kopi luwak yang sebelumnya 'menggeber' aroma khas dari cangkir saya. Nikmat, serasa menghadirkan surga kedalam kamar saya, inilah raja sehari pikir saya.
Ada keinginan untuk coba menikmati secara bersamaan, tidak akan saya sia-siakan hak istimewa yang kali ini saya dapatkan, hisap sam soe reffilnya bersambung dengan 'nyruput' kopi luwak. Rusak, sensasi kretek sekaligus aroma kopi hilang, tidak ada yang istimewa jadinya. Lewat begitu saja.
Saya coba lagi, tetap saja tidak ada yang istimewa. Selanjutnya saya pikir lebih baik dilakukan dengan cara bergantian, sensasi kenikmatan juga belum kembali, tetap sama, tidak ada yang istimewa.
Sadar saya seketika, percobaan pesta demokrasi telah menemui kegagalan dalam diri saya, sensasi kenikmatan kretek yang diwakili sam soe reffil dengan sensasi kenikmatan kopi luwak saling bertabrakan, tidak ada kesepakatan, masing-masing pihak berusaha untuk mendominasi tanpa ada rasa gotong royong dan asas musyawarah mufakat. Pun saya pikir memang~jika kembali pada keseharusan, demokrasi itu dibangun dengan kegotong royongan, bukan dengan upaya saling mendominasi dan saling jegal, jika itu terjadi maka rusaklah bangunan demokrasi itu.
Demikian dari pengalaman menikmati sensasi rokok kretek dan kopi luwak saya temukan bahwasannya segala yang mewah itu belum tentu istimewa, bisa jadi malah merusak nikmat keistimewaan itu sendiri. Salam.
Meskipun pikiran saya memberontak dengan gagasan "tidak hanya para raja saja yang dapat menikmati keistimewaan dalam alam demokrasi" tapi kenyataan toh punya cerita lain, dan saya harus bersepakat dengan kenyataan. Jelata dalam sejarahnya selalu saja berada dalam bentuknya yang susah tanpa keistimewaan.
Kopi luwak per 100 gramnya bisa didapat dengan ongkos dua ratus ribu, sedang untuk Dji Sam Soe 'reffil' dengan harga sekitaran tiga belas ribu perbungkus, hal semacam ini sudah terlanjur mewah buat orang seperti saya yang biasanya juga menikmati segalanya dengan 'ala kadarnya'. Toh saya pun harus selalu berusaha menjadi orang yang beriman, saya dapati dari buku "Ikhlas Tanpa Batas" terbitan Zaman bahwasannya iman itu terdiri dari "separonya itu sabar dan separo yang lain adalah syukur".
Beruntung atau mungkin kebetulan saya dapat menikmati keduanya secara bersamaan, jadi semacam obat rindu untuk menikmati kemewahan ditengah kesempatan yang semakin sempit ini. Bahagia juga rasanya, sembari berharap dalam hati semoga kelak dapat terulang kembali hal yang sedemikian.
Ceritanya begini, karena kadung pinginnya menikmati hidup saya beli saja rokok Dji Sam Soe premium dengan sedikit uang honor bulan ketiga ditahun 2012 ini, ya sepulang kerja saya langsung menuju kios rokok dengan harapan yang berlebih untuk segera menikmati, setelah itu saya langsung pulang, waktu itu lagi "nggak pingin yang lain" hanya ingin bersantai di rumah dengan menghisap 'reffil'.
Belum sempat membuka bungkusnya sudah ditawari satu sasetan kopi bubuk oleh adik saya, bungkusnya dari kertas karton bergambar biji kopi dan seekor "luwak!", terkejut juga hati ini mendapatinya, terbayang pula sedap aromanya.
Sambil nunggu air mendidih saya sulut sebatang sam soe reffil, khas sensasinya meruang dalam sanubari para penikmat kretek seperti saya. Berselang kemudian setelah saya racik kopi luwak, saya duduk menyendiri di kamar, sedikit mencicipi kopi luwak yang sebelumnya 'menggeber' aroma khas dari cangkir saya. Nikmat, serasa menghadirkan surga kedalam kamar saya, inilah raja sehari pikir saya.
Ada keinginan untuk coba menikmati secara bersamaan, tidak akan saya sia-siakan hak istimewa yang kali ini saya dapatkan, hisap sam soe reffilnya bersambung dengan 'nyruput' kopi luwak. Rusak, sensasi kretek sekaligus aroma kopi hilang, tidak ada yang istimewa jadinya. Lewat begitu saja.
Saya coba lagi, tetap saja tidak ada yang istimewa. Selanjutnya saya pikir lebih baik dilakukan dengan cara bergantian, sensasi kenikmatan juga belum kembali, tetap sama, tidak ada yang istimewa.
Sadar saya seketika, percobaan pesta demokrasi telah menemui kegagalan dalam diri saya, sensasi kenikmatan kretek yang diwakili sam soe reffil dengan sensasi kenikmatan kopi luwak saling bertabrakan, tidak ada kesepakatan, masing-masing pihak berusaha untuk mendominasi tanpa ada rasa gotong royong dan asas musyawarah mufakat. Pun saya pikir memang~jika kembali pada keseharusan, demokrasi itu dibangun dengan kegotong royongan, bukan dengan upaya saling mendominasi dan saling jegal, jika itu terjadi maka rusaklah bangunan demokrasi itu.
Demikian dari pengalaman menikmati sensasi rokok kretek dan kopi luwak saya temukan bahwasannya segala yang mewah itu belum tentu istimewa, bisa jadi malah merusak nikmat keistimewaan itu sendiri. Salam.
Selasa, 06 Maret 2012
Refleksi pendidikan dari film Jepang
Sekali waktu saya pernah nonton film Jepang berjudul Crow Zero, saya tidak begitu paham dan hafal betul dengan aktor-aktor nya, disamping tidak pernah mengikuti perkembangan dunia perfilman, juga lantaran bukan hobi saya untuk nonton film, jadi wajar saja jika saya kurang mengerti tentang artis-artisnya, toh artis dan selebritis tanah air pun saya juga kurang mengenal.
Yang menarik dalam film ini adalah gambaran fantasi dari pemilik ide cerita~yang entah siapa, kabarnya dari sebuah komik seri, digambarkan suatu lingkup pergaulan pelajar yang serba bebas. Absurd memang (namanya juga film), sekolah yang prestasi siswanya ditentukan oleh kuatnya pukulan untuk usahanya masing-masing dalam menguasai lingkungan pergaulannya. Maka sering terjadi perkelahian dalam lingkungan sekolah tersebut.
Cerita berawal dari kehadiran seorang pelajar bernama Takiya Genji di sekolah Suzuran, anak seorang yakuza yang tertantang untuk menggantikan posisi ayahnya dalam organisasi dengan menaklukkan Suzuran sebagai sekolah 'keras'. Untuk melakukan penaklukkan tersebut, pelajar inipun harus menghadapi tantangan yang cukup berat, yaitu mengalahkan satu persatu penguasa di Suzuran dan yang pertama harus ia kuasai adalah kelasnya yang baru.
Berhasil dengan penguasaan kelasnya dengan mengalahkan pemimpin kelas yang dalam film ini adalah bernama Chuta, pelajar Genji pun mulai melakukan intrik dan diplomasi terhadap kelas yang lain, termasuk mencoba merekrut adik-adik kelasnya baik yang kelas satu maupun kelas dua.
Diplomasi awal berhasil dengan memulai persahabatan dengan pemimpin kelas 'C' yaitu Makise, tapi dengan kelas berikutnya, kelas 'D' pelajar Genji menemui kesulitan yang cukup berarti, pelajar Genji harus mati-matian dikroyok anak kelas 'D' hingga babak belur dan pingsan. Oleh kejadian ini, Izaki sebagai pemimpin kelas 'D' mulai menaruh simpati terhadap kegigihan Genji yang pada akhirnya mereka berdamai dan membentuk suatu koalisi berandal sekolahan yang mereka sebut "GPS".
Kehadiran kelompok "GPS" yang dimotori tiga raja kecil: Izaki, Makise dan Chuta yang berada dibawah kepemimpinan Genji cukup menarik perhatian 'sang raja sekolah' Serizawa bersama rekan-rekannya, Serizawa sendiri diceritakan memimpin kelas 'A' bersama Tokio, Tokaji dan Tsutsumoto, semuanya jago kelahi. Sedang kelas 'B' yang dikuasai Mikami bersaudara berhasil takluk dengan satu pukulan oleh Serizawa diawal cerita.
Terjadilah persaingan antar kedua kelompok ini, saling serang, berintrik dan mendominasi lingkungan Suzuran. Ya, hegemoni untuk merekrut pengikut dari kelas lain juga merupakan medan tempur yang hebat. Dan akhir dari persaingan ini adalah sebuah pertarungan yang dimenangkan oleh kelompok Genji.
Pada bagian kedua film ini tantangan lebih berat lagi, meskipun pada akhirnya kelompok Genji dan Serizawa berdamai tapi mereka harus menghadapi kekuatan dari luar lingkungan mereka. Tersebutlah Housen, sekolah yang juga diisi oleh berandalan yang suka berkelahi, bedanya jika di Suzuran adalah perkelahian jalanan sedangkan di Housen berisi pelajar yang gemar olah raga beladiri yang juga identik dengan kepala 'plontos' semacam kelompok 'skin-head' di Inggris tahun 70-an. 'Skin head' inipun sering dikabarkan suka berkelahi meskipun tidak terdapat dalam film ini.
Sesaat saya berpikir "apa ada sekolah macam itu di Jepang sana?" dan langsung saja saya jawab sendiri "bagaimana mungkin ada yang seperti itu?!", meskipun Jepang yang terkenal kejamnya saat datang ke tanah air, toh mereka juga masih punya 'unggah-ungguh' dan sangat disiplin dalam membangun pendidikan. Tidak akan mungkin ada sekolah semacam itu, saya yakin pemerintahan disana akan cepat tanggap hingga tidak muncul gejala-gejala yang mengarah kesana.
Sedang di tanah air, saya pikir mungkin saja. "Bagaimana bisa?", tentunya dengan terus memisahkan pelajar dari kesadarannya sebagai manusia, mengasingkan pelajar dari dirinya sebagai seorang manusia. Maka terbentuklah mental individualis pelajar hingga kesadarannya jatuh pada titik terendah yang menyamakan dirinya dengan hewan, bersaing dengan kekuatan otot tanpa kreatifitas untuk membangun lingkungannya secara sehat.
Tentang keadaan sekolah yang digambarkan dalam film inipun bisa saja muncul di tanah air, ketika guru membatasi perannya hanya sebagai seorang pengajar tidak lagi sekaligus sebagai seorang pendidik, sedangkan pendidikan berkarakter yang sedang gencar didengungkan hingga sampai saat ini hanya menjadi semacam 'kandang singa'~garang di dalam tapi tidak bertaji di luar. Dalam keadaan seperti ini sangat memungkinkan pelajar-pelajar Genji terlahir di Indonesia.
Awalnya mereka takut karena ada ancaman peraturan-peraturan yang terbatas, selanjutnya mereka sudah tidak lagi peduli dengan peraturan tersebut sebab merasa tidak ada pengaruh sama sekali terhadap dirinya. Sama halnya dengan pengendara kendaraan bermotor (yang nakal) dijalanan yang hanya mau tertib jika ada yang mengawasi: polisi. Hal demikian memungkinkan juga untuk memunculkan mentalitas penjilat bukan?.
Tidak ada salahnya Indonesia bercermin dari film negeri seberang ini, meskipun kirannya tidak akan lulus sensor jika ingin ditayangkan. Dan mendidik untuk membentuk karakter adalah sepenuhnya dengan membangun kesadaran, bukan semata dengan ancaman~telah kita sepakati dengan 'diam' bahwa ancaman adalah salah satu bentuk kekerasan dan mendidik dengan 'kekerasan' tidak akan berbuah apa kecuali 'kekerasan' pula.
Sedang di tanah air, saya pikir mungkin saja. "Bagaimana bisa?", tentunya dengan terus memisahkan pelajar dari kesadarannya sebagai manusia, mengasingkan pelajar dari dirinya sebagai seorang manusia. Maka terbentuklah mental individualis pelajar hingga kesadarannya jatuh pada titik terendah yang menyamakan dirinya dengan hewan, bersaing dengan kekuatan otot tanpa kreatifitas untuk membangun lingkungannya secara sehat.
Tentang keadaan sekolah yang digambarkan dalam film inipun bisa saja muncul di tanah air, ketika guru membatasi perannya hanya sebagai seorang pengajar tidak lagi sekaligus sebagai seorang pendidik, sedangkan pendidikan berkarakter yang sedang gencar didengungkan hingga sampai saat ini hanya menjadi semacam 'kandang singa'~garang di dalam tapi tidak bertaji di luar. Dalam keadaan seperti ini sangat memungkinkan pelajar-pelajar Genji terlahir di Indonesia.
Awalnya mereka takut karena ada ancaman peraturan-peraturan yang terbatas, selanjutnya mereka sudah tidak lagi peduli dengan peraturan tersebut sebab merasa tidak ada pengaruh sama sekali terhadap dirinya. Sama halnya dengan pengendara kendaraan bermotor (yang nakal) dijalanan yang hanya mau tertib jika ada yang mengawasi: polisi. Hal demikian memungkinkan juga untuk memunculkan mentalitas penjilat bukan?.
Tidak ada salahnya Indonesia bercermin dari film negeri seberang ini, meskipun kirannya tidak akan lulus sensor jika ingin ditayangkan. Dan mendidik untuk membentuk karakter adalah sepenuhnya dengan membangun kesadaran, bukan semata dengan ancaman~telah kita sepakati dengan 'diam' bahwa ancaman adalah salah satu bentuk kekerasan dan mendidik dengan 'kekerasan' tidak akan berbuah apa kecuali 'kekerasan' pula.
Sabtu, 03 Maret 2012
kekerasan dalam varian budaya
Membicarakan
kekerasan sama halnya dengan membicarakan sejarah manusia, sejarah selalu
diwarnai dengan kekerasan, atau bahkan kekerasan itulah sejarah manusia yang
juga diawali dengan kekerasan, sebagaimana kisah Habil dan Qabil yang cukup
menggambarkan tindak kekerasan awal manusia terhadap sesamanya, berlanjut juga
dalam epose Mahabarata. Dan bahkan
kekerasan telah pula digambarkan sebelum manusia diciptakan.
Sesuai dengan Firman Allah dalam
surat Al Baqarah ayat 30.Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Gambaran
dimana malaikat mulai mempertanyakan penciptaan manusia yang mereka ketahui
hanya akan berbuat kerusakan, seakan terdapat prediksi dari akibat-akibat
perbuatan manusia yang memiliki catatan panjang tentang tindak kekerasan. Tapi,
toh malaikat harus tunduk dengan jawaban yang cukup memuaskan: bahwa hanya
Tuhanlah yang mengetahui rahasia maksud dari penciptaanNya.
Dari
tulisan ini, bukan bermaksud untuk memvonis bahwasannya kekerasan adalah sifat
dasarnya manusia. Bukan. Hal tersebut tidak manusiawi dan terlalu sederhana
untuk memandang manusia yang kompleks.
Pun dalam kajian ilmu sosial juga telah terdapat usaha untuk menganalisis
kekerasan dari beragam sudut hingga sempat melibatkan ilmu psikologi bahkan
biologi untuk mengkaji kekerasan.
Tulisan
kali ini coba membedah kekerasan yang muncul dari varian-varian budaya yang
memang cukup populer akhir-akhir ini, kemajuan teknologi tidak hanya
mempermudah manusia dalam mengakses informasi tapi juga membuka jalan yang
mudah bagi proses asimilasi dan akulturasi, yang juga tidak hanya
membuka peluang persaingan antar ragam budaya, tapi juga telah memunculkan
varian-varian budaya hasil refisi sekaligus adaptasi.
Ah,
terlalu rumit, belum lagi terjawab persoalan kekerasan malah dibingungkan
dengan pembahasan budaya, memang tidak cukup hanya dengan menyebut sub-cultur untuk budaya-budaya kecil,
sebab pada kenyataannya dari sub-cultur
tersebut telah pula memunculkan sempalan-sempalan yang dapatlah dikatakan
serupa tapi tak sama.
Ambil
contoh komunitas punk yang cukup
digemari pemuda-pemuda liberal di jalanan, dari sub-cultur yang satu ini telah muncul beberapa sub lagi yang
sejenis, seperti crusty punk, punk street,
dan sebutan-sebutan lain untuk para pengagum musik dan gaya hidup impor ini.
Lain waktu ada kemungkinan pemuda-pemudi kita menyumbang satu nama lagi,
mungkin ndeso punk atau apapun untuk
menyatakan anti kemapanan.
Kembali pada kekerasan, menurut perspektif sosiologis,
kekerasan muncul dari kefrustasian, terhambatnya saluran-saluran untuk
pemecahan suatu masalah. Tentu kita tidak harus selalu bersandar dengan
pandangan seperti ini sebab sebagaimana ‘kejahatan’, kekerasan bisa saja terjadi
karena adanya kesempatan.
Johan Galtung, seorang pakar kriminologi memiliki pendapat
kekerasan terjadi bila manusia dipengaruhi sedemikian rupa sehingga realisasi
jasmani dan mental aktualnya berada di bawah realisasi potensialnya. Dengan
kata lain bila yang potensial lebih tinggi dari yang aktual, maka ada
kekerasan. Realisasi potensial ialah apa yang mungkin untuk diwujudkan sesuai
dengan tingkat wawasan, pengetahuan, sumber daya dan kemajuan yang dicapai oleh
jamannya. Penyalahgunaan hal-hal tersebut untuk tujuan lain atau dimanipulasi
oleh sekelompok orang berarti ada kekerasan.
Dari sini muncul penggunaan istilah kekerasan untuk
menggambarkan suatu perilaku, baik terbuka, tertutup, menyerang maupun bertahan
yang disertai penggunaan kekuatan terhadap orang lain. Kekerasan terbuka adalah
kekerasan yang dapat dilihat, seperti perkelahian. Kekerasan tertutup adalah
kekerasan yang tidak secara langsung, seperti mengancam. Kekerasan agresif adalah kekerasan yang dilakukan
untuk mendapatkan sesuatu .Kekerasan defensive
adalah kekerasan yang dilakukan untuk perlindungan diri(http://nilaieka.blogspot.com/2009/05/teori-kekerasan.html).
Begitupun dengan kekerasan secara kolektif dan bentuk-bentuk terorisme. Jadi tidak
lagi semata penggunaan kekuatan fisik, tapi juga efektifitas upaya-upaya pemaksaan
gagasan dan nilai-nilai katakanlah upaya dominasi yang pada dasarnya hanyalah
bentuk isolasi diri.
Dari sini muncullah asumsi yang membatasi kesadaran seseorang
terhadap kemanusiaan, seakan hanya terbatas pada: ‘golongan kita’ dan ‘golongan
bukan kita’ lebih jauh lagi dengan sebutan ‘golongan musuh’. Ini merupakan
situasi yang sangat potensial bagi munculnya kekerasan, yang sekali lagi tidak
hanya dalam bentuk fisik, tapi dalam beragam bentuk, bukankah dengan
berkata-kata seseorang juga dapat melakukan kekerasan?.
Kecenderungan semacam ini tidak saja dimiliki oleh agen
budaya yang dominan, tapi juga oleh sub-cultur
yang muncul akibat ketidak sepakatannya dengan gagasan dan nilai-nilai yang ~
selalu saja dipaksakan oleh budaya yang dominan.
Untuk itu kiranya perlu mendiskusikan berulang-ulang tentang
nilai-nilai, tentang baik dan buruk dengan tidak saling mengisolasi diri
apalagi membebani dengan penggolongan-penggolongan yang pada dasarnya tidak
manusiawi. Toh essensi manusia sama, yang berbeda hanyalah dalam superfisialnya
saja tentang apa yang disenangi. Dan tak perlu untuk menciptakan permusuhan
jika sekedar masalah senang dan tidak senang, dan upaya pemaksaan gagasan
hanyalah tindakan ideologis yang mengingkari kemanusiaan.
Akhirnya adalah harapan untuk melaksanakan “bhineka tunggal
ika, tan hanna dharma mangrwa” dengan semangat pluralism tanpa ada upaya untuk
memanipulasi ke’bhinekaan’ itu sendiri. Salam punakawan berdaulat.
Minggu, 19 Februari 2012
Kepemimpinan Pancasila (Proses keteladanan dan ‘nation carachter building’)
Manusia dalam kehidupannya akan
selalu terlibat dalam organisasi, sebagaimana kodratnya yaitu sebagai makhluk
individu sekaligus makhluk sosial, tidak dapat seorang manusia mampu menjalani
hidupnya tanpa ada keterlibatan dari orang lain.
Namun begitu, sungguh tak patut pula
kiranya jika seorang manusia menggantungkan seluruh hidupnya kepada orang lain.
Dapat pula dikatakan bahwasannya manusia selalu berada dalam bayang-bayang
ketakutan hingga terdapat dorongan dalam dirinya untuk selalu terlibat dalam
suatu organisasi, disinilah fungsi daripada organisasi bagi manusia, selain
sebagai naungan manusia untuk meminimalisir rasa ketakutannya, pun juga untuk membuka
saluran-saluran bagi kepentingannya.
Figur pemimpin mutlak diperlukan
dalam sebuah organisasi, tentu agar organisasi tersebut lengkap dan memiliki
bentuk, seorang pemimpin akan menampilkan kesan dari ruang lingkup organisasi
yang ia pimpin. Dan tidak ada satupun bentuk organisasi yang hadir tanpa
seorang pemimpin, bahkan dalam suatu geng berandalan pun pasti terdapat seorang
pemimpin.
Lebih jauh dari itu, ada pendapat
yang menyatakan “dalam suatu masyarakat yang buruk akan terlahir pemimpin yang
buruk”, tentu secara logika dapat dibenarkan pendapat yang demikian, dimana
lingkungan juga memiliki andil dalam membentuk karakter seseorang, untuk itulah
akhir-akhir ini sering terdengar dari lingkungan pendidikan Indonesia tentang
‘pendidikan berkarakter’~inipun sebenarnya telah lama didengungkan oleh Ir.
Soekarno tentang pembangunan watak manusia Indonesia merdeka yang sering ia
sebut dengan istilah “nation carachter
building”. Tapi toh pada kenyataannya sejarah mencatat bangsa ini sering
terjebak dalam penafsiran tunggal atas Pancasila, selalu saja hampir terjebak
dalam bentuk kolektivisme yang menyesatkan. Saya katakan ‘hampir’ sebab selalu
juga bangsa ini terselamatkan dari keadaan yang demikian.
Dalam era kepemimpinan Ir. Soekarno
bangsa ini terjebak dalam demokrasi terpimpin yang lebih condong pada paham
kiri (sosialis-komunisme), dimana terjadi penafsiran tunggal atas Pancasila,
tidak lebih baik juga pada masa ORBA dibawah kepemimpinan Jenderal Purnawirawan
Soeharto yang terang-terangan mengklaim pelaksanaan demokrasi Pancasila, pada
masa ini Pancasila juga mengalami penafsiran tunggal dan nyata kesan
doktrinernya lewat P4 yang kebablasan.
Dengan begitu, adalah sangat penting
bagi bangsa Indonesia yang telah bersusah payah memperkenalkan dirinya kepada
masyarakat dunia sebagai bangsa yang ramah dan santun, untuk kembali berbenah.
Dalam tulisan ini akan coba
dipaparkan gagasan tentang penafsiran Pancasila untuk mengajak masyarakat
Indonesia pada umumnya dan khususnya bagi generasi bangsa Indonesia, untuk
kembali menggali secara kreatif nilai-nilai dalam Pancasila, tentunya dalam
hati kecil penulis yang terlalu muluk-muluk berharap kita semua akan mampu
menemukan bentuk jati diri kebangsaan kita yang telah lama dibangun. Tentu dari
sini, keterlibatan langsung generasi bangsa Indonesia akan memberi arti lebih
dalam dialog-dialog pencarian daripada diam dan mem’mbebek’ yang pada akhirnya hanya akan menjerumuskan diri pada
jebakan-jebakan kolektivisme.
Pemimpin dan proses keteladanan kepemimpinan
“Tidak ada kemalangan paling sengsara
Sepanjang takdir manusia,
Kecuali ketika para penguasa di dunia
Tidak menjadi manusia unggul.
Jika itu terjadi, maka segalanya
Menjadi palsu, miring dan mengerikan”
(Nietzsche-Zarathustra)
Potongan dialog diatas ditulis oleh
seorang sastrawan yang juga telah diangkat menjadi seorang filosof yang
beraliran eksistensialisme, dalam
potongan dialog tersebut dapat ditangkap keresahan akan suatu waktu, dimana
manusia mulai bingung karena tidak lagi dapat menemui figur pemimpin. Tentunya
yang dibutuhkan dunia sekarang ini adalah manusia-manusia unggul. Bukan saja
itu diharuskan bagi para jelata, tapi yang terutama adalah jiwa manusia unggul
yang ada dalam diri para pemimpin bangsa.
Bagaimana mungkin suatu bangsa dapat
mengikuti ataupun berada dalam naungan suatu kepemimpinan yang tidak dapat
diandalkan, tidak memiliki keunggulan dalam kepemimpinannya atau bahkan
memiliki kualitas kepemimpinan yang lebih rendah dari yang dipimpinnya, semua
itu hanya akan menempatkan suatu bangsa pada keadaan yang berbahaya.
Tentunya membicarakan hal demikian
adalah terlampau jauh, membicarakan nasib suatu bangsa seperti melamunkan masa
depan dan cita-cita kebangsaan yang masih juga diraba-raba keberadaannya. Kita
tentu hanya bisa berupaya mempersiapkan sebuah generasi yang memiliki nilai
lebih dari generasi sebelumnya sekaligus memunculkan figur-figur pemimpin masa
depan. Mungkin juga ini terlalu ngawur, tapi tidak ada salahnya untuk memulai
membicarakannya, toh kita sedang berusaha untuk selalu berbenah dan figur-figur
pemimpin akan muncul melalui gemblengan di ruang-ruang pendidikan. Dan pada
dasarnya manusia adalah pemimpin, terutama sekali disini adalah memimpin
dirinya sendiri.
Sebagaimana kata pepatah, untuk
merubah dunia maka harus berani merubah diri sendiri, tentu dengan berbenah dan
senantiasa melakukan introspeksi. Baik atau buruknya kepemimpinan seseorang
akan selalu terkait dengan moralitasnya, jadi klarifikasi terhadap rekam jejak tentu
menjadi hal terpenting dalam menentukan figur pemimpin, dengan begitu membangun
karakter kebangsaan akan jadi hal utama dalam proses pendidikan dan dalam hal
ini sangatlah diharapkan keterlibatan pelajar dalam dialog terbuka.
Terdapat beragam konsep kepemimpinan
yang semuanya mencita-citakan suatu kepemimpinan yang baik, dari yang klasik seperti
konsep kepemimpinan Hasta brata yang
membicarakan sifat yang harus dimiliki seorang pemimpin lewat gambaran delapan
sifat alam, ataupun Catur Paramitha (klik link artikel) yang berangkat dari ajaran Hindu
yang merupakan landasan atau pedoman untuk melaksanakan ajaran susila atau
etika.
Hingga konsep yang sengaja diimpor
untuk memperkaya pemikiran tentang kepemimpinan sebagaimana model kepemimpinan visioner dan kepemimpinan passioner. Konsep kepemimpinan visioner berangkat dari istilah visi
yang berarti kemampuan untuk melihat inti persoalan, pandangan, wawasan dan
pengamatan. Visi melibatkan logika dan intuisi, pikiran dan perasaan,
pengalaman masa lampau dan kemungkinan masa depan.
Secara umum, ada tiga macam visi
yang seringkali dipakai dalam kepemimpinan, yaitu: 1). Visi tentang masa depan
yang mungkin terjadi; 2). Visi masa depan yang diinginkan, dan; 3). Visi masa
depan yang baik atau yang hancur.
Dengan begitu konsep ini banyak
menuntut keterlibatan baik anggota maupun pengalaman untuk merumuskan suatu
pandangan dan tujuan.
Konsep passioner adalah kepemimpinan yang mengandalkan kekuatan passi yang
diartikan sebagai cinta, motivasi, inspirasi dan perhatian.
Kepemimpinan passioner cenderung menumbuhkan kecintaan dan pembelaan (fanatik)
dari yang terpimpin pada sang pemimpin. Meskipun perpaduan antara dua konsep
kepemimpinan ini memiliki kekuatan yang hebat, perpaduan antara keduanya juga
memiliki kerawanan, sebab pada dasarnya keduannya juga memiliki sudut pandang
yang bertolak belakang satu sama lain.
Dari sini dapatlah diungkapkan
bahwasannya figur pemimpin yang diharapkan tidaklah cukup hanya dengan kepandaiannya
berorganisasi atau sekedar memiliki pengetahuan yang memadai untuk memimpin,
tapi juga dibutuhkan pemimpin yang mampu memberi keteladanan bagi yang
dipimpinnya. Dengan kata lain, pengetahuan tanpa kemampuan untuk bertindak
adalah percuma, belajar tanpa adanya perubahan tingkah laku adalah percuma.
Ibarat pohon yang tiada berbuah.
Kembali lagi, dimana pada dasarnya
manusia terlahir untuk memimpin, terutama adalah memimpin dirinya sendiri,
terkait bagaimana ia mewakili dirinya dihadapan masyarakat yaitu bagaimana ia
menempatkan segala sesuatunya dengan baik dan benar, terutama disini
menempatkan dirinya dengan baik dan benar.
Membangun karakter kebangsaan
Pancasila merupakan suatu gagasan
tentang suatu tatanan masyarakat yang diimpikan dari berdirinya Negara Kesatuan
Republik Indonesia, ia adalah tujuan dibentuknya Negara Indonesia. Terlepas
dari tercapai atau tidaknya tujuan tersebut, pada dasarnya bangsa Indonesia
akan selalu melakukan dialog untuk mencapai suatu kesepakatan bersama dengan
berpedoman pada nilai-nilai Pancasila.
Dalam catatan sejarah perkembangannya
Pancasila selalu tidak lepas dari upaya penyimpangan yang tentunya melalui
penafsiran tunggal, dimana dalam upaya penafsiran tersebut diakui atau tidak
juga terdapat unsur pemaksaan suatu gagasan orang seorang kepada masyarakat,
yang secara langsung juga telah mencederai Pancasila itu sendiri.
Hal ini terjadi karena Pancasila
sendiri sebagai dasar negara dan falsafah bangsa memiliki nilai-nilai universal
yang sangat mungkin untuk ditafsirkan dan dikembangkan. Sebagaimana juga telah
diakui oleh pemikir sekelas Gus Dur bahwa ini terjadi karena Pancasila tidaklah
diciptakan sebagai tuntunan operasional secara detail dan rigid. Pancasila
menyediakan ruang dasar-dasar yang perlu dikembangkan, yang satu sama lain
saling terkait dan tidak boleh ditinggalkan. Dalam perkembangan inilah terjadi
perbedaan-perbedaan, dan ini wajar saja sesuai dengan perkembangan demokrasi
yang berjalan di negara Indonesia.
Untuk itulah perlu adanya dialog
dalam setiap penafsiran Pancasila, yang mana oleh Gus Dur disebut sebagai
ketegangan kreatif yang tidak perlu ditutup-tutupi oleh siapapun, yang tentunya
diharapkan tidak menimbulkan saling permusuhan dan bertolak belakang.
Ketegangan kreatif itu artinya suatu sikap kelapangan dada dan toleransi dalam
lalu lintas kebangsaan yang kreatif untuk kemajuan dan mengembangkan kualitas
bangsa Indonesia.
Tentu suatu harapan dimana dalam
suatu masyarakat yang baik akan memunculkan pemimpin yang baik, sebab
lingkungan memiliki peran yang cukup besar dalam membentuk watak seseorang, dan
sangat perlu kirannya untuk kembali menggali nilai-nilai Pancasila yang juga
merupakan cita-cita berbangsa. Dengan begitu sangatlah penting untuk membentuk
tatanan kemasyarakatan yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, tentunya
dengan keteladanan kepada masyarakat tentang nilai-nilai Pancasila. Disini
dapat diutarakan sekali lagi, bahwa belajar tanpa adanya perubahan tingkah laku
adalah sama halnya dengan pohon yang tiada berbuah.
Terkait dengan masalah kepemimpinan
Pancasila yang mana adalah kepemimpinan yang membawa masyarakat dalam kesadaran
berbangsa dan bernegara berdasarkan Pancasila dan UUD’45.
Untuk itu perlu juga disertakan
pandangan Ir. Soekarno tentang Pancasila, dimana Pancasila menurut Ir. Soekarno
dapat disederhanakan menjadi trisila: 1). Sosiodemokrasi, dimana pelaksanaan
demokrasi yang tidak hanya mengurusi kehidupan politik semata, tapi juga
kehidupan ekonomi dan sosial budaya; 2). Sosionasionalisme, yaitu nasionalisme
yang tidak hanya semata mencintai tanah air dan bangsanya, tetapi lebih
mendasarkan diri pada kecintaan terhadap rakyat jelata; 3). keTuhanan yang
merupakan pernyataan tegas bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang beragama.
dan dari tri sila ini dapat pula disederhanakan menjadi eka sila yaitu gotong
royong.
Inilah inti dari Pancasila yang
menekankan kegotong royongan daripada perpecahan, lebih jauh daripada itu,
sebagaimana amanat sila kemanusiaan yang adil dan beradab, dimana kesadaran
diri sebagai seorang manusia adalah yang terpenting untuk kemudian berlaku
adil, tentu keadilan tidak akan dapat terwujud tanpa adanya kesadaran akan
kemanusiaan.
Terutama sekali adalah adil terhadap
diri sendiri dengan memperlakukan diri sebagai manusia yang juga memiliki
kelemahan, misalnya: manusia itu bisa merasakan lapar atau kantuk, maka jika
lapar ya harus makan dan tidur ketika mengantuk. Setelah itu adalah adil
terhadap sesama dengan memperlakukan orang lain sebagai manusia yang juga
memiliki kelemahan, misalnya kalau dipukul itu sakit ya jangan memukul,
kemudian pula adil terhadap Tuhan, dengan melaksanakan perintahNya dan menjauhi
laranganNya untuk mencapai manusia yang beradab.
Dengan begitu, pemimpin yang besar
adalah mereka yang bisa menerima dan mengorganisir semua manusia (yang
dipimpinnya) dengan apa adanya atau katakanlah seorang pemimpin besar adalah
mereka yang mampu dan mau memanusiakan manusia, tentu terutama dengan
memanusiakan diri sendiri, tidak akan mungkin dapat memanusiakan orang lain
tanpa ada kesadaran diri sebagai seorang manusia.
Homogenitas masyarakat Indonesia yang memiliki corak kebhinekaan, baik etnis, suku, budaya, maupun keragaman dalam politik dan ekonomi, hal ini memungkinkan sekali untuk memunculkan pola pikir yang mementingkan kelompok atau primordialisme dan sulitnya penyesuaian terhadap nilai-nilai baru. Oleh karena itu.
Dalam pada itu perlunya pembangunan
karakter kebangsaan dengan menggali kembali nilai-nilai Pancasila untuk
membangun tatanan masyarakat yang berbudaya dan berkualitas sesuai dengan
cita-cita bangsa. Dan dalam masyarakat yang baik senantiasa akan mencetak
pemimpin yang baik yang tentunya dengan membangun suatu tatanan masyarakat yang
baik.
Daftar Pustakanya
Friedrich Nietzsche. 2008. Zarathustra. Yogyakarta: Quills
Book Publisher.
Nur Khalik Ridwan. 2010. Gus Dur Dan Negara Pancasila.
Yogyakarta: Tanah Air.
M.N. Ibad. 2010. Leadership Secrets of Gus Dur-Gus Miek.
Yogyakarta: Pustaka Pesantren.
Dr. Franz Magnis-Suseno. 2001. Kuasa dan Moral. Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama.
Sabtu, 21 Januari 2012
Renungan Kerja
Akhir-akhir
ini saya sering mendapati keluhan orang, entah memang sengaja diceritakan atau
ketika mencuri dengar pembicaraan orang, keluhannya umum tapi ‘urgent’ yaitu masalah pekerjaan, saya
kata umum sebab inilah permasalahan pada umumnya orang-orang dan memang dari
jaman saya sekolah, kebingungan orang selalu saja berputar pada masalah
pencarian rejeki ataupun jodoh.
Dua tema inilah yang kerap jadi persoalan yang sangat mungkin dibawa-bawa disetiap do’a permohonan kepada Sang Pencipta. Semoga saja Tuhan tidak bosan mendengar permohonan yang sebenarnya adalah urusan rahasia milikNya.
Terlepas dari itu semua, pada dasarnya memang telah terjadi pendangkalan makna yang bukan hanya menyangkut rejeki dan jodoh, tapi bahkan (mungkin) juga agama, atau bahkan Tuhan pun telah didangkalkan? Iya atau tidak, kita bahas lain waktu, harus ada kesiapan moral untuk menulisnya, cukuplah kini tentnag rejeki. Untuk inipun harus didangkalkan dulu biar tidak terlalu ‘muluk-muluk’ atau “terlalu idealis”.
Rejeki menjadi dangkal maknanya ketika dibatasi lingkupnya, ketika faham materialism menyediakan ruang sempit tentang orientasi finansial, dan rejeki berputar-putar pada permasalahan kerja/pekerjaan, sedangkan kerja/pekerjaan sendiri juga telah mengalami pendangkalan makna.
Hakikatnya kerja memanglah untuk mencukupi kebutuhan hidup, manusia mengolah alam atau mengerjakan alam untuk kemudian dapat mereka manfaatkan, contoh gampangnya ya bertani, mengolah alam menjadi lahan pertanian yang hasilnya tentu untuk kebutuhan makan. Lebih jauh dari itu. Pekerjaan, ialah kegiatan khas manusia yang merupakan makhluk ganda yang aneh, disatu sisi sebagai makhluk alami sebagaimana binatang yang membutuhkan alam untuk hidup sekaligus disisi lain manusia dihadapkan dengan alam sebagai sesuatu yang asing~alam harus diolah dulu, lebih dari itu harus menyesuaikan alam dengan kebutuhan-kebutuhannya.
Bagi Karl Marx, kerja/pekerjaan adalah suatu proses yang menghasilkan, lebih jauh, berikut pandangan Marx tentang bagaimana pekerjaan membenarkan diri manusia dan hakikat sosial manusia.
“Andaikata kita berproduksi sebagai manusia (artinya, secara tidak terasing): masing-masing dari kita dalam produksinya membenarkan diri sendiri dan sesama secara ganda. Aku dalam produksiku mengobjektifkan individualitasku, kekhasanku, maka waktu melakukan kegiatan kunikmati… dalam memandang objek, kegembiraan individual bahwa aku mengetahui kepribadianku sebagai kekuatan objektif yang dapat dilihat secara inderawi, tidak dapat diragukan. Dalam nikmatmu atau pemakaianmu atas objekku aku langsung menikmati kesadaran bahwa dalam pekerjaanku aku memenuhi kebutuhan sebagai manusia dan karena menciptakan objek yang sesuai dengan kebutuhan manusia lain, aku menjadi perantara antara engkau dan umat manusia, jadi bahwa aku dibenarkan dalam pikiranmu maupun dalam cintamu, bahwa dalam ungkapan hidup individualku aku langsung menciptakan ungkapan hidupmu, jadi bahwa dalam kegiatan individualku aku langsung membenarkan dan merealisasikan hakikatku yang benar, kemanusiaanku, kesosialanku”1
Marx juga memandang bentuk keterasingan manusia dari pekerjaannya adalah ketika manusia tidak memiliki hasil pekerjaannya tersebut, gambaran kasarnya sudah terlalu banyak di Indonesia, sebagaimana buruh pabrik sepatu yang memproduksi sepatu untuk kemudian dijual baik di negeri sendiri maupun di luar negeri dengan merk tertentu yang ‘made in’ luar negeri. Atau produksi-produksi lainnya, toh bangsa kita yang memproduksi tanpa ada “alih teknologi” (maaf sedikit sartire). Manusia menjadi terasing dari dirinya karena ia terasing dari pekerjaannya, makna pekerjaan disini jadi semata untuk bertahan hidup, inilah bentuk keterasingan menurut Karl Marx, dimana manusia sama sekali tergantung kepada para pemilik alat produksi, bahkan di Indonesia banyak yang tergantung pada pemilik ‘brand’.
Dari sini dapat dipahami pendangkalan makna rejeki yang hanya terbatas pada suatu lingkup makna saja, yaitu orientasi finansial. Kiranya, kita pun tidak hanya membatasi maknanya hanya sampai disitu. Ada cerita ketika saya berjualan buku ke pesantren-pesantren di Singosari, bersama seorang teman senasib seperjuangan, Wahyu Nugroho, suatu ketika ada pesanan buku lewat SMS dari seorang ustad, tidak banyak, hanya dua judul dan karena masih berupa usaha rintisan maka mau tidak mau harus diantar dua buku itu. Muncul kesadaran ketika sedang ngobrol disebuah warung kopi di pasar Singosari, dimana memang laba dari hasil penjualan dua judul buku tadi hanya cukup buat ongkos ngopi dan beberapa ‘gorengan’, tapi dari ‘jelajah pesantren’ ini pula kami mendapat banyak masukkan ilmu.
Lebih jauh lagi, tentang etos kerja yang diajarkan dalam Islam, ada dua syarat yang menjadi ukuran bekerja dengan benar dalam Islam: pertama, benar dari aspek niatnya dan kedua dari aspek pelaksanaannya. Tentu, niat yang baik agar tidak menjadi beban bagi orang lain, dan tentunya dengan cara yang baik pula, bukan dengan mencuri, merampok bahkan korupsi.
Dalam pandangan Islam, ada dua masalah yang perlu mendapat perhatian dalam melaksanakan pekerjaan (tahsilul amal). Pertama, pekerjaan itu disebut ‘amalan masru’ (pekerjaan yang dibenarkan oleh syariat). Meskipun dilakukan dengan ikhlas, tetapi pekerjaan itu mencuri maka tidak dianggap benar menurut syara’. Kedua, pekerjaan itu tidak sampai mengganggu tugas-tugas yang diwajibkan oleh Allah seperti shalat dan puasa.2
Dan bukankah rejeki tak semata berupa materi? Dalam hal ini, sebagaimana kisah saya bersama teman saya, ilmupun juga rejeki (ngg’perlu mondok untuk menyerap ilmu dari para ustad, dan untuk hal ini saya wajib bersyukur). Lebih dari itu, senantiasa untuk diusahakan memaknai kerja sebagai ibadah, kerja bukan untuk siapapun dan bukan untuk apapun melainkan untuk Allah. Pun juga ada baiknya untuk tidak memanfaatkan hal ini demi mengkerdilkan atau bahkan menelikung pekerja, misalnya ketika suatu perusahaan tidak mau membayar upah lebih kepada pekerjanya, perusahaan menyarankan pekerjanya untuk mensyukuri apa yang telah mereka peroleh.
Sebagaimana yang dikatakan dalam Al-Quran: Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezeki kepadanya. (QS. al-Hijr (15) : 20)
(1)
Franz Magnis-Suseno, Pemikiran Karl Marx; Dari
Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionis (Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama, 2001) hlm. 94
(2)
M. Ainul Yaqin, Nilai-nilai Ibadah Dalam Bekerja
(Malang: Buletin Imamah edisi: XV/Shafar/1433 H.)
(3)
Al Quran, Surah Al-Hijr (15):20
Langganan:
Postingan (Atom)



