Tanpa Pancasila, negara akan bubar. Pancasila adalah seperangkat asas dan ia akan ada selamanya. Ia adalah gagasan tentang negara yang harus kita miliki dan kita perjuangkan. Dan Pancasila ini akan saya perjuangkan dengan nyawa saya (Gus Dur)

Minggu, 11 Maret 2012

Menikmati Kota Jogja ( Exegese )

Minggu yang lalu tepatnya tanggal 5 februari kami bersama rombongan berangkat menuju kota gudeg, kami berangkat dalam satu rombongan bus besar berkapasitas 60 penumpang, perjalanan awal berjalan sangat lancar meskipun hujan rintik menyertai.

Jalanan dari Kota Jember tempat kami start dalam kondisi baik, kami break di Tanggul untuk melaksanakan shalat maghrib berjamaah, sepanjang jalan melalui kota mulai Lumajang Probolinggo semua berjalan dengan baik dan kami berhenti sejenak di Kota Nguling Kab. Pasuruan untuk mengangkut kawan kita asisten tour leader kami. perjalanan terhambat di km 2 Jalan Raya Sedarum, setelah sebelumnya bus berhenti di SPBU Sedarums perjalanan kembali tersendat di jalan raya Ngopak karena dua hari sebelumnya banjir merendam kota kecil Ngopak. Lanjut di jalan raya Pos Daendels wilayah Kota Pasuruan air tampak menggenang disisi jalan akibat hujan deras intensitas tinggi.

Sampai Kota Bangil cuaca sedikit membaik ketika hujan reda namun hujan turun lagi selepas km 5 dari Kota Bangil mengguyur seras sampai jalan raya Kejapanan, hujan reda sampai Kota Mojosari lanjut ke Mojokerto. Jombang diliputi awan kegelapan namun hujan tidak sampai turun. Berturut Kertosono-Nganjuk-Caruban-Ngawi-Sragen-Solo dan berhenti sewaktu adzan subuh berkumandang, kami istirahat shalat dan makan di rumah makan Grafika Kalasan Jogyakarta. Setelah peserta rombongan dalam keadaan segar bugar karena mandi dan perut terisi kami langsung menuju sasaran utama P4TK matematika Jogyakarta, disini sebenarnya secara fisik peserta pelatihan sudah teramat lelah, namun mereka memaksakan untuk terus ikut pelatihan. appreciate to them.

Selama kurang lebih 8 jam pelatihan plus satu jam istirahat shalat makan di tempat pelatihan. saya pribadi mencari suasana lain, seperti biasa kopi pengganti susu kemasan yang susah carinya disekitar lokasi pelatihan, setelah berputar putar mampirlah saya di warung pojok penjual mie rebus dan mie goreng, dari logatnya baru saya ketahui bahwa mereka berasal dari Jawa Barat yang khas logat Sundanya. Saya kemudian menikmati suguhan susu coklat dan secara tiba-tiba dihampiri seorang pemuda dengan logat khas Madura bertanya saya dari mana.

Terjalin komunikasi yang akrab antara saya pemuda yang menghampiri saya dan pemilik warung, sekalipun baru ketemu dan tidak saling mengenal. Sejurus kemudian datang tour leader berdasar informasi yang saya berikan dan nimbrung ikut bercengkrama juga secara hangat, mungkin inilah dimensi yang subtil dan hangat bahwa warung adalah tempat mengekpresikan diri yang demokratis dan berdaulat.

Setelah puas maka saya meneruskan keluar dari sekat-sekat kegiatan peserta rombongan, saya berjalan kaki kurang lebih satu kilo untuk sekedar mencari obat di apotik untuk tour leader yang sedang cantengen jempol kaki kanannya. Saya nikmati betul suasana itu meskipun matahari bersinar terang dan tak kalah teriknya, hingga tiba jadwal makan siang kami kembali lagi ke warung pojok dan lagi komunikasi terjalin akrab meskipun menu yang tersedia adalah sangat sederhana namun pengunjung bejibun, mungkin hemat penulis bahwa penjualnya sedikit bisa dipandang atau manis pisan euy, tapi itu motif pengunjung pada umumnya sedang penulis hanya mencoba menikmati apa yang ada. kembali ke peserta tour yang ternyata dengan wajah sumringah keluar dari kelas pelatihan.

Nampak wajah bahagia mereka merayakan dengan berfoto di lokasi sembari senyam senyum dengan simpul yang penulis sebenarnya meraba-raba ini sedang stres atau entah apa yang terpikirkan oleh peserta.
Perjalanan selanjutnya menuju Hotel Prayogo lama di Prawiorotaman yang menurut juru tulisnya hanya berjarak 1 kilometer dari ikon Jogja Malioboro, yang bermasalah adalah parkir bus dilahan yang sempit, keputusannya adalah jalan kaki secara bersama dari hotel ke Malioboro yang jaraknya sekitar 3 kilometer wouw keren. Penulis sekali lagi mencoba menikmati tiduran di hotel sekedar meluruskan badan karena selama perjalanan tidak tidur.

Prawirotaman identik dengan turis berkantung cekak alias backpacker hotel bertarif murah tersedia sepanjang Jalan Prawirotaman, selanjutnya penulis kelenger dan tertidur pulas di kasur hotel yang empuk. keesokan hari setelah breakfast nasi goreng telur plus sambal dan juga krupuk, kami check out dan lanjut menuju the biggest budhist temple near from Jogja. Candi Borobudur semakin baik saja pelayanannya. Toiletnya bersih dan ada juga pengeringnya seperti hair dryer otomatis menyala, tiket untuk kami yang dalam rangka studi wisata berbeda dengan pengunjung biasa secara signifikan. Para pedagang menghampiri kami dengan semangat juang agar laku dagangannya. Demikian juga para pemilik warung mirip bakul pasar menawarkan makanan dan minuman.

Kami berada di Borobudur selama kuarang lebih dua setengah jam, lanjut makan siang di sebuah restoran dekat Borobudur dengan menu utama ayam bakar. Perjalanan lanjut ke pusat oleh-oleh dekat Bandara Adi Sucipto, peserta rombongan antusias sekali memborong oleh-oleh. ada bakpia geplak dan aneka makanan ringan lainnya, 30 menit alokasi waktu.

Perjalanan lanjut ke Pusat Grosir Solo yang mana peserta mbecak secara kolektif menuju pasar Klewer, mereka getol memborong batik dan jajan khas Solo karena jatah makan sudah habis maka peserta dihimbau oleh tour leader agar makan di parkiran depan pusat grosir. Berbagai panganan dijajakan mulai dari sate, bakso, pangsit mie, es degan, es dawet dan aneka makanan lainnya. selanjutnya kami pulang menuju Jember setelah kumandang adzan maghrib namun ada episode mencengangkan ketika melintas antara Ngawi-Caruban, salah seorang peserta mengalami gangguan sesak napas. penulis kebetulan berada di dekat peserta yang sesak napas kemudian mengarahkan agar panitia perempuan segera memberikan bantuan . keadaan semakin tegang karena peserta yang sesak nafas meminta agar bus berhenti beruntung tempat pemberhentian adalah SPBU yang berdekatan dengan apotik. Terjadi debat kusir selama proses pertolongan korban antara kami peserta rombongan panitia sopir bus dan hampir melibatkan amuk masa seandainya para pihak berdiri pada argumen masing masing, namun badai pasti berlalu peserta yang mengalami sesak nafas pulih setelah membuat tensi tinggi diantara kami dan diakhiri kata maaf karena membuat panik suasana.

Akhirnya sayonara perjalanan semakin singkat, sampai berjumpa pula di lain kesempatan, kami senang bertemu dengan anda. Belanjalah dan kuras kantongmu sampai habis.

Rabu, 07 Maret 2012

Mewah belum tentu istimewa

Memang bukan semangat saya untuk selalu berfoya-foya, tapi terkadang ada juga keinginan untuk mencoba, minimal menikmati beberapa hal mewah, semisal rokok Dji Sam Soe premium yang lebih dikenal dengan istilah 'reffil' atau 'nyruput' kopi luwak yang konon katanya punya kelas tersendiri di Eropa sana~jangankan di Eropa, di tanah air saja seakan jadi minuman khas para raja dengan harga yang seperti itu.

Meskipun pikiran saya memberontak dengan gagasan "tidak hanya para raja saja yang dapat menikmati keistimewaan dalam alam demokrasi" tapi kenyataan toh punya cerita lain, dan saya harus bersepakat dengan kenyataan. Jelata dalam sejarahnya selalu saja berada dalam bentuknya yang susah tanpa keistimewaan.

Kopi luwak per 100 gramnya bisa didapat dengan ongkos dua ratus ribu, sedang untuk Dji Sam Soe 'reffil' dengan harga sekitaran tiga belas ribu perbungkus, hal semacam ini sudah terlanjur mewah buat orang seperti saya yang biasanya juga menikmati segalanya dengan 'ala kadarnya'. Toh saya pun harus selalu berusaha menjadi orang yang beriman, saya dapati dari buku "Ikhlas Tanpa Batas" terbitan Zaman bahwasannya iman itu terdiri dari "separonya itu sabar dan separo yang lain adalah syukur".

Beruntung atau mungkin kebetulan saya dapat menikmati keduanya secara bersamaan, jadi semacam obat rindu untuk menikmati kemewahan ditengah kesempatan yang semakin sempit ini. Bahagia juga rasanya, sembari berharap dalam hati semoga kelak dapat terulang kembali hal yang sedemikian.

Ceritanya begini, karena kadung pinginnya menikmati hidup saya beli saja rokok Dji Sam Soe premium dengan sedikit uang honor bulan ketiga ditahun 2012 ini, ya sepulang kerja saya langsung menuju kios rokok dengan harapan yang berlebih untuk segera menikmati, setelah itu saya langsung pulang, waktu itu lagi "nggak pingin yang lain" hanya ingin bersantai di rumah dengan menghisap 'reffil'.

Belum sempat membuka bungkusnya sudah ditawari satu sasetan kopi bubuk oleh adik saya, bungkusnya dari kertas karton bergambar biji kopi dan seekor "luwak!", terkejut juga hati ini mendapatinya, terbayang pula sedap aromanya.

Sambil nunggu air mendidih saya sulut sebatang sam soe reffil, khas sensasinya meruang dalam sanubari para penikmat kretek seperti saya. Berselang kemudian setelah saya racik kopi luwak, saya duduk menyendiri di kamar, sedikit mencicipi kopi luwak yang sebelumnya 'menggeber' aroma khas dari cangkir saya. Nikmat, serasa menghadirkan surga kedalam kamar saya, inilah raja sehari pikir saya.

Ada keinginan untuk coba menikmati secara bersamaan, tidak akan saya sia-siakan hak istimewa yang kali ini saya dapatkan, hisap sam soe reffilnya bersambung dengan 'nyruput' kopi luwak. Rusak, sensasi kretek sekaligus aroma kopi hilang, tidak ada yang istimewa jadinya. Lewat begitu saja.

Saya coba lagi, tetap saja tidak ada yang istimewa. Selanjutnya saya pikir lebih baik dilakukan dengan cara bergantian, sensasi kenikmatan juga belum kembali, tetap sama, tidak ada yang istimewa.

Sadar saya seketika, percobaan pesta demokrasi telah menemui kegagalan dalam diri saya, sensasi kenikmatan kretek yang diwakili sam soe reffil dengan sensasi kenikmatan kopi luwak saling bertabrakan, tidak ada kesepakatan, masing-masing pihak berusaha untuk mendominasi tanpa ada rasa gotong royong dan asas musyawarah mufakat. Pun saya pikir memang~jika kembali pada keseharusan, demokrasi itu dibangun dengan kegotong royongan, bukan dengan upaya saling mendominasi dan saling jegal, jika itu terjadi maka rusaklah bangunan demokrasi itu.

Demikian dari pengalaman menikmati sensasi rokok kretek dan kopi luwak saya temukan bahwasannya segala yang mewah itu belum tentu istimewa, bisa jadi malah merusak nikmat keistimewaan itu sendiri. Salam.

Selasa, 06 Maret 2012

Refleksi pendidikan dari film Jepang

Sekali waktu saya pernah nonton film Jepang berjudul Crow Zero, saya tidak begitu paham dan hafal betul dengan aktor-aktor nya, disamping tidak pernah mengikuti perkembangan dunia perfilman, juga lantaran bukan hobi saya untuk nonton film, jadi wajar saja jika saya kurang mengerti tentang artis-artisnya, toh artis dan selebritis tanah air pun saya juga kurang mengenal.

Yang menarik dalam film ini adalah gambaran fantasi dari pemilik ide cerita~yang entah siapa, kabarnya dari sebuah komik seri, digambarkan suatu lingkup pergaulan pelajar yang serba bebas. Absurd memang (namanya juga film), sekolah yang prestasi siswanya ditentukan oleh kuatnya pukulan untuk usahanya masing-masing dalam menguasai lingkungan pergaulannya. Maka sering terjadi perkelahian dalam lingkungan sekolah tersebut.

Cerita berawal dari kehadiran seorang pelajar bernama Takiya Genji di sekolah Suzuran, anak seorang yakuza yang tertantang untuk menggantikan posisi ayahnya dalam organisasi dengan menaklukkan Suzuran sebagai sekolah 'keras'. Untuk melakukan penaklukkan tersebut, pelajar inipun harus menghadapi tantangan yang cukup berat, yaitu mengalahkan satu persatu penguasa di Suzuran dan yang pertama harus ia kuasai adalah kelasnya yang baru.

Berhasil dengan penguasaan kelasnya dengan mengalahkan pemimpin kelas yang dalam film ini adalah bernama Chuta, pelajar Genji pun mulai melakukan intrik dan diplomasi terhadap kelas yang lain, termasuk mencoba merekrut adik-adik kelasnya baik yang kelas satu maupun kelas dua.

Diplomasi awal berhasil dengan memulai persahabatan dengan pemimpin kelas 'C' yaitu Makise, tapi dengan kelas berikutnya, kelas 'D' pelajar Genji menemui kesulitan yang cukup berarti, pelajar Genji harus mati-matian dikroyok anak kelas 'D' hingga babak belur dan pingsan. Oleh kejadian ini, Izaki sebagai pemimpin kelas 'D' mulai menaruh simpati terhadap kegigihan Genji yang pada akhirnya mereka berdamai dan membentuk suatu koalisi berandal sekolahan yang mereka sebut "GPS".

Kehadiran kelompok "GPS" yang dimotori tiga raja kecil: Izaki, Makise dan Chuta yang berada dibawah kepemimpinan Genji cukup menarik perhatian 'sang raja sekolah' Serizawa bersama rekan-rekannya, Serizawa sendiri diceritakan memimpin kelas 'A' bersama Tokio, Tokaji dan Tsutsumoto, semuanya jago kelahi. Sedang kelas 'B' yang dikuasai Mikami bersaudara berhasil takluk dengan satu pukulan oleh Serizawa diawal cerita.

Terjadilah persaingan antar kedua kelompok ini, saling serang, berintrik dan mendominasi lingkungan Suzuran. Ya, hegemoni untuk merekrut pengikut dari kelas lain juga merupakan medan tempur yang hebat. Dan akhir dari persaingan ini adalah sebuah pertarungan yang dimenangkan oleh kelompok Genji.

Pada bagian kedua film ini tantangan lebih berat lagi, meskipun pada akhirnya kelompok Genji dan Serizawa berdamai tapi mereka harus menghadapi kekuatan dari luar lingkungan mereka. Tersebutlah Housen, sekolah yang juga diisi oleh berandalan yang suka berkelahi, bedanya jika di Suzuran adalah perkelahian jalanan sedangkan di Housen berisi pelajar yang gemar olah raga beladiri yang juga identik dengan kepala 'plontos' semacam kelompok 'skin-head' di Inggris tahun 70-an. 'Skin head' inipun sering dikabarkan suka berkelahi meskipun tidak terdapat dalam film ini.

Sesaat saya berpikir "apa ada sekolah macam itu di Jepang sana?" dan langsung saja saya jawab sendiri "bagaimana mungkin ada yang seperti itu?!", meskipun Jepang yang terkenal kejamnya saat datang ke tanah air, toh mereka juga masih punya 'unggah-ungguh' dan sangat disiplin dalam membangun pendidikan. Tidak akan mungkin ada sekolah semacam itu, saya yakin pemerintahan disana akan cepat tanggap hingga tidak muncul gejala-gejala yang mengarah kesana.

Sedang di tanah air, saya pikir mungkin saja. "Bagaimana bisa?", tentunya dengan terus memisahkan pelajar dari kesadarannya sebagai manusia, mengasingkan pelajar dari dirinya sebagai seorang manusia. Maka terbentuklah mental individualis pelajar hingga kesadarannya jatuh pada titik terendah yang menyamakan dirinya dengan hewan, bersaing dengan kekuatan otot tanpa kreatifitas untuk membangun lingkungannya secara sehat.

Tentang keadaan sekolah yang digambarkan dalam film inipun bisa saja muncul di tanah air, ketika guru membatasi perannya hanya sebagai seorang pengajar tidak lagi sekaligus sebagai seorang pendidik, sedangkan pendidikan berkarakter yang sedang gencar didengungkan hingga sampai saat ini hanya menjadi semacam 'kandang singa'~garang di dalam tapi tidak bertaji di luar. Dalam keadaan seperti ini sangat memungkinkan pelajar-pelajar Genji terlahir di Indonesia.



Awalnya mereka takut karena ada ancaman peraturan-peraturan yang terbatas, selanjutnya mereka sudah tidak lagi peduli dengan peraturan tersebut sebab merasa tidak ada pengaruh sama sekali terhadap dirinya. Sama halnya dengan pengendara kendaraan bermotor (yang nakal) dijalanan yang hanya mau tertib jika ada yang mengawasi: polisi. Hal demikian memungkinkan juga untuk memunculkan mentalitas penjilat bukan?.



Tidak ada salahnya Indonesia bercermin dari film negeri seberang ini, meskipun kirannya tidak akan lulus sensor jika ingin ditayangkan. Dan mendidik untuk membentuk karakter adalah sepenuhnya dengan membangun kesadaran, bukan semata dengan ancaman~telah kita sepakati dengan 'diam' bahwa ancaman adalah salah satu bentuk kekerasan dan mendidik dengan 'kekerasan' tidak akan berbuah apa kecuali 'kekerasan' pula.

Sabtu, 03 Maret 2012

kekerasan dalam varian budaya


Membicarakan kekerasan sama halnya dengan membicarakan sejarah manusia, sejarah selalu diwarnai dengan kekerasan, atau bahkan kekerasan itulah sejarah manusia yang juga diawali dengan kekerasan, sebagaimana kisah Habil dan Qabil yang cukup menggambarkan tindak kekerasan awal manusia terhadap sesamanya, berlanjut juga dalam epose Mahabarata. Dan bahkan kekerasan telah pula digambarkan sebelum manusia diciptakan.
Sesuai dengan Firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 30.

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Gambaran dimana malaikat mulai mempertanyakan penciptaan manusia yang mereka ketahui hanya akan berbuat kerusakan, seakan terdapat prediksi dari akibat-akibat perbuatan manusia yang memiliki catatan panjang tentang tindak kekerasan. Tapi, toh malaikat harus tunduk dengan jawaban yang cukup memuaskan: bahwa hanya Tuhanlah yang mengetahui rahasia maksud dari penciptaanNya.

Dari tulisan ini, bukan bermaksud untuk memvonis bahwasannya kekerasan adalah sifat dasarnya manusia. Bukan. Hal tersebut tidak manusiawi dan terlalu sederhana untuk memandang manusia yang kompleks. Pun dalam kajian ilmu sosial juga telah terdapat usaha untuk menganalisis kekerasan dari beragam sudut hingga sempat melibatkan ilmu psikologi bahkan biologi untuk mengkaji kekerasan.

Tulisan kali ini coba membedah kekerasan yang muncul dari varian-varian budaya yang memang cukup populer akhir-akhir ini, kemajuan teknologi tidak hanya mempermudah manusia dalam mengakses informasi tapi juga membuka jalan yang mudah bagi proses asimilasi dan akulturasi, yang juga tidak hanya membuka peluang persaingan antar ragam budaya, tapi juga telah memunculkan varian-varian budaya hasil refisi sekaligus adaptasi.

Ah, terlalu rumit, belum lagi terjawab persoalan kekerasan malah dibingungkan dengan pembahasan budaya, memang tidak cukup hanya dengan menyebut sub-cultur untuk budaya-budaya kecil, sebab pada kenyataannya dari sub-cultur tersebut telah pula memunculkan sempalan-sempalan yang dapatlah dikatakan serupa tapi tak sama.

Ambil contoh komunitas punk yang cukup digemari pemuda-pemuda liberal di jalanan, dari sub-cultur yang satu ini telah muncul beberapa sub lagi yang sejenis, seperti crusty punk, punk street, dan sebutan-sebutan lain untuk para pengagum musik dan gaya hidup impor ini. Lain waktu ada kemungkinan pemuda-pemudi kita menyumbang satu nama lagi, mungkin ndeso punk atau apapun untuk menyatakan anti kemapanan.

Kembali pada kekerasan, menurut perspektif sosiologis, kekerasan muncul dari kefrustasian, terhambatnya saluran-saluran untuk pemecahan suatu masalah. Tentu kita tidak harus selalu bersandar dengan pandangan seperti ini sebab sebagaimana ‘kejahatan’, kekerasan bisa saja terjadi karena adanya kesempatan.

Johan Galtung, seorang pakar kriminologi memiliki pendapat kekerasan terjadi bila manusia dipengaruhi sedemikian rupa sehingga realisasi jasmani dan mental aktualnya berada di bawah realisasi potensialnya. Dengan kata lain bila yang potensial lebih tinggi dari yang aktual, maka ada kekerasan. Realisasi potensial ialah apa yang mungkin untuk diwujudkan sesuai dengan tingkat wawasan, pengetahuan, sumber daya dan kemajuan yang dicapai oleh jamannya. Penyalahgunaan hal-hal tersebut untuk tujuan lain atau dimanipulasi oleh sekelompok orang berarti ada kekerasan.

Dari sini muncul penggunaan istilah kekerasan untuk menggambarkan suatu perilaku, baik terbuka, tertutup, menyerang maupun bertahan yang disertai penggunaan kekuatan terhadap orang lain. Kekerasan terbuka adalah kekerasan yang dapat dilihat, seperti perkelahian. Kekerasan tertutup adalah kekerasan yang tidak secara langsung, seperti mengancam. Kekerasan agresif adalah kekerasan yang dilakukan untuk mendapatkan sesuatu .Kekerasan defensive adalah kekerasan yang dilakukan untuk perlindungan diri(http://nilaieka.blogspot.com/2009/05/teori-kekerasan.html). Begitupun dengan kekerasan secara kolektif dan bentuk-bentuk terorisme. Jadi tidak lagi semata penggunaan kekuatan fisik, tapi juga efektifitas upaya-upaya pemaksaan gagasan dan nilai-nilai katakanlah upaya dominasi yang pada dasarnya hanyalah bentuk isolasi diri.

Dari sini muncullah asumsi yang membatasi kesadaran seseorang terhadap kemanusiaan, seakan hanya terbatas pada: ‘golongan kita’ dan ‘golongan bukan kita’ lebih jauh lagi dengan sebutan ‘golongan musuh’. Ini merupakan situasi yang sangat potensial bagi munculnya kekerasan, yang sekali lagi tidak hanya dalam bentuk fisik, tapi dalam beragam bentuk, bukankah dengan berkata-kata seseorang juga dapat melakukan kekerasan?.

Kecenderungan semacam ini tidak saja dimiliki oleh agen budaya yang dominan, tapi juga oleh sub-cultur yang muncul akibat ketidak sepakatannya dengan gagasan dan nilai-nilai yang ~ selalu saja dipaksakan oleh budaya yang dominan.

Untuk itu kiranya perlu mendiskusikan berulang-ulang tentang nilai-nilai, tentang baik dan buruk dengan tidak saling mengisolasi diri apalagi membebani dengan penggolongan-penggolongan yang pada dasarnya tidak manusiawi. Toh essensi manusia sama, yang berbeda hanyalah dalam superfisialnya saja tentang apa yang disenangi. Dan tak perlu untuk menciptakan permusuhan jika sekedar masalah senang dan tidak senang, dan upaya pemaksaan gagasan hanyalah tindakan ideologis yang mengingkari kemanusiaan.

Akhirnya adalah harapan untuk melaksanakan “bhineka tunggal ika, tan hanna dharma mangrwa” dengan semangat pluralism tanpa ada upaya untuk memanipulasi ke’bhinekaan’ itu sendiri. Salam punakawan berdaulat.

Minggu, 19 Februari 2012

Kepemimpinan Pancasila (Proses keteladanan dan ‘nation carachter building’)



            Manusia dalam kehidupannya akan selalu terlibat dalam organisasi, sebagaimana kodratnya yaitu sebagai makhluk individu sekaligus makhluk sosial, tidak dapat seorang manusia mampu menjalani hidupnya tanpa ada keterlibatan dari orang lain.
            Namun begitu, sungguh tak patut pula kiranya jika seorang manusia menggantungkan seluruh hidupnya kepada orang lain. Dapat pula dikatakan bahwasannya manusia selalu berada dalam bayang-bayang ketakutan hingga terdapat dorongan dalam dirinya untuk selalu terlibat dalam suatu organisasi, disinilah fungsi daripada organisasi bagi manusia, selain sebagai naungan manusia untuk meminimalisir rasa ketakutannya, pun juga untuk membuka saluran-saluran bagi kepentingannya.
            Figur pemimpin mutlak diperlukan dalam sebuah organisasi, tentu agar organisasi tersebut lengkap dan memiliki bentuk, seorang pemimpin akan menampilkan kesan dari ruang lingkup organisasi yang ia pimpin. Dan tidak ada satupun bentuk organisasi yang hadir tanpa seorang pemimpin, bahkan dalam suatu geng berandalan pun pasti terdapat seorang pemimpin.
            Lebih jauh dari itu, ada pendapat yang menyatakan “dalam suatu masyarakat yang buruk akan terlahir pemimpin yang buruk”, tentu secara logika dapat dibenarkan pendapat yang demikian, dimana lingkungan juga memiliki andil dalam membentuk karakter seseorang, untuk itulah akhir-akhir ini sering terdengar dari lingkungan pendidikan Indonesia tentang ‘pendidikan berkarakter’~inipun sebenarnya telah lama didengungkan oleh Ir. Soekarno tentang pembangunan watak manusia Indonesia merdeka yang sering ia sebut dengan istilah “nation carachter building”. Tapi toh pada kenyataannya sejarah mencatat bangsa ini sering terjebak dalam penafsiran tunggal atas Pancasila, selalu saja hampir terjebak dalam bentuk kolektivisme yang menyesatkan. Saya katakan ‘hampir’ sebab selalu juga bangsa ini terselamatkan dari keadaan yang demikian.
            Dalam era kepemimpinan Ir. Soekarno bangsa ini terjebak dalam demokrasi terpimpin yang lebih condong pada paham kiri (sosialis-komunisme), dimana terjadi penafsiran tunggal atas Pancasila, tidak lebih baik juga pada masa ORBA dibawah kepemimpinan Jenderal Purnawirawan Soeharto yang terang-terangan mengklaim pelaksanaan demokrasi Pancasila, pada masa ini Pancasila juga mengalami penafsiran tunggal dan nyata kesan doktrinernya lewat P4 yang kebablasan.
            Dengan begitu, adalah sangat penting bagi bangsa Indonesia yang telah bersusah payah memperkenalkan dirinya kepada masyarakat dunia sebagai bangsa yang ramah dan santun, untuk kembali berbenah.
            Dalam tulisan ini akan coba dipaparkan gagasan tentang penafsiran Pancasila untuk mengajak masyarakat Indonesia pada umumnya dan khususnya bagi generasi bangsa Indonesia, untuk kembali menggali secara kreatif nilai-nilai dalam Pancasila, tentunya dalam hati kecil penulis yang terlalu muluk-muluk berharap kita semua akan mampu menemukan bentuk jati diri kebangsaan kita yang telah lama dibangun. Tentu dari sini, keterlibatan langsung generasi bangsa Indonesia akan memberi arti lebih dalam dialog-dialog pencarian daripada diam dan mem’mbebek’ yang pada akhirnya hanya akan menjerumuskan diri pada jebakan-jebakan kolektivisme.

Pemimpin dan proses keteladanan kepemimpinan

“Tidak ada kemalangan paling sengsara
Sepanjang takdir manusia,
Kecuali ketika para penguasa di dunia
Tidak menjadi manusia unggul.
Jika itu terjadi, maka segalanya
Menjadi palsu, miring dan mengerikan”
(Nietzsche-Zarathustra)

            Potongan dialog diatas ditulis oleh seorang sastrawan yang juga telah diangkat menjadi seorang filosof yang beraliran eksistensialisme, dalam potongan dialog tersebut dapat ditangkap keresahan akan suatu waktu, dimana manusia mulai bingung karena tidak lagi dapat menemui figur pemimpin. Tentunya yang dibutuhkan dunia sekarang ini adalah manusia-manusia unggul. Bukan saja itu diharuskan bagi para jelata, tapi yang terutama adalah jiwa manusia unggul yang ada dalam diri para pemimpin bangsa.
            Bagaimana mungkin suatu bangsa dapat mengikuti ataupun berada dalam naungan suatu kepemimpinan yang tidak dapat diandalkan, tidak memiliki keunggulan dalam kepemimpinannya atau bahkan memiliki kualitas kepemimpinan yang lebih rendah dari yang dipimpinnya, semua itu hanya akan menempatkan suatu bangsa pada keadaan yang berbahaya.
            Tentunya membicarakan hal demikian adalah terlampau jauh, membicarakan nasib suatu bangsa seperti melamunkan masa depan dan cita-cita kebangsaan yang masih juga diraba-raba keberadaannya. Kita tentu hanya bisa berupaya mempersiapkan sebuah generasi yang memiliki nilai lebih dari generasi sebelumnya sekaligus memunculkan figur-figur pemimpin masa depan. Mungkin juga ini terlalu ngawur, tapi tidak ada salahnya untuk memulai membicarakannya, toh kita sedang berusaha untuk selalu berbenah dan figur-figur pemimpin akan muncul melalui gemblengan di ruang-ruang pendidikan. Dan pada dasarnya manusia adalah pemimpin, terutama sekali disini adalah memimpin dirinya sendiri.
            Sebagaimana kata pepatah, untuk merubah dunia maka harus berani merubah diri sendiri, tentu dengan berbenah dan senantiasa melakukan introspeksi. Baik atau buruknya kepemimpinan seseorang akan selalu terkait dengan moralitasnya, jadi klarifikasi terhadap rekam jejak tentu menjadi hal terpenting dalam menentukan figur pemimpin, dengan begitu membangun karakter kebangsaan akan jadi hal utama dalam proses pendidikan dan dalam hal ini sangatlah diharapkan keterlibatan pelajar dalam dialog terbuka.
            Terdapat beragam konsep kepemimpinan yang semuanya mencita-citakan suatu kepemimpinan yang baik, dari yang klasik seperti konsep kepemimpinan Hasta brata yang membicarakan sifat yang harus dimiliki seorang pemimpin lewat gambaran delapan sifat alam,  ataupun Catur Paramitha (klik link artikel) yang berangkat dari ajaran Hindu yang merupakan landasan atau pedoman untuk melaksanakan ajaran susila atau etika.
            Hingga konsep yang sengaja diimpor untuk memperkaya pemikiran tentang kepemimpinan sebagaimana model kepemimpinan visioner dan kepemimpinan passioner. Konsep kepemimpinan visioner berangkat dari istilah visi yang berarti kemampuan untuk melihat inti persoalan, pandangan, wawasan dan pengamatan. Visi melibatkan logika dan intuisi, pikiran dan perasaan, pengalaman masa lampau dan kemungkinan masa depan.
            Secara umum, ada tiga macam visi yang seringkali dipakai dalam kepemimpinan, yaitu: 1). Visi tentang masa depan yang mungkin terjadi; 2). Visi masa depan yang diinginkan, dan; 3). Visi masa depan yang baik atau yang hancur.
            Dengan begitu konsep ini banyak menuntut keterlibatan baik anggota maupun pengalaman untuk merumuskan suatu pandangan dan tujuan.
            Konsep passioner adalah kepemimpinan yang mengandalkan kekuatan passi yang diartikan sebagai cinta, motivasi, inspirasi dan perhatian.
            Kepemimpinan passioner cenderung menumbuhkan kecintaan dan pembelaan (fanatik) dari yang terpimpin pada sang pemimpin. Meskipun perpaduan antara dua konsep kepemimpinan ini memiliki kekuatan yang hebat, perpaduan antara keduanya juga memiliki kerawanan, sebab pada dasarnya keduannya juga memiliki sudut pandang yang bertolak belakang satu sama lain.
            Dari sini dapatlah diungkapkan bahwasannya figur pemimpin yang diharapkan tidaklah cukup hanya dengan kepandaiannya berorganisasi atau sekedar memiliki pengetahuan yang memadai untuk memimpin, tapi juga dibutuhkan pemimpin yang mampu memberi keteladanan bagi yang dipimpinnya. Dengan kata lain, pengetahuan tanpa kemampuan untuk bertindak adalah percuma, belajar tanpa adanya perubahan tingkah laku adalah percuma. Ibarat pohon yang tiada berbuah.
            Kembali lagi, dimana pada dasarnya manusia terlahir untuk memimpin, terutama adalah memimpin dirinya sendiri, terkait bagaimana ia mewakili dirinya dihadapan masyarakat yaitu bagaimana ia menempatkan segala sesuatunya dengan baik dan benar, terutama disini menempatkan dirinya dengan baik dan benar.
           
Membangun karakter kebangsaan
            Pancasila merupakan suatu gagasan tentang suatu tatanan masyarakat yang diimpikan dari berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia, ia adalah tujuan dibentuknya Negara Indonesia. Terlepas dari tercapai atau tidaknya tujuan tersebut, pada dasarnya bangsa Indonesia akan selalu melakukan dialog untuk mencapai suatu kesepakatan bersama dengan berpedoman pada nilai-nilai Pancasila.
            Dalam catatan sejarah perkembangannya Pancasila selalu tidak lepas dari upaya penyimpangan yang tentunya melalui penafsiran tunggal, dimana dalam upaya penafsiran tersebut diakui atau tidak juga terdapat unsur pemaksaan suatu gagasan orang seorang kepada masyarakat, yang secara langsung juga telah mencederai Pancasila itu sendiri.
            Hal ini terjadi karena Pancasila sendiri sebagai dasar negara dan falsafah bangsa memiliki nilai-nilai universal yang sangat mungkin untuk ditafsirkan dan dikembangkan. Sebagaimana juga telah diakui oleh pemikir sekelas Gus Dur bahwa ini terjadi karena Pancasila tidaklah diciptakan sebagai tuntunan operasional secara detail dan rigid. Pancasila menyediakan ruang dasar-dasar yang perlu dikembangkan, yang satu sama lain saling terkait dan tidak boleh ditinggalkan. Dalam perkembangan inilah terjadi perbedaan-perbedaan, dan ini wajar saja sesuai dengan perkembangan demokrasi yang berjalan di negara Indonesia.
            Untuk itulah perlu adanya dialog dalam setiap penafsiran Pancasila, yang mana oleh Gus Dur disebut sebagai ketegangan kreatif yang tidak perlu ditutup-tutupi oleh siapapun, yang tentunya diharapkan tidak menimbulkan saling permusuhan dan bertolak belakang. Ketegangan kreatif itu artinya suatu sikap kelapangan dada dan toleransi dalam lalu lintas kebangsaan yang kreatif untuk kemajuan dan mengembangkan kualitas bangsa Indonesia.
            Tentu suatu harapan dimana dalam suatu masyarakat yang baik akan memunculkan pemimpin yang baik, sebab lingkungan memiliki peran yang cukup besar dalam membentuk watak seseorang, dan sangat perlu kirannya untuk kembali menggali nilai-nilai Pancasila yang juga merupakan cita-cita berbangsa. Dengan begitu sangatlah penting untuk membentuk tatanan kemasyarakatan yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, tentunya dengan keteladanan kepada masyarakat tentang nilai-nilai Pancasila. Disini dapat diutarakan sekali lagi, bahwa belajar tanpa adanya perubahan tingkah laku adalah sama halnya dengan pohon yang tiada berbuah.
            Terkait dengan masalah kepemimpinan Pancasila yang mana adalah kepemimpinan yang membawa masyarakat dalam kesadaran berbangsa dan bernegara berdasarkan Pancasila dan UUD’45.
            Untuk itu perlu juga disertakan pandangan Ir. Soekarno tentang Pancasila, dimana Pancasila menurut Ir. Soekarno dapat disederhanakan menjadi trisila: 1). Sosiodemokrasi, dimana pelaksanaan demokrasi yang tidak hanya mengurusi kehidupan politik semata, tapi juga kehidupan ekonomi dan sosial budaya; 2). Sosionasionalisme, yaitu nasionalisme yang tidak hanya semata mencintai tanah air dan bangsanya, tetapi lebih mendasarkan diri pada kecintaan terhadap rakyat jelata; 3). keTuhanan yang merupakan pernyataan tegas bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang beragama. dan dari tri sila ini dapat pula disederhanakan menjadi eka sila yaitu gotong royong.
            Inilah inti dari Pancasila yang menekankan kegotong royongan daripada perpecahan, lebih jauh daripada itu, sebagaimana amanat sila kemanusiaan yang adil dan beradab, dimana kesadaran diri sebagai seorang manusia adalah yang terpenting untuk kemudian berlaku adil, tentu keadilan tidak akan dapat terwujud tanpa adanya kesadaran akan kemanusiaan.
            Terutama sekali adalah adil terhadap diri sendiri dengan memperlakukan diri sebagai manusia yang juga memiliki kelemahan, misalnya: manusia itu bisa merasakan lapar atau kantuk, maka jika lapar ya harus makan dan tidur ketika mengantuk. Setelah itu adalah adil terhadap sesama dengan memperlakukan orang lain sebagai manusia yang juga memiliki kelemahan, misalnya kalau dipukul itu sakit ya jangan memukul, kemudian pula adil terhadap Tuhan, dengan melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya untuk mencapai manusia yang beradab.
            Dengan begitu, pemimpin yang besar adalah mereka yang bisa menerima dan mengorganisir semua manusia (yang dipimpinnya) dengan apa adanya atau katakanlah seorang pemimpin besar adalah mereka yang mampu dan mau memanusiakan manusia, tentu terutama dengan memanusiakan diri sendiri, tidak akan mungkin dapat memanusiakan orang lain tanpa ada kesadaran diri sebagai seorang manusia.

            Homogenitas masyarakat Indonesia yang memiliki corak kebhinekaan, baik etnis, suku, budaya, maupun keragaman dalam politik dan ekonomi, hal ini memungkinkan sekali untuk memunculkan pola pikir yang mementingkan kelompok atau primordialisme dan sulitnya penyesuaian terhadap nilai-nilai baru. Oleh karena itu.
Dalam pada itu perlunya pembangunan karakter kebangsaan dengan menggali kembali nilai-nilai Pancasila untuk membangun tatanan masyarakat yang berbudaya dan berkualitas sesuai dengan cita-cita bangsa. Dan dalam masyarakat yang baik senantiasa akan mencetak pemimpin yang baik yang tentunya dengan membangun suatu tatanan masyarakat yang baik.

Daftar Pustakanya
Friedrich Nietzsche. 2008. Zarathustra. Yogyakarta: Quills Book Publisher.
Nur Khalik Ridwan. 2010. Gus Dur Dan Negara Pancasila. Yogyakarta: Tanah Air.
M.N. Ibad. 2010. Leadership Secrets of Gus Dur-Gus Miek. Yogyakarta: Pustaka Pesantren.
Dr. Franz Magnis-Suseno. 2001. Kuasa dan Moral. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.


Sabtu, 21 Januari 2012

Renungan Kerja


Akhir-akhir ini saya sering mendapati keluhan orang, entah memang sengaja diceritakan atau ketika mencuri dengar pembicaraan orang, keluhannya umum tapi ‘urgent’ yaitu masalah pekerjaan, saya kata umum sebab inilah permasalahan pada umumnya orang-orang dan memang dari jaman saya sekolah, kebingungan orang selalu saja berputar pada masalah pencarian rejeki ataupun jodoh.

Dua tema inilah yang kerap jadi persoalan yang sangat mungkin dibawa-bawa disetiap do’a permohonan kepada Sang Pencipta. Semoga saja Tuhan tidak bosan mendengar permohonan yang sebenarnya adalah urusan rahasia milikNya.

Terlepas dari itu semua, pada dasarnya memang telah terjadi pendangkalan makna yang bukan hanya menyangkut rejeki dan jodoh, tapi bahkan (mungkin) juga agama, atau bahkan Tuhan pun telah didangkalkan? Iya atau tidak, kita bahas lain waktu, harus ada kesiapan moral untuk menulisnya, cukuplah kini tentnag rejeki. Untuk inipun harus didangkalkan dulu biar tidak terlalu ‘muluk-muluk’ atau “terlalu idealis”.

Rejeki menjadi dangkal maknanya ketika dibatasi lingkupnya, ketika faham materialism menyediakan ruang sempit tentang orientasi finansial, dan rejeki berputar-putar pada permasalahan kerja/pekerjaan, sedangkan kerja/pekerjaan sendiri juga telah mengalami pendangkalan makna.

Hakikatnya kerja memanglah untuk mencukupi kebutuhan hidup, manusia mengolah alam atau mengerjakan alam untuk kemudian dapat mereka manfaatkan, contoh gampangnya ya bertani, mengolah alam menjadi lahan pertanian yang hasilnya tentu untuk kebutuhan makan. Lebih jauh dari itu. Pekerjaan, ialah kegiatan khas manusia yang merupakan makhluk ganda yang aneh, disatu sisi sebagai makhluk alami sebagaimana binatang yang membutuhkan alam untuk hidup sekaligus disisi lain manusia dihadapkan dengan alam sebagai sesuatu yang asing~alam harus diolah dulu, lebih dari itu harus menyesuaikan alam dengan kebutuhan-kebutuhannya.

Bagi Karl Marx, kerja/pekerjaan adalah suatu proses yang menghasilkan, lebih jauh, berikut pandangan Marx tentang bagaimana pekerjaan membenarkan diri manusia dan hakikat sosial manusia.

“Andaikata kita berproduksi sebagai manusia (artinya, secara tidak terasing): masing-masing dari kita dalam produksinya membenarkan diri sendiri dan sesama secara ganda. Aku dalam produksiku mengobjektifkan individualitasku, kekhasanku, maka waktu melakukan kegiatan kunikmati… dalam memandang objek, kegembiraan individual bahwa aku mengetahui kepribadianku sebagai kekuatan objektif yang dapat dilihat secara inderawi, tidak dapat diragukan. Dalam nikmatmu atau pemakaianmu atas objekku aku langsung menikmati kesadaran bahwa dalam pekerjaanku aku memenuhi kebutuhan sebagai manusia dan karena menciptakan objek yang sesuai dengan kebutuhan manusia lain, aku menjadi perantara antara engkau dan umat manusia, jadi bahwa aku dibenarkan dalam pikiranmu maupun dalam cintamu, bahwa dalam ungkapan hidup individualku aku langsung menciptakan ungkapan hidupmu, jadi bahwa dalam kegiatan individualku aku langsung membenarkan dan merealisasikan hakikatku yang benar, kemanusiaanku, kesosialanku”1

Marx juga memandang bentuk keterasingan manusia dari pekerjaannya adalah ketika manusia tidak memiliki hasil pekerjaannya tersebut, gambaran kasarnya sudah terlalu banyak di Indonesia, sebagaimana buruh pabrik sepatu yang memproduksi sepatu untuk kemudian dijual baik di negeri sendiri maupun di luar negeri dengan merk tertentu yang ‘made in’ luar negeri. Atau produksi-produksi lainnya, toh bangsa kita yang memproduksi tanpa ada “alih teknologi” (maaf sedikit sartire). Manusia menjadi terasing dari dirinya karena ia terasing dari pekerjaannya, makna pekerjaan disini jadi semata untuk bertahan hidup, inilah bentuk keterasingan menurut Karl Marx, dimana manusia sama sekali tergantung kepada para pemilik alat produksi, bahkan di Indonesia banyak yang tergantung pada pemilik ‘brand’.

Dari sini dapat dipahami pendangkalan makna rejeki yang hanya terbatas pada suatu lingkup makna saja, yaitu orientasi finansial. Kiranya, kita pun tidak hanya membatasi maknanya hanya sampai disitu. Ada cerita ketika saya berjualan buku ke pesantren-pesantren di Singosari, bersama seorang teman senasib seperjuangan, Wahyu Nugroho, suatu ketika ada pesanan buku lewat SMS dari seorang ustad, tidak banyak, hanya dua judul dan karena masih berupa usaha rintisan maka mau tidak mau harus diantar dua buku itu. Muncul kesadaran ketika sedang ngobrol disebuah warung kopi di pasar Singosari, dimana memang laba dari hasil penjualan dua judul buku tadi hanya cukup buat ongkos ngopi dan beberapa ‘gorengan’, tapi dari ‘jelajah pesantren’ ini pula kami mendapat banyak masukkan ilmu.

Lebih jauh lagi, tentang etos kerja yang diajarkan dalam Islam, ada dua syarat yang menjadi ukuran bekerja dengan benar dalam Islam: pertama, benar dari aspek niatnya dan kedua dari aspek pelaksanaannya. Tentu, niat yang baik agar tidak menjadi beban bagi orang lain, dan tentunya dengan cara yang baik pula, bukan dengan mencuri, merampok bahkan korupsi.

Dalam pandangan Islam, ada dua masalah yang perlu mendapat perhatian dalam melaksanakan pekerjaan (tahsilul amal). Pertama, pekerjaan itu disebut ‘amalan masru’ (pekerjaan yang dibenarkan oleh syariat). Meskipun dilakukan dengan ikhlas, tetapi pekerjaan itu mencuri maka tidak dianggap benar menurut syara’. Kedua, pekerjaan itu tidak sampai mengganggu tugas-tugas yang diwajibkan oleh Allah seperti shalat dan puasa.2

Dan bukankah rejeki tak semata berupa materi? Dalam hal ini, sebagaimana kisah saya bersama teman saya, ilmupun juga rejeki (ngg’perlu mondok untuk menyerap ilmu dari para ustad, dan untuk hal ini saya wajib bersyukur). Lebih dari itu, senantiasa untuk diusahakan memaknai kerja sebagai ibadah, kerja bukan untuk siapapun dan bukan untuk apapun melainkan untuk Allah. Pun juga ada baiknya untuk tidak memanfaatkan hal ini demi mengkerdilkan atau bahkan menelikung pekerja, misalnya ketika suatu perusahaan tidak mau membayar upah lebih kepada pekerjanya, perusahaan menyarankan pekerjanya untuk mensyukuri apa yang telah mereka peroleh.

Sebagaimana yang dikatakan dalam Al-Quran: Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezeki kepadanya. (QS. al-Hijr (15) : 20)

(1)    Franz Magnis-Suseno, Pemikiran Karl Marx; Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionis (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2001) hlm.  94
(2)    M. Ainul Yaqin, Nilai-nilai Ibadah Dalam Bekerja (Malang: Buletin Imamah edisi: XV/Shafar/1433 H.)
(3)    Al Quran, Surah Al-Hijr (15):20